Pilihan Yang Tepat

Pilihan Yang Tepat
Tetaplah Menjadi sholehah


__ADS_3

"Andai dengan membayar penalti masalahnya bisa beres, mungkin tidak akan terjadi pernikahan,"


"Apakah mereka tidak menerima uang penalti?" tanya Radit.


"Pak Bian akan merasa tidak punya harga diri sebagai pimpinan kalau dia membatalkan kontrak kerja samanya," lirih Mikha.


"Andai saja kerja sama itu bisa di over alih ke perusahaanku, aku akan dengan senang hati menerimanya dan menjadikanmu istriku selamanya bukan hanya untuk sementara," ucap Radit menatap Mikha dengan penuh ketulusan.


"Kalau saja bisa begitu aku juga tidak akan sesakit ini Dit," lirih Mikha mengalihkan pandangannya.


Radit memeluk Mikha dan membiarkan kepala Mikha bersandar di dadanya. Terlihat sudah tidak ada semangat dalam diri Radit. Tatapan matanya kosong, Radit sangat menyesal telah membuang waktunya selama ini. Andai saja dulu dia tidak menjadi pengecut dan takut akan sebuah penolakan dari Mikha. Andai saja dulu dia berani memberikan Mikha kepastian dan mengajak Mikha serius menuju hubungan pernikahan mungkin rasanya tidak akan sesakit ini. Radit menghela nafas, menahan air mata yang masih mengantung di pelupuk matanya.


"Apa tidak ada jalan lain?" tanya Radit dan Mikha menggelengkan kepalanya.


"Apapun yang terjadi kita akan menghadapinya bersama!" ucap Radit berusaha menguatkan Mikha.


"Aku hanya butuh dukungan kamu untuk menguatkan aku," lirih Mikha.


"Aku akan selalu mendukung dan melindungi mu,"


"Apa yang harus aku lakukan setelah aku menikah dengannya apa aku harus menjadi istri-istri pada umumnya yang melayani suaminya? Sedangkan pernikahan aku dengannya hanya sebatas kontrak kerja sama saja," tanya Mikha polos dan berhasil membuat dada Radit bergetar hebat.


"Tetapi pernikahan kalian itu sah di mata hukum dan agama, jadi jalani lah dengan sebenar-benarnya. Seperti biasa, kamu harus memberikan yang terbaik apapun yang kamu bisa. Tetaplah menjadi sholehah dengan terus menghormatinya. Tak perlu harus memaksakan agar terlihat sempurna, karena apapun yang kamu lakukan dengan penuh cinta dan ketulusan itu akan membuatmu terlihat berbeda dan itu yang akan menjadikanmu lebih istimewa," ucap Radit dengan mantap.


"Aku akan selalu berusaha menjadi yang terbaik Dit, hanya saja dulu aku sering membayangkan betapa indahnya menjalani sebuah pernikahan dengan orang yang aku cintai dan mencintai aku, melewati hari-hari bahagia ditemani seseorang yang aku cintai, apalagi jika hadirnya sang buah hati pasti kebahagiaan yang sesungguhnya akan semakin melengkapi," lirih Mikha.


"Setelah pernikahan itu terjadi, kamu harus berusaha mencintai Fabian agar kamu bahagia dan lebih bersemangat menjalani hari-hari yang kamu lewati bersamanya," ucap Radit menyeka air mata yang lolos dari pelupuk matanya tanpa Mikha ketahui.

__ADS_1


"Apa kamu akan menjauhiku setelah aku menikah?" tanya Mikha polos dan membuat Radit terdiam sejenak.


"Pertanyaan itu seharusnya buat kamu, Mikha," ucap Radit mencubit pipi Mikha dan membuat Mikha terkekeh.


"Tetaplah menjadi sahabat yang paling nyaman dan bisa menenangkan Radit!" pinta Mikha.


"Pasti, apakah selama ini kita bersahabat?" tanya Radit penasaran dengan apa yang ada dalam pikiran Mikha.


"Ya, tentu. Tetapi kita lebih terlihat sepasang kekasih yang lagi berkencan di taman kalau dilihat dari belakang ya?" kekeh Mikha.


"Anggap saja begitu," ucap Radit.


"Mana bisa," balas Mikha.


"Kenapa enggak? Kalau sudah menjadi Nyonya Fabian mana bisa begini," ucap Radit.


"Berusahalah untuk membuat Fabian tidak menemui lagi Alena!"


"Mana mungkin bisa," ucap Mikha yakin.


"Bisalah, dia sudah menjadi hak kamu setelah menikah,"


"Tetapi perjanjiannya tidak begitu Dit,"


"Tidak ada perjanjian apapun dalam suatu pernikahan kecuali janji untuk saling menjaga, setia dan selalu mencintai dengan sepenuh hati,"


"Tetapi Dit, dia hanya mencintai Alena bahkan menikahi ku juga itu atas perintah Alena," gerutu Mikha dan berhasil membuat Radit kesal mendengarnya.

__ADS_1


"Itu sekarang, akan beda ceritanya, akan beda perasaanya setelah dia menikah denganmu," ucap Radit meyakinkan Mikha.


"Buat apa kalau ujug-ujungnya dia akan tetap menceraikan aku," lirih Mikha.


"Kalau dia sudah mencintaimu, dia tidak akan menceraikanmu Mikha," ucap Radit menatap Mikha.


"Dia tidak akan pernah mencintai aku,"


"Dia harus mencintai istrinya,"


"Tetapi bukan istri sementaranya," balas Mikha.


"Jangan bicara seperti itu!"


"Kenyataannya memang begitu,"


Radit menghela nafasnya, "Kamu tenang saja, aku akan menerima jandamu kalau dia menceraikanmu," kekeh Radit.


πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Terima kasih sudah berkenan membaca dan memberikan like nyaπŸ™


tanpa suport dan rasa penasaran kalian terhadap cerita ini mungkin ceritanya tidak akan berlanjut sampai detik ini.πŸ€—


Terima kasih readers telah setia membaca di Bab 60 nanti akan ada surprise dari author buat readers yang rajin koment setiap babnya ya😘😘😘..


πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€— sampai ketemu di episode berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2