
Ting ... tong
Ting ... tong
Suara bell rumah berbunyi. Mikha dengan celemek masih menempel di tubuhnya segera melangkahkan kaki untuk membuka pintu.
"Kok sudah datang, kan masih sore," ucap Mikha sedikit kaget.
Fabian sengaja datang ke rumah Mikha lebih awal, selain untuk menjemput Mikha, dia juga ingin meminta maaf karena merasa bersalah telah membuat Mikha ketakutan saat Fabian melajukan mobilnya tadi siang.
"Memangnya kenapa?"
"Saya belum siap-siap, masuk dulu deh!" jawab Mikha seraya melangkahkan kakinya kembali ke dapur diikuti oleh Fabian.
"Mau ngapain Bapak ikutin saya ke dapur?" tanya Mikha sedikit menghentakan kakinya.
"Ya terus saya harus dimana? Lagian kamu lagi masak apa?" tanya Fabian.
"Saya lagi buat chocolate cheese cookies," ucap Mikha seraya memasukan adonan ke dalam oven.
"Banyak banget," ucap Fabian.
"Saya malu berkunjung ke rumah Bapak tanpa membawa buah tangan," ucap Mikha seraya menyusun cookies matang dan dingin ke dalam toples yang telah Mikha siapkan.
"Kamu mau mencuri perhatian nenek dengan membuatkan makanan keskaan nenek ya?"
tuduh Fabian membuat Mikha terdiam sejenak.
"Mana saya tau ini makanan kesukaan nenek,"
"Jadi kamu tidak tau?"
"Tidak," jawab Mikha singkat.
"Nenek selalu memakannya di sore hari ditemani dengan teh hangat," ucap Fabian.
"Ya, itu sangat cocok," balas Mikha seraya menuangkan adonan cair ke dalam wajan yang bulat dengan cekatan.
"Kamu buat apalagi?" tanya Fabian penasaran.
"Martabak," jawab Mikha singkat.
"Hmmm, kali ini mau mencuri perhatian mama ya?" tuduh Fabian.
__ADS_1
"Buat apa mencuri perhatian bu Rena?"
"Ya, biar kamu disayang sama mama," jawab Fabian sekenanya.
"Tanpa membawa makanan kesukaannya pun, beliau sudah sayang sama saya," ucap Mikha.
"O," balas Fabian seraya menaikan kedua alisnya karena Fabian menyadari, bu Rena memang sangat mnyayangi Mikha.
Fabian tidak mengalihkan pandangannya dari Mikha, ada rasa kagum di hatinya melihat Mikha yang sangat cekatan menggunakan peralatan dapur. Mikha terlihat pandai dalam segala hal, hati Fabian benar-benar tersentuh melihat kenyataan bahwa Mikha sedang berusaha membuat makanan yang enak untuk dibawa ke rumahnya dengan cantik tangannya menaburkan kacang dan ketan hitam yang sudah matang kemudian mengambil satu bagian martabak dan menutupkannya di atas bagian yang telah diberi toping.
Mikha memotong-motong martabak dengan ukuran sedang dan menyajikannya di wadah cantik yang telah Mikha siapkan. Diam-diam Fabian tersenyum melihat kenyataan di hadapannya.
"Saya bersiap dulu ya Pak, sebaiknya Bapak jangan menunggu di dapur! Kalau mau ke kamar mandi Bapak bisa menggunakannya di kamar mandi yang berada di ujung sana, di sana juga ada mushola untuk Bapak melaksanakan shalat maghrib," ucap Mikha seraya menyimpan rapi cookies dan martabaknya.
"Terus itu cookisnya kalau gosong gimana?"
"Tidak akan, nanti juga mati sendiri," jawab Mikha.
"Kalau sudah mati, kemana aku harus memasukannya?"
"Biarkan saja dulu, itu bukan untuk di bawa ke rumah Bapak," ucap Mikha melangkahkan kakinya meninggalkan Fabian sendirian di dapur.
****....****
Satu jam sudah Fabian menunggu Mikha bersiap. Fabian membulatkan matanya ketika melihat penampilan Mikha yang begitu cantik. Dress berwarna biru dengan lengan panjang model balon membuat dia terlihat sopan dan elegan, rambut curly yang sengaja ia gerai semakin membuat Mikha terlihat lebih anggun.
"Tidak apa-apa, ayo!" ajak Fabian seraya mengambil alih buah tangan yang berada di tangan Mikha.
Mikha mengikuti langkah Fabian dan masuk ke dalam mobil.
****....****
Bu Rena terlihat gelisah mondar-mandir di depan teras sedang menanti kedatangan Mikha, kali ini Mikha datang ke rumah bu Rena sebagai calon menantu bukan sebagai Asisten ataupun Sekretaris.
Sejujurnya Bu Rena tidak pernah menyangka Mikha akan menjadi menantunya, selama ini bu Rena hanya fokus mencari cara supaya Fabian segera mengetahui kebusukan Alena dan menjauhkan Fabian dari Alena dengan menyetujui saran dari nenek, yaitu membuat Fabian menikahi Clara namun takdir berkata lain Fabian malah memilih untuk menikahi Mikha sedangkan bu Rena pun tahu, Fabian dan Mikha tidak sedang menjalin hubungan yang istimewa.
Apapun alasan Fabian menikahi Mikha untuk sementara bu Rena tidak memikirkannya yang penting Fabian jauh dari Alena dan bu Rena sangat yakin Mikha adalah pilihan yang tepat untuk Fabian.
Suara deru mesin mobil milik Fabian terdengar semakin dekat dan membuat mata bu Rena berbinar dan terlihat lega. Bu Rena memberikan senyum penuh cinta dan kerinduan saat kedatangan Mikha, Mikha segera mencium tangan bu Rena sementara tangan kiri terlihat kerepotan membawa buah tangan untuk bu Rena dan nenek. Bu Rena merangkul Mikha ke dalam pelukannya seperti ada kerinduan di matanya layaknya seorang Ibu yang sangat merindukan anaknya.
"Ibu sehat?" tanya Mikha.
"Alhamdulillah Mikha, kamu apa kabar? Sudah lama kita tidak ketemu," ucap bu Rena seraya menggandeng Mikha untuk segera masuk ke dalam rumahnya sementara Fabian mengikuti langkah mereka dari belakang.
__ADS_1
"Mereka terlihat sangat akrab," ucap Fabian dalam hati saat mendengar obrolan Mikha dan bu Rena.
"Bu ... Mikha sudah datang," ucap bu Rena kepada ibunya yang sedang duduk di ruang keluarga dan sedari tadi menunggu kedatangan Mikha.
Mikha tersenyum segera menghampiri nenek dan mencium tangannya. Pertemuan pertama nenek dengan Mikha langsung membuat nenek jatuh cinta atas pilihan cucunya.
"Nenek, apa kabar?" sapa Mikha ramah.
"Kabar Nenek baik. Mikha kamu sungguh sangat cantik dan sopan, pantas saja Fabian menolak untuk nenek nikahkan dengan temannya di Amerika ternyata Fabian punya pilihan sendiri dan nenek yakin kamu pilihan yang tepat untuk Fabian," ucap nenek terlihat pancaran kebahagiaan di matanya.
Sebelumnya bu Rena sering bercerita tentang sosok Mikha yang selama ini punya peran dalam mengembangkan perusahaan, jadi nenek sebenarnya sudah mempunyai gambaran mengenai karakter Mikha.
"Terima kasih nek, mohon doa dan restu untuk hubungan kita kedepannya ya Nek!" balas Mikha dan Fabian sangat jelas mendengarnya membuat ia menyunggingkan senyumnya.
"Mikha benar-benar langsung bisa memikat hati nenek yang keras," ucap Fabian dalam hati.
"Nenek akan selalu mendoakan kalian dan sangat merestui hubungan kalian,"
"Terima kasih Nek," ucap Fabian seraya tersenyum.
"O iya Nek, ini aku bawain cookies. Pak Bian bilang, cookies ini cemilan favorit Nenek, Nenek cobain ya!" ucap Mikha seraya memberikan cookies buatannya dan nenek segera menerimanya.
"Pasti enak Nek, itu buatan Mikha sendiri loh," ucap Fabian.
"Nenek cobain ya!" ucap nenek seraya memakan cookiesnya.
"Ini martabak ketan hitam favorit Ibu," ucap Mikha seraya memberikan martabak itu ke bu Rena.
"Ah, terima kasih Mikha. Mama selalu merindukan martabak buatanmu ini," ucap bu Rena membuat Mikha sedikit kaget karena bu Rena menyebut panggilanya menjadi mama.
"Ah iya, kamu jangan panggi Ibu ya panggil saja mama seperti Fabian!"
"Iya, Ma," ucap Mikha dan membuat bu Rena tersenyum.
"Bu, jangan terlalu banyak makan cookiesnya! Kita belum loh makan malamnya," ucap bu Rena terkekeh saat melihat nenek Fabian sangat menikmati cookies buatan Mikha.
"Iya ini cookies yang terakhir," nenek menunjukan cookies yang tinggal setengah.
"Sisanya simpen di kamar Nenek ya!" lanjut nenek seraya berdiri dan melangkah menuju ruang makan.
"Ayo kita makan malam!" ajak nenek.
"Simpan dulu martabakmu!" perintah nenek kepada bu Rena yang tengah memakan martabak kesukaannya.
__ADS_1
🤗🤗🤗🤗🤗🤗
Jangan bosan untuk membaca ya Readers ❤️❤️❤️