
Aku datang readers ...
Kalau memang suka tinggalkan like dan koment biar tiap hari berlanjut.
*****
Sementara di waktu yang sama dan tempat yang berbeda, Alena sedang menyusun rencana supaya Fabian tetap mencintainya dan selalu ingin berada di sampingnya.
"Apa aku harus pura-pura sakit, supaya Fabian iba padaku?" bathinnya seraya pandangannya menghadap jendela besar.
"Ah, jangan itu. Kalau aku pura-pura sakit, otomatis aku harus terus berbaring di kasur dan itu sangat membosankan,"
"Sebenarnya, aku hanya membutuhkan status dan hartanya. Aku sama sekali tidak membutuhkan kehadirannya tapi aku harus terus memastikan bahwa Fabian tidak boleh menyentuh Mikha," lanjutnya seraya mengambil ponselnya dan berniat ingin menghubungi Fabian.
"Apa aku buat saja Fabian menyentuhku supaya dia tidak bisa berpaling lagi?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Ah, kalau ketauan sudah tidak perawan bagaimana? Mana bisa dia dibodohin dalam hal itu. Shit ...," ucap Alena sedikit kesal kemudian melempar ponselnya ke kasur.
"Apa yang harus aku lakukan, supaya Fabian semakin mencintaiku?" tanyanya dan mendaratkan bokongnya di sofa.
"Ayo, berpikir Alena. Nanti malam Fabian mau ke sini, pikirkan caranya Alena!" bathinnya.
*******.........*******
Fabian lama terdiam, berusaha mencerna apa yang Mikha katakan. Begitupun dengan Mikha, dia ikut terdiam menunggu jawaban Fabian.
"Aku tidak mau kehilangan kamu Mikha! Tapi aku gak tega sama Alena, karena bagaimanapun selama ini dia banyak berkorban,"
"Semudah itu kamu memberikan aku pilihan yang sulit," lirih Fabian.
"Bukan maksud aku menyulitkanmu Mas, aku hanya butuh kepastian," balas Mikha.
"Kepastian?" tanya Fabian.
__ADS_1
"Ya, sebagai wanita aku membutuhkan kepastian Mas," jawab Mikha.
"Bukankah hubungan kita sudah pasti dan jelas?" tanya Fabian.
"Iya hubungan kita memang jelas, kita berada dalam satu ikatan pernikahan yang sah di mata hukum dan agama,"
"Lantas?"
"Tapi hubungan kita tidak pasti Mas, karena seperti apa yang kamu bilang bahwa pernikahan kita hanya untuk sementara. Maka dari itu aku butuh kepastian darimu, karena sebenarnya pernikahan yang hanya akan berjalan sementara tidak akan membuat kita sedekat ini," jawab Mikha seraya kembali mengelus tangan Fabian.
Fabian pun merasa, hubungannya dengan Mikha sudah sangat dekat. Seringkali ada keromantisan yang selalu mereka ciptakan setiap harinya dan saling memberi perhatian satu sama lain. Fabian juga sudah merasa sangat nyaman jika berada dekat Mikha dan ada rasa takut kalau Mikha marah, layaknya seorang suami yang takut pada istrinya.
"Mikha," panggil Fabian.
"Iya Mas,"
"Boleh aku jujur,"
"Sejujurnya, bersamamu aku sangat nyaman dan merasa tenang. Dengan sigap kamu selalu menyiapkan segala kebutuhanku di rumah ataupun di kantor, kamu juga pandai dalam segala hal. Kamu bisa menjadi seorang istri sekaligus sekretaris buatku. Kamu adalah partner terbaik bagiku, kamu selalu ada disaat aku membutuhkanmu. Bukan hanya itu jujur saja Mikha, benar kata orang kamu memang sangat cantik. Sangat beruntung siapapun itu yang telah memiliki kamu," ucap Fabian kemudian mencium pucuk kepala Mikha.
"Terutama Radit, orang pertama yang menyentuh kamu dan orang yang sangat kamu cintai,"ucap Fabian dalam hati.
"Cantik itu relatif Mas, tidak semua orang bilang aku cantik. Waktu kita lagi resepsi, kamu tidak bilang aku cantik malah yang dibilang cantik oleh kamu hanya Alena. Tapi sekarang, kenapa kamu bilang aku cantik? Jangan-jangan kamu ada maunya ya? Hayo!" ucap Mikha seraya menggelitik pinggang Fabian dan mereka tertawa bersama.
Begitupun dengan Fabian dia membalas Mikha dengan terus menggelitiknya hingga membuat Mikha pasrah karena lelah dan seketika menjatuhkan tubuhnya di sofa seraya memejamkan matanya. Fabian terdiam mematung melihat pemandangan di depannya.
Setelan seksi yang Mikha pakai, membuat Fabian dengan susah payah menelan salivanya ketika melihat dua bukit kembar Mikha yang menyembul dan paha Mikha yang putih bersih juga sangat seksi.
Ini bukan pertama kalinya Fabian melihat paha wanita karena Alena pun sering menunjukan pahanya namun rasa yang menjalar di tubuh Fabian kini berbeda rasanya saat melihat paha Mikha yang begitu menggugah selera.
Fabian ikut merebahkan tubuhnya, memandangi Mikha yang sedang terpejam kemudian menc**m bibir Mikha dan melum**nya dengan lembut. Mikha pun membalas ciu**n itu dan menikmatinya.
Rasanya sama seperti dulu, Mikha memang good kisser. Kini mereka begitu intim, tanpa melepas ciu**nnya tangan Fabian menelusup lembut di balik atasan tipis yang Mikha gunakan kemudian berhenti sejenak, ketika tangannya telah sampai pada tujuannya yaitu dua bukit kembar yang selama ini membuatnya kepanasan.
__ADS_1
Seperti anak kecil yang menemukan mainan baru, tangannya begitu betah terus bermain-main di balik br* berwarna krem. Mereka tenggelam dalam ciu**an yang begitu memabukkan hingga saat br* itu terlepas Mikha pun tak menyadarinya. Bi**r Fabian kini menelusuri leher Mikha dan meninggalkan banyak jejak yang membuat Mikha sedikit menggelinjang.
"Huumpss,"
Sebagai laki-laki dewasa Fabian tak kuasa lagi menahan hasratnya dia menginginkan lebih dari ini, nalurinya berkata bahwa dia punya hak atas Mikha.
"Mikha, kita pindah ya! Aku menginginkan lebih dari ini," bisik Fabian tanpa menunggu jawaban, dia langsung menggendong Mikha ala brydal style dan Mikha menyambutnya dengan mengalungkan tangannya ke leher Fabian kemudian Fabian membawanya masuk ke dalam kamarnya.
Fabian merebahkan tubuh Mikha dengan lembut, tangannya berhasil melucuti pakaian Mikha hingga hanya menanggalkan pakaian dalamnya kemudian Fabian lanjut menci*minya, tangannya semakin liar dan terus bermain-main menuju paha dan selang****annya sehingga membuat Mikha mendesa*h nik**t tak tertahan.
Sentuhan Fabian yang lembut membuat Mikha terbuai dan sama-sama menginginkan yang lebih dari ini. Dua bukit kembar Mikha pun kini penuh dengan jejak petualang Fabian bahkan Fabian sangat lama bermain-main di sana, sepertinya itu akan menjadi tempat Favorit Fabian saat bermain. Mikha pun siap jika harus merelakan kehormatannya kepada Fabian karena buatnya itu sebagian dari kewajibannya sebagai istri.
Rangs*ng*n yang dibuat Fabian membuatnya jauh menjadi lebih agresif dan mampu membuat Fabian hanya menanggalkan boxernya, Fabian pun sangat menyukainya, sentuhan Mikha pun membuat Fabian begitu tak kuasa menahan hasratnya hingga Fabian pun mengeluarkan desahan yang membuat keduanya semakin bergairah.
Tubuh Fabian semakin memanas ketika tangannya berhasil melepas seluruh pakaian dalam yang menempel di tubuh Mikha, sesuatu di bawah sana semakin menegang dan meronta minta di keluarkan. "Mikha, aku menginginkannya!" bisik Fabian dan Mikha menjawabnya dengan anggukan.
Sebenarnya dia sangat malu, pertama kalinya bertela**ang di depan laki-laki meski itu suaminya. Kini wajahnya memerah seperti tomat saat mata Fabian memandangi setiap inci bagian tubuhnya dengan tangan bergerilya di bawah perutnya.
Seandainya tidak malu ingin sekali dia meminta dengan cepat karena tak bisa lagi membendung hasratnya namun gerakan Fabian malah berhenti, Fabian malah mematung terpaku. Pikirannya tiba-tiba dipenuhi bayangan Alena yang hampir tiga belas tahun menantinya dan dia baru ingat bahwa malam ini Alena sedang menunggunya.
Tiba-tiba Fabian mengacak rambutnya dan mengusap wajahnya kasar seperti terlihat frustasi membuat Mikha seketika panik kemudian duduk dan bertanya, "Kenapa Mas?"
"Mikha, maaf! Aku tidak bisa melanjutkannya, aku keingetan Alena aku harus menyelesaikan urusanku," ucapnya seraya menggenggam tangan Mikha dan memohon maaf terlihat kekecewaan di mata Mikha hingga ia menundukan kepalanya dan menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya.
Huh ... Hareudang gaishhh tapi hatiku sakit.ππππ
Kecewa ya?π€
Sama!π
Sampai ketemu di episode berikutnya!
Seperti biasa tinggalkan jejakmu readers!
__ADS_1