Pilihan Yang Tepat

Pilihan Yang Tepat
Kamar untuk malam pertama kita


__ADS_3

"Lo gak kangen sama dia?" tanya Radit seraya mengarahkan matanya ke Alena yang sedari tadi sedang dikelilingi para lelaki kesepian.


"Hah? Dia?" Rangga bertanya balik seraya menunjuk ibu jarinya ke arah Alena.


"Ya," jawab Radit singkat.


"Gue sudah gak selera sama dia,"


"Why? Bukankah lo bilang, dia paling-"


"Stop! itu dulu," pangkas Rangga.


"Lo lihat deh, wajah Fabian memerah seperti menahan kesal dan amarah," ucap Rangga.


"Gimana gak kesal posisi wanitanya sedang dikelilingi para lelaki dan gimana Fabian gak marah jika wanitanyapun sangat menikmati posisi tersebut. Lihat saja Alena, lelaki merangkulpun dia terlihat santai kan? Bahkan dia tidak terlihat takut kalau Fabian melihatnya," ucap Radit.


"Kasihan juga gue sama Fabian, dia tidak tau kebusukan wanita yang dipujanya selama ini. Gue miris lihatnya, gak nyangka seorang CEO lulusan terbaik Universitas Harvard bisa dikibulin sama sosok wanita seperti Alena," lanjut Radit.


"Tapi gue lebih kasihan sama lo," ucap Rangga.


"Gue, kenapa?"


"Mati-matian berjuang, melindungi dan mencurahkan seluruh perhatian. eh, nikahnya sama orang lain," ucap Rangga seketika menutup mulutnya.


"Kampret lo!" ucap Radit menjewer kuping Rangga dan membuat Rangga sedikit meringis.


"Eh, lo lihat Mikha!" perintah Rangga.


"Gue perhatiin dia dari tadi tidak nyaman berdiri loh, sudah beberapa kali melihat ke arah kakinya,"


"Lagian ini sudah malam, kenapa tamu masih saja banyak?"


"Namanya juga pengusaha ternama Radit, ya pasti banyak tamu lah. Lo lihat saja semua tamu masih menikmati pestanya! Oiya, lo ngasih apa ke Mikha di hari pernikahannya?" tanya Rangga.


"Gue belum memberikannya, belum ada kesempatan," jawab Radit singkat seraya khawatir melihat Mikha karena wajah Mikha seolah memelas meminta pertolongan.


"Emang lo mau ngasih apa?"


"Kepo banget lo,"


"Jangan-jangan melebihi mahar dari Fabian,"

__ADS_1


"Ya, benar!"


"Wow!" seru Rangga.


"Eh, mau kemana lo?" tanya Rangga karena Radit seketika berdiri dan sedikit berlari menghampiri Mikha.


*****......*****


Radit segera berlari menghampiri Mikha, dia sangat khawatir karena Mikha tiba-tiba berjongkok melihat kakinya yang terlihat kesakitan tetapi Fabian seperti tidak peduli dia malah terus memperhatikan Alena. Alasan Radit menghampiri Mikha karena mata Mikha seperti memohon pertolongan kepada Radit.


"Kamu kenapa?" tanya Radit seraya berjongkok melihat dan menyentuh kaki Mikha untung saja para tamu sedang menikmati pestanya jadi tidak melihat aksinya Radit.


"Sakit," jawab Mikha meringis dan mau nangis.


"Sakit banget?" tanya Radit semakin khawatir dan Mikha mengangguk.


"Kenapa?" tanya Fabian.


"Kakiku sakit," jawab Mikha.


"Ya sudah kamu ke kamar saja! Lagian ini sudah malam acaranya sebentar lagi selesai," ucap Fabian.


"Apa gak apa-apa saya meninggalkan pestanya?"


"Iya,"


"Kayanya kakinya bengkak deh," ucap Radit berharap Fabian memperhatikan dan mengantarnya.


"Kamu pelan-pelan saja jalannya!" perintah Fabian tak berniat mengantar MIkha.


"Aku antar!" ucap Radit.


"Gak usah Dit," tolak Mikha.


"Ke kamar kamu itu sedikit jauh Mikha, kamu jangan so kuat!" ucap Radit.


"Iya," Radit segera memapah Mikha dan meninggalkan pestanya.


"Lama banget jalannya," ucap Radit dan segera menggendong Mikha ala brydal style dengan susah payah menelan salivanya karena melihat dua bukit kembar milik Mikha hampir keluar,"


"Radiiit, nanti ada yang lihat!" ucap Mikha.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, megang yang bener!" perintah Radit dan Mikha mengalungkan tangannya ke leher Radit.


"Terima kasih ya," ucap Mikha.


"Sama-sama,"


"Maaf ya!" ucap Mikha.


"Kenapa minta maaf?"


"Meski status sudah punya suami tapi tetap saja merepotkanmu,"


"Aku menyukainya Mikha, jangan bicara seperti itu!"


"Kamu masih kuat gendong aku? Masih jauh loh,"


"Kamu meragukan aku?" tanya Radit.


"Enggak, antar sampai kamar ya!" kekeh Mikha.


"Apa kamu mau aku yang menggantikan Fabian melewati malam pertama ini?"πŸ˜‰ tanya Radit menggoda Mikha.


"Ide bagus tuh,"😚 jawab Mikha malah balik menggoda Radit dan sebenarnya sontak membuat Radit sedikit terkejut dengan jawaban Mikha tapi secepatnya Radit menyembunyikan keterkejutannya.


"Oke," ucap Radit dan berhenti di depan kamar samping kamar pengantinnya.


Pintu kamar itu terbuka dengan cardlock yang ada di tangan Radit, mereka berdua masuk ke dalam kamar itu. Kamar yang sangat luas dan rapi.


"Ini kamar siapa?" tanya Mikha yang masih berada dalam gendongan Radit.


"Kamar untuk malam pertama kita," jawab Radit.😘


Mereka berdua saling menatap dan seperti sama-sama menginginkan sesuatu.


**********


Apa Readers penasaran cerita selanjutnya?


πŸ€”


Akankah mereka? Ehem... maaf tenggorokan author mendadak gatal. Sampai ketemu di episode berikutnya. heheheπŸ˜‚

__ADS_1


Maaf belum bisa membalas komentar satu persatu, author sibuk di dunia nyata. πŸ™


__ADS_2