
*****.......*****
Saat Mikha sibuk mempersiapkan keberangkatan ke Dubai, dari mulai tiket, hotel untuk ia tempati dan mengumpulkan semua berkas yang begitu banyak yang harus dia bawa.
Dengan lancangnya perempuan yang memakai dres tipis sebatas paha dengan bahu terbuka itu lewat tanpa permisi tanpa menoleh ke arah Mikha sedikitpun, serasa kantor punya suaminya.
Perempuan itu Alena, dia datang lagi untuk menemui Fabian sesuai dengan rencananya kemarin.
"Sayang ...," panggil Alena sengaja berteriak supaya Mikha mendengarnya dan sengaja tidak menutupkan kembali pintunya, kedatangan Alena cukup membuat Fabian kaget.
"Alena," ucapnya seraya menyimpan balpointnya.
"Sayang, aku kangen," ucap Alena seraya mau mendudukan bokongnya di pangkuan Fabian namun Fabian segera berdiri dan mengajak Alena duduk di sofa.
Fabian duduk berhadapan dengan Alena.
"Kamu tidak kangen sama aku?" tanya Alena sedikit manja.
"Alena, ini di kantor. Semua orang sudah tau status aku, aku tidak bisa begitu saja dekat dengan kamu," ucap Fabian.
__ADS_1
"Aku kecewa sama kamu, kamu tega sama aku Bian. Kamu enak-enakan kemanapun berdua tidak merasa kesepian, sedangkan aku di rumah sendiri dan selalu menanti meski itu hanya sebuah pesan singkat darimu. Namun kenyataannya apa? Sama sekali kamu tidak pernah ngabarin aku, jadi ini adalah alasan aku datang langsung menemui kamu," ucap Alena dengan mata berkaca-kaca. Alena memang bisa menjadi aktris terbaik dalam menjalankan sebuah perannya. Dia jago akting, bisa dengan mudahnya terlihat sangat menjiwai dan membodohi orang yang melihatnya.
"Al-," ucap Fabian seraya mau berdiri namun malah terpotong karena kedatangan Mikha ke ruangannya sehingga membuat Fabian duduk kembali.
"Mas, ini harus segera kamu tanda tangani," ucap Mikha duduk di samping Fabian seraya memberikan berkas beserta balpointnya dan menganggap Alena tidak ada.
Fabian menerima berkas itu dengan lembut seraya tersenyum dan itu jelas terlihat oleh Alena sehingga membuat Alena kepanasan seperti dilempar ke api yang sedang berkobar. Alena mencengkeram tasnya dan menatap tajam ke arah Mikha namun Mikha tetap mengabaikannya.
"Sejak kapan kamu panggil calon suami saya dengan sebutan mas hah?" tanya Alena dengan nada tinggi dan terlihat marah.
"Sejak saya menjadi istrinya," jawab Mikha santai dan menerima berkas itu.
"Alena, sudah cukup! Ini di kantor, aku takut ada karyawan memergoki kita semua," ucap Fabian.
"Kamu bilang cukup sama aku? Sedangkan sama dia tidak?" tanya Alena seraya menunjuk Mikha tepat di depan matanya.
Fabian mengusap wajahnya kasar, dia selalu bingung jika dihadapkan dengan keadaan seperti ini.
"Aku tidak terima, sekalian saja aku mau bilang sama para karyawan kamu. Kalau pernikahan kalian itu terpaksa demi meraih kerja sama," teriak Alena menggertak Fabian membuat Mikha keluar dari ruangan Fabian karena dia tidak mau melihat Alena yang seolah sedang mencari perhatian.
__ADS_1
"Heh, wanita sialan jangan keluar kamu!" hardiknya seraya berjalan mau menjambak rambut Mikha dari belakang namun tertahan oleh Fabian.
"Jangan Alena, aku gak mau nanti kamu mendapatkan masalah karena tidak bisa mengontrol emosimu," ucap Fabian memperingati Alena seraya memegang lengannya.
"Kamu jahat sama aku." Alena nangis memeluk Fabian.
Fabian menghela nafas, memejamkan matanya. Dia benar-benar tersiksa dan sakit dihadapkan dengan posisi yang sulit dengan hubungan yang rumit.
"Maafkan aku, sekarang lekaslah pulang sebentar lagi aku akan rapat. Nanti malam aku ke Apartemen," ucap Fabian.
"Aku nunggu kamu ya," balas Alena.
"Iya,"
Alena menyeka air matanya dan segera keluar dari ruangan Fabian. Dia berhenti sejenak ketika di depan meja Mikha, "Jangan berharap dia akan tertarik sama kamu," ucap Alena kemudian berlalu pergi meninggalkan kantor Fabian.
*****.......*****
Sampai ketemu di episode selanjutnya.
__ADS_1
Tinggalkan jejaknya ya!