Pilihan Yang Tepat

Pilihan Yang Tepat
Drama Alena


__ADS_3

Setelah bu Rena menjauh tak terlihat oleh pandangannya, Alena menampar pipinya sendiri dengan keras hingga meninggalkan bekas kemerahan yang begitu jelas kemudian Alena berlari menangis seraya memegang pipinya dan memeluk Fabian.


"Al, kenapa?"


"Sehina itukah aku? Semiskin itukah aku sampai mama mu begitu merendahkan aku?" tanyanya dibarengi dengan tangisan.


"Maksud kamu?" tanya Fabian tak mengerti.


"Mama kamu nampar aku dan dia juga menghina aku Bi, katanya gadis miskin sepertiku tak pantas hidup bersama denganmu," jawab Alena dengan tangis dibuat-buat berharap Fabian semakin iba padanya.


"Masa sih mama bilang gitu Al, setau aku mama tidak pernah menilai orang dari kastanya,"


"Jadi kamu tidak percaya? Apa ini tidak cukup sebagai bukti?" tanyanya seraya memperliatkan pipinya yang kemerahan bekas tangannya sendiri.


"Mama melakukannya?" tanya Fabian dan Alena mengangguk.


"Kok bisa?" Fabian tak percaya.


"Aku juga gak tau Bi," jawabnya seraya masih terisak.


"Ya sudah, kamu jangan nangis lagi nanti aku ngomong sama Mama," ucap Fabian dan mengusap rambut Alena.


"Aku udah ngomong sama mama tentang hubungan kita, dia sudah setuju asal kamu harus membuktikan sama mama kalau kamu perempuan baik-baik Al,"

__ADS_1


"Emangnya menurut kamu, aku perempuan apaan?"


"Menurutku kamu sangat baik Alena, tapi tidak dalam pandangan mama. Makanya, kamu harus membuktikan sama mama ya," ucap Fabian dan Alena mengangguk namun dalam hati sejujurnya bingung.


'Akan aku pastikan, mamamu tak akan menemukan jejak petualanganku,' bathinnya.


"Ya sudah, sekarang aku harus mencari Mikha. Tolong pengertiannya Al, kamu ingin kita segera menikah kan? Mikha gak tau kemana, aku harus segera menemukannya supaya urusannya cepat selesai," ucap Fabian.


"Emang dia kemana?"


"Aku juga gak tau Al,"


"Aku ke sini mau nyampein undangan ini," ucapnya seraya memberikan kartu undangan.


"Reuni akbar SMA kita Bi, kita datang sama-sama ya!"


"Iya, sekarang kamu pulang ya!"


"Iya,"


Setelah menerima undangan itu Alena keluar dari kantor Fabian, seraya mengangkat sudut bibirnya merasa berhasil atas aktingnya.


Alena melangkahkan kakinya dengan wajah berseri namun tangannya ditarik dan diseret oleh seseorang ke dalam mobil, rupanya yang menyeretnya adalah bu Rena.

__ADS_1


"Ow, rupanya anda menunggu saya, apakah anda sudah berubah pikiran?" tanyanya dengan percaya diri seraya merapikan rambutnya yang sedikit rusak.


"Jangan mimpi! Saya cuma mau ingatkan, kalau sampai anda menginjakan kaki lagi di kantor Fabian jangan harap anda bisa hidup dengan tenang!" ancam bu Rena dengan sorot mata yang tajam.


"Ah, inikan kantor calon suami saya, kenapa tidak boleh?"


"Percaya diri sekali anda, dalam mimpi pun Fabian tidak akan pernah jadi suami anda," jawab bu Rena sinis.


"Sayang sekali, saya baru saja merencanakan pernikahan dengan Fabian di atas tadi," ucapnya semakin menambah suasana hati bu Rena yang sedari tadi panas.


Bu Rena sejenak terdiam, mencerna apa yang Alena katakan.


"Anda pikir saya akan percaya? Tidak mungkin!"


"Ya sudah, jangan harap Fabian bisa mengakui anda sebagai ibunya. Siapkan mental dari sekarang ya calon mama mertua yang kejam," ucap Alena kemudian keluar dari mobilnya bu Rena.


Dengan cepat bu Rena melajukan mobilnya dan sedikit memikirkan apa yang dikatakan Alena mengenai pembahasan pernikahannya.


"Aku harus mengatur rencana untuk membongkar semuanya, Alena tadinya saya tidak akan membongkar aibmu dan membiarkan cinta Fabian mengalir dengan sendirinya untuk Mikha tapi karena sikapmu tadi saya terpaksa harus memberikan kejutan sama kamu," gumamnya dengan mantap.


"Mikha, kamu dimana sayang?" lirihnya dengan raut wajah yang begitu cemas.


Hai Readers ... kira-kira kejutan apa ya yang akan diberikan mama Rena untuk Alena?

__ADS_1


__ADS_2