
Maafkan author yang sibuk di dunia nyata, sehingga tidak sempat mampir ke dunia halu.
Terima kasih atas koment dan likenya, author membacanya dan author tau siapa yang memberi likenya namun author tidak bisa menjawab satu-satu ya.
Mohon maaf!🙏
Yakinlah author selalu membaca komentar kalian.
*****......*****
"Aku tidak mau kehilangan kamu Mikha," lirihnya dan membuat Mikha sontak membuka matanya.
Fabian terkejut sehingga membuatnya duduk seketika.
"Mikha, kamu belum tidur?"
"Aku haus Mas," jawabnya seraya menoleh ke nakas.
"Minum dulu! Tadi aku yang bawain," ucapnya seraya jantung berdebar dan hati bertanya-tanya apakah Mikha mendengar apa yang Fabian ucapkan barusan.
"Terima kasih Mas," balasnya dan segera minum kemudian kembali menyimpannya.
"Kenapa belum tidur Mas?" tanya Mikha dan kembali merebahkan tubuhnya.
"Ak- aku baru saja mau tidur," jawabnya sedikit gagap dan merebahkan tubuhnya di samping Mikha.
"Ya udah, ayo tidur!" ajak Mikha seraya membenarkan selimutnya supaya menutupi Fabian.
Mikha kembali memejamkan matanya seraya menghadap Fabian, begitupun dengan Fabian dia merebahkan tubuhnya menghadap Mikha namun tetap saja tak kunjung memejamkan matanya. Dia masih memandangi Mikha yang sudah terlelap.
"Apa yang harus aku lakukan?" bathin Fabian saraya meraih ponsel yang ia simpan di nakas.
__ADS_1
Fabian segera mengecek pesan, dia mendapatkan satu pesan dari mama Rena.
"Mama,"
[Nak, mama harap kamu dan Mikha tidak menunda memberikan mama cucu ya!]
Jantung Fabian seperti mau loncat dari tempurungnya.
"Apakah mama tahu perasaan dan kegiatanku malam ini?" bathinnya bertanya.
"Jangankan menunda momongan, proses membuatnya pun aku belum. Mama ada-ada saja," lanjutnya dalam hati dan kembali menyimpan ponselnya.
Tanpa Fabian sadari, dia segera memeluk Mikha dan memejamkan matanya terlelap hingga pagi hari.
*****......*****
Mikha membuka matanya dan merasakan tangan kekar Fabian sedang memeluknya.
"Mas." Mikha mencubit hidungnya namun Fabian bergeming.
Mikha memindahkan tangan Fabian dan segera membersihkan dirinya.
Setelah Mikha selesai dengan segala urusannya hingga membangunkan Fabian, Mikha segera menuju tempat favoritnya yaitu dapur.
Rencananya untuk sarapan pagi ini, dia akan membuat nasi goreng telur mata sapi. Di samping lebih mudah, dia juga sangat menginginkannya. Setelah selesai membuat nasi goreng Mikha menyimpan telur mata sapi di atas nasi itu.
"Telurnya cantik," ucap Fabian mengunci tubuh Mikha dengan kedua tangan Fabian tertumpu pada meja makan. Wanginya aroma tubuh Mikha telah manjadi candu bagi Fabian.
"Mas, kebiasaan deh bikin kaget," balasnya seraya berbalik menghadap Fabian.
"Wangi banget sih," ucap Fabian sedikit mencondongkan wajahnya ke arah Mikha.
__ADS_1
"Jelas wangi lah Mas karena aku menaburkan bumbu spesial pada nasi goreng ini," ucap Mikha polos dab penuh semangat namun Fabian tak menjawabnya.
"Kok diam? Ayo makan, kamu pasti sudah tidak tahan kan?" tanya Mikha memeluk pinggang Fabian dan mengarahkannya untuk duduk.
"Iya Mikha, aku tidak tahan mencium wanginya," jawab Fabian seraya duduk dan sedikit kesal karena Mikha tidak mengerti dengan apa yang dia maksud.
"Ya udah kalau gak tahan, ayo cepat makan!"
"Aku dari semalam kelaparan sampai susah tidur," gumam Fabian.
"Serius Mas?" tanya Mikha khawatir.
"Iya, semalam aku itu gak tahan. Aku kelaparan gara-gara kamu sampai insomnia. Aku gak tahan pengen makan kamu," ucap Fabian dengan suara pelan.
"Hah, apa Mas?" tanya Mikha memastikan pendengarannya.
"Tidak," jawab Fabian.
"Ya udah kalau gak tahan cepat makan dan kalau nanti malam kelaparan kamu jangan sungkan untuk bangunin aku Mas, aku gak apa-apa kok bangun asal membuat kamu kenyang," ucap Mikha sekenanya namun panjang lebar.
"Serius?" tanya Fabian.
"Iya." Mikha menganggukan kepalanya dua kali.
"Kalau lapar pengen makan, kamu bangunin aku aja," lanjut Mikha membuat Fabian mendelikkan matanya kemudian melahap habis nasi gorengnya.
****....****
Lanjut ya!
Yang baca jangan lupa tinggalkan jejaknya biar author semangat dan lanjut tiap hari.
__ADS_1