Pilihan Yang Tepat

Pilihan Yang Tepat
Di pangkuan Fabian


__ADS_3

Ngebayangin setiap inci tubuh Mikha yang dicumbui Radit cukup membuatnya kesal.


"Kenapa saya harus mikirin itu si? Ahh," ucap Fabian dalam hati seraya mengusap wajahnya kasar.


"Sudah Pak," ucap Mikha seraya menghampiri Fabian berniat mau mematikan komputernya, tatapan tajam Fabian menghentikan langkah Mikha.


"Permisi Pak, saya ingin mematikan komputer!" ucap Mikha.


Dengan kesal Fabian menghentakan kakinya agar kursi yang dia duduki mundur ke belakang dengan sorot mata yang tajam masih menatap Mikha. Seketika Fabian memajukan kursinya lututnya menabrak kaki belakang Mikha sehingga membuat Mikha terduduk di pangkuannya.


Entah apa yang Fabian pikirkan tetapi hatinya mendidih tatkala membayangkan Radit mencumbui Mikha, padahal kenyataannya jangankan mencumbui melihat Mikha membuka bajupun Radit malah menutup matanya.


Mikha tersentak kaget karena ulah Fabian, terasa ada sesuatu yang mengganjal yang ia duduki seketika tangannya memegang sudut meja dan segera berdiri.


"Kenapa?" tanya Fabian seraya menarik sudut bibirnya sebelah.


Mikha menarik nafasnya dan membalikkan badannya melihat Fabian.


"Kenapa? Justru saya yang harus bertanya, Bapak kenapa?"


"Saya tidak apa-apa," jawab Fabian datar.


"Lantas Bapak sengaja memajukan kursinya supaya saya terduduk di pangkuan Bapak?"


"Saya tidak memajukan kursinya, dari tadi saya berada di belakang kamu. Justru kamu yang ingin duduk di pangkuan saya," elak Fabian.


"Hah? Saya ingin duduk di pangkuan Bapak?" tanya Mikha seraya menunjuk dirinya sendiri.


"Ya, bisa jadi," jawab Fabian.


"Itu tidak akan mungkin!" ucap Mikha.


"Kenapa?"


"Karena saya bukan Alena," jawab Mikha.

__ADS_1


"Dan saya bukan Radit, begitu maksudnya?"


"Radit tidak akan melakukan hal itu," jawab Mikha.


"Karena Radit melakukan hal yang lebih dari itu," tebak Fabian yang sampai saat ini menyangka bahwa Radit telah melakukan hubungan terlarang dengan Mikha.


"Terserah Bapak, hujan sudah reda. Saya permisi mau pulang!"


Mikha mengambil tas dan melangkahkan kakinya hendak keluar dari ruangan Fabian.


"Tunggu!" Seru Fabian dan Mikha menghentikan langkahnya tanpa menoleh.


"Kamu pulang bareng saya!"


"Memangnya Bapak mau naik taksi?"


"Pakai mobil yang ada di sini,"


"Saya mau naik taksi saja," tolak Mikha seraya melangkahkan kakinya.


"Saya tidak suka dibantah!" ucap Fabian menyusul langkah Mikha.


"Sama saja, ada yang mau saya tanyakan perihal Alena,"


"Hmmm ...,"


"Ayo masuk!" titah Fabian membukakan pintu mobilnya dan Mikha terpaksa memasuki mobil Fabian. Fabian memutari mobil dan menyunggingkan senyumnya.


Fabian segera menginjak pedal gasnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Fabian.


"Mau nanya apaan?" tanya Mikha terlihat kesal.


"Siapa yang mau nanya?"


"Tadi katanya Bapak mau nanya ih." Mikha mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Saya gak bilang gitu,"


"Kok kesini si? Saya mau pulang Pak!"


"Ya, ini juga mau pulang,"


"Jalannya bukan ke sini Pak,"


"Ada yang mau saya omongin sama kamu,"


"Ya udah tinggal ngomong aja sekarang!"


"Nanti aja di rumah," tolak Fabian dan Mikha menirukan omongan Fabian kesal seraya mengerucutkan bibirnya.


"Kondisikan bibirmu!"


"Apaan sih?" mata Mikha mendelik.


"Turun!" perintah Fabian seraya turun dari mobilnya.


"Ayo turun!" Fabian membuka pintu mobilnya dan Mikha terpaksa mengikuti langkah Fabian untuk masuk ke rumahnya.


"Ngapain si ke sini? gak ada siapa-siapa lagi," tanya MIkha kesal.


"Kamu itu ya sama atasan gak ada sopan-sopannya, tenang ada aku!" ucap Fabian seraya duduk di sofa.


"Saya lagi tidak bekerja Pak,"


"Kamu Asisten Pribadi saya, jangan lupa!"


"Hmmm ...,"


"Saya pengen makan, tolong masakin!"


"Hadeh ...," keluh MIkha seraya menyimpan tasnya dan melangkahkan kakinya menuju dapur.

__ADS_1


🤔🤔🤔


Jangan lupa Mikha! Masakanmu bisa membuat orang jatuh ❤️.. 🤭🤭


__ADS_2