Pilihan Yang Tepat

Pilihan Yang Tepat
Memasangkan dasi Fabian


__ADS_3

Mikha langsung duduk dan menghembuskan nafas kasar ketika dia telah sampai di meja kerjanya.


Kring ... kring ... kring


Kring ... kring ... kring


Mikha masih mengabaikannya, masih pagi tapi moodnya sudah terlihat buruk.


Kring ... kring ... kring


Mikha langsung mengambil ponsel yang sedari tadi bunyi dalam tasnya.


"Radit," lirih Mikha seraya melihat layar ponselnya.


"Hallo, Dit,"


"Mikha, lagi dimana?" tanya Radit di seberang telpon.


"Di kantor," jawab Mikha terdengar lesu.


"Kamu dimana?" tanya Mikha.


"Aku juga baru sampai kantor, ada pesan masuk dari salah satu kolega menanyakan apa benar dua minggu lagi kamu akan menikah?" tanya Radit terdengar berat suaranya.

__ADS_1


Seketika Mikha diam tak menjawab pertanyaan Radit.


"Mikha," panggilnya.


"Eh, i-iya Dit. Aku baru saja mau ngajak ketemu kamu pada jam makan siang, untuk mengobrol hal ini ternyata kamu sudah tau duluan," ucap Mikha.


"Ayo kita ketemu! Nanti aku jemput,"


"Jangan Dit, kita ketemu di tempat biasa saja!" Mikha melarang Radit menjemputnya, karena bagaimanapun seluruh karyawan sudah tau kalau Mikha akan segera menikah dengan Fabian, apa yang akan dipikirkan mereka nanti kalau Mikha masih jalan dengan Radit.


"Kenapa?" tanya Radit.


"Nanti aku cerita," jawab Mikha lesu.


Rupanya kabar pernikahan Fabian dan Mikha secepat itu sampai ke telinga para karyawan dan para kolega bisnis. Sontak Mikha berdiri ketika melihat Fabian telah datang, Mikha hanya membungkukkan badannya tanpa menyapa.


"Saya tunggu di ruangan!" perintah Fabian.


Mikha menghela nafas dan segera melangkahkan kakinya menuju ruangan Fabian tanpa mengetuk pintu.


Terlihat Fabian sedang berdiri menghadap jendela raksasa memandangi gedung-gedung yang menjulang tinggi.


"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Mikha sopan.

__ADS_1


"Pakaikan aku dasi!" perintah Fabian seraya berbalik badan dan memberikan dasi berwarna biru muda yang sedari tadi dia pegang.


"Apa dia gak bisa memakai dasinya sendiri?" tanya Mikha dalam hati malah terpaku berdiri di tempatnya.


"Kamu dengar saya?" tanya Fabian dengan suara lebih tinggi.


"Eh-iya," ucap Mikha menghampiri Fabian dan menerima dasi itu.


Ini bukan yang pertama kalinya Mikha memasangkan dasi untuk Fabian namun dia tidak terlihat biasa saja seperti sebelumnya. Beda halnya dengan hari ini, Mikha terlihat gugup dan merasa canggung.


Mikha menghela nafas berusaha menetralkan perasaannya supaya terlihat biasa saja. Mikha mengalungkan dasi itu di kerah baju Fabian dengan jarak berdiri lumayan jauh sehingga membuat Mikha kesusahan dalam memasangkannya dan itu terlihat jelas oleh Fabian.


Entah kenapa biasanya memasangkan dasi hanya butuh satu menit hingga beres dan rapi namun kali ini sudah tiga menit dasi itu nampak tidak rapi. Fabian menyadari kegugupan Mikha dan Fabian menyadari penyebab Mikha kesulitan memasangkan dasi karena jarak berdiri mereka sangat jauh.


Fabian melangkah mendekati Mikha tetapi sontak Mikha memundurkan langkahnya. Fabian kembali melangkahkan kakinya supaya lebih dekat tetapi Mikha kembali memundurkan langkahnya. Fabian terlihat kesal, sekali lagi Fabian melangkahkan kakinya tetapi Mikha malah semakin mundur dengan jarak semakin jauh.


Seketika Fabian meraih pinggang Mikha dengan tangan kanannya sehingga membuat Mikha menjinjitkan kakinya, Fabian merapatkan tubuh Mikha dengan tubuhnya, sontak membuat Mikha membulatkan mata karena perlakuan Fabian.


Mikha merasa tidak nyaman dengan posisinya karena dua bukit kembar miliknya menempel di dada bidang Fabian. Baru saja Mikha mau berontak mata nyalang Fabian seakan menyuruhnya untuk diam dan jangan bergerak.


"Diam! pasangkan dasinya dengan cepat!" perintah Fabian dengan sorot mata yang tajam.


"Kalau seperti ini, saya semakin kesulitan untuk memasangkan dasinya Pak," ucap Mikha berusaha berontak.

__ADS_1


__ADS_2