
"Mau kemana?" tanya Fabian ketika Mikha beranjak dari duduknya.
"Aku udah selesai Mas, kamu juga udah kan?"
"Iya, aku sangat kenyang Mikha," jawab Fabian seraya mengusap perutnya.
"Bagus deh," ucap Mikha tersenyum dan mengambil piring kotor bekas Fabian.
"Setelah ini mau kemana?"
"Pekerjaanku di dapur belum beres Mas,"
"Kamu tidak cape?"
"Tidak, karena aku suka melakukannya. Malah aku bosan Mas, kalau arus rebahan mulu,"
"Kamu kan harus istirahat mumpung hari libur,"
"Ini bukan pekerjaan yang terlalu menguras tenaga dan pikiran Mas, memasak bisa meningkatkan kadar kebahagiaanku juga,"
"Kamu mau ngapain lagi?" tanya Fabian penasaran karena Mikha kembali mengisi penuh wajan dengan minyak
"Aku mau goreng singkongnya Mas," jawabnya santai.
Fabian senyum-senyum sendiri, ada perasaan yang berbeda dari seperti biasanya ketika Mikha menyebutnya Mas. Rambutnya yang panjang dan selalu tergerai ke depan membuat Fabian sedikit khawatir melihatnya. Fabian pun berdiri, melangkahkan kakinya menghampiri Mikha yang sedang membelakanginya kemudian menarik lembut tangan kiri Mikha, sedikit membuat Mikha terdiam mematung menatap Fabian dan membiarkan Fabian mengambil ikat rambut yang melingkar di pergelangan tangannya, sementara Mikha hati Mikha masih bertanya-tanya apa yang akan Fabian lakukan dengan ikat rambut itu tanpa Mikha duga Fabian menarik rambut Mikha lembut dan mengikatnya asal ke atas. Perlakuan Fabian yang hangat cukup membuat perasaan Mikha kembali hangat.
"Nah kan, kalau begini tidak terlihat gerah," ucap Fabian setelah selesai mengikat rambut Mikha dan menatap Mikha yang tersenyum kepadanya.
"Terima kasih Mas, kamu bisa saja!" balas Mikha dan meniriskan singkong yang telah digoreng.
"Kayanya enak," ucap Fabian.
"Tentu, kamu bisa mencobanya sebentar lagi. Sekarang duduklah di sana, nanti aku bawa ke sana ya!"
"Aku tunggu di ruang TV ya! Ada sdikit kerjaan yang harus aku lihat,"
"Iya, Mas."
__ADS_1
******........******
Mikha menghampiri Fabian dengan satu toples keripik singkong buatannya. Dilihatnya Fabian tengah sibuk dengan laptopnya, tanpa ada rasa ragu Mikha duduk di sebelah Fabian dan mengambil satu keripik dari toples itu lalu menyuapi Fabian dan Fabian dengan senang hati langsung melahap keripiknya.
"Gimana?" tanya Mikha dengan mata berbinar.
"Ah ... mantap Mikha, benar-benar enak! Kriuk banget, rasanya juga pas. Kamu hebat!" ucap Fabian memujinya.
"Serius?" tanyanya tak percaya.
"Aku serius Mikha, lagi dong! Tanggung nih,"
Mikha kembali menyuapi Fabian, Mikha benar-benar senang melakukannya. Sebenarnya, kalau Fabian hangat dan bersikap baik padanya maka Mikha akan jauh lebih hangat dan tentunya lebih baik namun kalau Fabian dingin dan tidak menghargainya tentu Mikha akan lebih mengabaikannya.
"Lahap banget," ucap Mikha.
"Enak Mikha," puji Fabian dan membuat Mikha tersenyum.
"Apa ada masalah?" tanya Mikha seraya melihat laptop yang sedari tadi di depan Fabian.
"Pasti stabil Mas,"
"Iya, kamu benar," ucap Fabian kemudian mulutnya kembali menganga meminta keripiknya.
"Habis Mas," ucap Mikha terkekeh seraya memperlihatkan toplesnya yang telah kosong.
"Apa? Habis?" tanya Fabian benar-benar kaget karena itu bukan toples yang berukuran kecil.
'Iya, habis," jawab Mikha seraya menganggukan kepalanya dua kali.
"Kita berdua kan yang menghabiskannya?" tanya Fabian dan Mikha menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya memakan satu Mas,"
"Lah, kenapa?"
"Aku takut kamu kurang," jawab Mikha jujur.
__ADS_1
"Ya, ampun Mikha sepertinya kamu tidak sabar ya melihat perut aku kaya gentong,"
"Iya," jawab Mikha terkekeh dan membuat Fabian menutup laptopnya lalu memfokuskan pandangannya ke Mikha.
"Kenapa? Tenang saja Mas, meski perutmu buncit itu tidak akan mengurangi kadar ketampananmu," ucap Mikha terkekeh.
"Apakah iya menurutmu aku tampan?" tanya Fabian dengan mata berbinar, karena ini pertama kalinya Mikha bilang kalau dirinya tampan.
"Iya ... kamu tampan Mas, kan lai-laki," jawab Mikha tersenyum dan sedikit membuat Fabian kesal.
"Apakah menurutmu semua laki-laki tampan?"
"Iya," jawab Mikha seraya mengaggukan kepala dua kali.
"Masa sih?" Fabian tak percaya.
"Masa cantik," lanjut Mikha dan sontak Fabian mencubit hidungnya Mikha.
"Ah ... Mas, apa salahku?" seru Mikha seraya mengusap hidungnya.
"Banyak," jawab Fabian kesal.
Ting ... tong
Ting ... tong
****....****
Readers ada tamu tuh! Kira-kira siapa ya?
Buka?
Enggak?
Buka?
Enggak?
__ADS_1