
Hangatnya mentari pagi menghangatkan suasana di kediaman Nyonya Rena, Fabian anak kesayangannya mulai hari ini akan menetap kembali di Indonesia.
"Mam... aku pergi dulu ya!" pamit Bian sambil mengambil kunci di atas meja.
"Mau kemana sayang?" tanya Mama Rena
"Mau jemput Alena mam, pasti dia lagi nunggu nih." ucapnya tergesa
"Emangnya gak cape? semalam kan baru datang, sekarang jangan dulu kemana-mana ya!" titah Mama Rena sambil memegang bahu Fabian dan memutar balikan badannya untuk kembali ke ruang keluarga.
"Duduk! sebentar lagi Asisten dan Sekretaris di perusahaan kita mau datang, kamu harus kenal sama dia, dia yang selama ini mengembangkan bisnis Alm Papah, dia yang bertanggung jawab pada perusahaan, mengatur aktivitas perusahaan mulai dari administrasi hingga human relations (HR) tau gak ide brilian nya yang membuat perusahaan semakin maju, mama gak tau nasib perusahaan kalau gak ada dia." ucap Mama Rena menjelaskan.
"Jadi ini alasan mama sebenarnya mengijinkan Bian tetap disana bareng Nenek?" tanya Bian
"Bukan hanya itu Bian, mama kasihan sama Nene," jawab Mama Rena tersenyum.
****
Karna ini hari libur Mika tidak mengenakan pakaian kerjanya meski dia tau dia diundang ke rumah Bu Rena untuk membahas pekerjaan, atasan blouse warna merah dipadukan dengan Celana jeans, rambut curly warna coklat alami dengan panjang sepinggang yang digerai, juga sepatu ket warna putih terkesan santai dengan penampilannya.
tok-tok-tok
sebenarnya pintu telah terbuka, tapi gak sopan aja kalau Mika langsung nyelonong masuk, Mikha mencoba mengetuk kembali pintunya.
tok-tok-tok
seorang wanita yang sudah cukup umur tapi selalu terlihat cantik itu berjalan dengan anggunnya menghampiri Mika yang sedari tadi berdiri di depan pintu. Mika membungkuk dan tersenyum saat melihat Bu Rena telah melihatnya,
"Aduuh Mika kamu kaya yang baru pertama kali ke sini aja, kenapa gak langsung masuk? ayo masuk!" ajak Bu Rena
"Takut gak sopan aja bu," Mika tersenyum
Mereka berjalan menuju ruang keluarga. Di sana sudah ada laki-laki tampan dengan badan yang atletis mengenakan atasan kaos putih lengkap dengan jaketnya di padukan dengan celana jeans blue moon menambah tingkat ketampanannya terlihat sedang memainkan ponselnya.
"Duduk Mika!" titah Bu Rena. Mika duduk tepat di hadapan Fabian, tapi Fabian tidak menolehnya dia sedang asik berbalas pesan di salah satu aplikasi yang ada di ponselnya.
"Terima kasih bu," ucapnya sopan dan duduk suara Mika yang lembut membuat Fabian penasaran ingin menolehnya, Fabian menoleh sejenak, Mika mengangguk tanda hormat dan Fabian pun masih dengan wajah datarnya.
"Bian, ini Mikhayla yang mama ceritakan tadi," "Dan Mika, Fabian itu anak tunggal saya baru pulang dari Amerika, mohon maaf selama ini saya belum sempat bilang kalau saya punya Anak," ucap mama Rena memperkenalkan. "Tak apa Bu," jawab Mikha sopan.
"Emmm.... Mika, bagaimana hasil meeting kemarin dengan mereka?"
"Semua berkas beserta foto-foto yang diperlukan sudah mereka lihat dan tidak ada masalah bu, saya juga sudah menyampaikan kendala yang mungkin akan kita hadapi kedepannya," ucap Mika.
__ADS_1
"Bagaimana tanggapan mereka mengenai kendalanya?"
"Setelah saya menyampaikan ide, mereka menyetujuinya Bu,"
"Kamu lagi yang ngasih saran?" tanya Bu Rena
"Iya Bu,"
"Ya sudah, ide kamu memang brilian," puji Bu Rena.
"Terimakasih Bu," ucap Mika tersenyum.
"Bian... kalau ada apa-apa di perusahaan kamu tanya saja sama Mikha, meski jabatannya sekretaris tapi dia sangat bisa diandalkan dalam hal apapun," tegas Bu Rena.
"Dia juga Asisten Pribadi kamu, selain bertanggung jawab pada perusahaan dia juga bertanggung jawab pada kamu sebagai atasannya,"
"Ngapain bertanggung jawab sama aku Ma? memangnya aku Anak kecil." ucapnya sinis.
"Bian pekerjaan CEO itu sibuk, terkadang sering lupa dengan hal-hal yang sepele, lupa memakai jas, dasi tak rafi, rambut berantakan dan semua itu Mikha yang urus," Mama Rena menjelaskan.
Mikha sedikit kaget meski pada dasarnya dia sudah tau pekerjaan Asisten pribadi sekaligus Sekretaris. Yang membuat kaget, dia ngebayangin memasangkan jas untuk makhluk tuhan yang kelihatannya sombong itu. Karena sampai saat ini Mikha pun terlihat acuh sama Fabian.
"Dia sudah bekerja 8 tahun di perusahaan kita dan hasilnya seperti yang kamu ketahui sekarang ini," ucap Mama Rena bangga.
"Iya Ma... ya udah, aku sudah boleh keluar kan Ma?"
"Buru-buru banget,"
"Alena nungguin aku Ma, kasian dia."
"Jangan dibawa ke sini!" Mama Rena melarang.
"Loh... kenapa?" Fabian terlihat kaget.
"Emmmm.... Mama mau keluar, ada urusan sama Mikha," ucapnya menyembunyikan kebohongannya.
"Oh... yaudah, aku berangkat ya Ma." ucap Bian mengambil kunci mobil dan meninggalkan Mama juga Mikha.
"Hati-hati sayang!" Mikha masih bingung karena dia pun tidak tau urusan apa yang di maksud Bu Rena.
"Kita mau kemana Bu? saya tidak memakai baju kerja," tanya Mikha.
"Tidak kemana-mana Mikha, itu hanya alasan saya saja pada Bian," ucapnya tersenyum.
__ADS_1
"Oh... ya sudah kalau begitu saya ijin pulang Bu." balas Mikha menunduk tanda hormat.
"Kamu hati-hati ya!"
"Iya Bu." Mikha berlalu pergi meninggalkan kediaman Bu Rena dan naik ke dalam taksi.
******
Di tempat lain...
Di sebuah Cafe, terlihat seorang wanita berambut lurus sebahu, mengenakan dres tanpa lengan warna merah mencolok dengan panjang di atas lutut terlihat sangat seksi sedang menikmati minuman jus yang dia pesan, membuat setiap laki-laki pengunjung cafe tertarik melirik wanita tersebut. Dari arah pintu terlihat laki-laki tampan dengan sejuta pesonanya membuat tatapan liar para wanita tertuju padanya, kedua bola mata laki-laki tersebut terlihat sedang mencari seseorang, dan matanya berhenti di sebuah kursi paling sudut, yah matanya tepat berhenti pada wanita yang mengenakan dres merah.
"Itu dia Alena, semakin cantik saja," batin Fabian, tersenyum dan bergegas menghampiri pujaan hatinya itu.
"Alena...." Panggil Fabian tersenyum
"Bian..." mata Alena berbinar dan memeluk Fabian, Fabian mencium pucuk kepala Alena.
"Aku merindukanmu,"
"Aku lebih merindukanmu Bian,"
"Lihat apakah selera makanmu masih sama? aku sudah pesan makanan favoritmu, aku selalu mengingatnya Bian, apalagi saat kamu menyatakan cinta di sini tepat d sudut Kafe ini." sambil tersenyum bahagia
"Dan di sini juga kamu pamit pergi sekian lamanya , tapi pada saat itu aku yakin, pasti kamu akan kembali sama aku, ternyata penantianku selama sebelas tahun ini gak sia-sia sayang." ucap Alena sambil memegang tangan Bian dan menyenderkan kepalanya.
"Aku pasti kembali sayang, karena aku tau kamu pasti menungguku." Ucap Bian seraya mengelus rambut Alena.
"Apa cintamu masih sama seperti dulu?"
"Tentu sayang, bahkan lebih dari dulu, kalau aku sudah gak cinta mungkin aku gak akan pulang dan menua di Amerika." Mereka tertawa bersama.
"Makan yuk!"
"Yuk."
Mereka makan bersama saling menyuapi, melepas rindu, mencurahkan segala rasa yang mereka rasakan selama ini. Sementara di sudut sebelah kanan ada sepasang mata seperti buaya lapar menemukan mangsanya dan Alena menyadari itu Alena juga masih ingat salah satu dari mereka pernah tidur bersamanya.
"Sayang, pulang yuk! aku gak betah kalau lama-lama banyak yang lihatin kamu." ucap Alena berdiri sambil menarik tangan Fabian untuk segera pergi.
Padahal yang banyak lihatin itu dirinya bukan Fabian, karena sebagian pengunjung banyak laki-laki dewasa, Fabian juga terlihat bingung dengan tingkah Alena yang terlihat buru-buru, Fabian menyimpan beberapa lembar uang ratusan di meja untuk membayar, mereka bergegas pergi dari cafe tersebut.
Mereka segera memasuki mobil menuju ke apartemen yang Alena tempati hasil menjajakan dirinya ke para lelaki hidung belang.
__ADS_1
Setibanya di apartemen Alena, Fabian hanya berniat mengantarkannya ke depan pintu, tetapi dengan cepat Alena menarik tangan Abian untuk masuk ke dalam. Fabian pun tampak tak sanggup untuk menolak ajakan Alena, dia juga merasa masih sangat merindukan Alena dan penasaran dengan isi Apartemen pujaan hatinya.