Pilihan Yang Tepat

Pilihan Yang Tepat
Hati Mikha Sudah Bulat


__ADS_3

"Sekali lagi aku minta maaf Mikha," ucap Fabian merasa sangat bersalah karena sedari tadi Mikha menundukkan kepalanya dalam dengan mata berkaca-kaca dan bibir bergetar menahan tangis.


Mikha merebahkan tubuhnya dengan selimut menutupinya dan membelakangi Fabian yang masih duduk terpaku menatapnya merasa iba. Mikha tak dapat lagi membendung air mata yang sedari tadi menggenangi pelupuk matanya, Mikha menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya. Di balik selimut Mikha meringkuk, menghela nafas berat berusaha menahan isak tangis berharap Fabian tak mengetahuinya.


Setelah lama memandangi Mikha yang masih berada di balik selimut tanpa berkata apapun dan tak bergerak sedikitpun, Fabian segera ke kamar mandi dan menuntaskan sesuatu yang tertunda kemudian memakai baju rapi. Pandangan Fabian kembali ke arah Mikha yang masih meringkuk bergeming di balik selimut dan Fabian menyangka bahwa Mikha telah tidur kemudian dia segera keluar dari kamar, bergegas menuju rumah Alena meski sudah tengah malam.


Di balik selimut tubuh Mikha berguncang bersama isak tangis yang begitu memilukan, tak pernah terbayangkan akan mengalami kejadian yang begitu mengecewakan sekaligus sangat memalukan. Apa yang Fabian lakukan malam ini membuatnya cukup tidak percaya diri.


Tangis Mikha semakin sesenggukan dadanya begitu sesak seperti terhimpit batu besar, bernafas pun terlihat kesulitan. Ingin sekali bercerita dan meluapkan semua emosi jiwa, namun kepada siapa? Hatinya sangat hancur, tidak pernah menyangka akan kembali mengalami suatu kejadian yang begitu menyayat hati.


Mikha membuka selimut itu, membersihkan diri dan memakai pakaian yang rapi. Mikha berniat untuk bermalam di rumahnya sampai tiba waktunya untuk berangkat ke Dubai. Dibarengi dengan deraian air mata, ia membereskan beberapa berkas yang akan dibawa ke dubai dan membereskan pakaian yang akan dia butuhkan di sana. Sesekali tangannya menyeka air mata yang sedari tadi tak kunjung berhenti.


"Jika berada di sini hanya kekecewaan yang selalu aku dapatkan untuk apa aku pertahankan? Aku akan pergi mencari cinta untuk bahagia," lirih Mikha.


Hati Mikha sudah bulat, dia akan pergi ke dubai tanpa memberitahu Fabian dan dia akan segera menyelesaikan urusannya. Koper hitam berukuran sedang ditariknya, dengan langkah gontai dia keluar dari rumah Fabian dan masuk ke dalam taksi yang sudah dia pesan lewat online. Mikha pun pergi bersama luka di hatinya.


Sebelum sampai rumah, Mikha mampir dulu ke super market untuk membeli kebutuhannya, Mikha berniat bersembunyi dari Fabian untuk sementara waktu dan dia akan kembali setelah urusannya selesai. Tatapan matanya sendu ketika melihat rumah mewah hasil kerja kerasnya dibiarkan kosong namun terlihat masih terawat karena seminggu sekali Mikha menyuruh jasa kebersihan untuk membersihkan rumahnya.


Mikha membuka pintu gerbangnya dengan rasa sakit masih menggelayuti hatinya, isak tangisnya datang kembali mengingat perlakukan Fabian barusan terhadapnya. Setelah menggembok kembali gerbangnya dengan langkah gontai Mikha memasuki rumahnya dan memilih beristirahat di kamar dekat dengan dapur berharap Fabian tak mencurigai keberadaannya. Mikha berusaha memejamkan matanya berharap hatinya akan lebih lega ketika pagi telah tiba.


*****.....*****


Sementara diwaktu yang sama ...


"Bi ... kenapa malam banget? Aku nungguin tau," ucap Alena langsung memeluk Fabian yang masih ada di depan pintu.


"Maaf, Alena! Tadi, aku ketiduran," ucap Fabian berbohong.


"Aku kira kamu tidak akan datang," ucap Alena seraya menggandeng Fabian menuju ruang tv.


"Aku pasti datang," balas Fabian singkat karena hati masih kepikiran Mikha.


"Apakah istri sementara kamu tahu, kamu datang menemui aku tengah malam gini?"


"Dia tahu,"

__ADS_1


"O-iya sayang, kalau dia ada rasa sama kamu dia pasti gak akan izinin kamu ke sini," ucap Alena berusaha mempengaruhi Fabian dan membuat Fabian terdiam sejenak.


"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Fabian mengalihkan pembicaraan.


"Aku nungguin kamu bi," ucap Alena memeluk Fabian.


"Tidur di sini ya!" ajak Alena dengan menyatukan kedua telapak tangannya memohon.


"Ya, udah malam juga," ucap Fabian.


"Terima kasih sayang." Alena kembali memeluk Fabian dan mencium pipinya.


"Aku kangen," bisik Alena tepat di telinga Fabian berusaha memancing hasrat Fabian.


"Cepat tidur! Sudah malam," balas Fabian mengelus pipi Alena pelan.


"Malam ini aku gak mau tidur," tolak Alena sedikit manja.


"Kenapa?"


"Aku cape Alena," tolak Fabian dengan nada lembut dan sedikit menjauhkan wajahnya membuat Alena kecewa dan ingin marah namun Alena berusaha meredamnya jangan sampai emosinya terpancing karena dia harus menyelesaikan misinya.


"Kamu ke sini hanya untuk tidur?" tanya Alena dengan raut wajah kecewa.


"Aku sudah tidur, terus terbangun lagi karena inget ada janji sama kamu," jawab Fabian berusaha meyakinkan Alena supaya percaya.


"Kamu gak kangen sama aku?" tanya Alena dengan raut wajah sedih.


"Aku kangen Alena, tapi aku ngantuk," jawab Fabian.


"Ya udah, ayo kita tidur di kamar!" ajak Alena seraya menarik tangan Fabian.


"Ya udah." Fabian menurut dan merebahkan dirinya tepat di samping Alena.


"Bi ...," panggil Alena.

__ADS_1


"Ya," sahut Fabian tanpa menoleh.


"Kamu masih sayang kan sama aku?"


"Ya, Alena,"


"Jangan ninggalin aku ya, aku tidak mau penantianku selama tiga belas tahun ini menjadi sia-sia," ucap Alena seraya menangis.


"Kamu sabar ya! Sama sekali aku tidak pernah terpikirkan untuk menikah dengan Mikha, pernikahan ini kamu yang mau. Aku bingung dihadapkan dengan situasi seperti ini, aku tidak mau mengecewakan mama tapi di sisi lain aku tidak mau mengecewakan kamu. Aku bingung Alena,"


"Kenapa bingung? Apa kamu udah ada rasa sama istri sementara kamu itu?"


"Tidak Alena, bukan begitu,"


"Terus? Apa kamu sudah menyentuhnya? Sehingga kamu tidak enak untuk meninggalkannya?"


"Belum Alena," jawab Fabian sedikit gugup.


"Belum kamu bilang? Berarti kalau belum, suatu saat kamu pasti akan menyentuhnya? kamu jahat Bi sama aku," ucap Alena seketika terisak.


"Bukan begitu maksud aku Alena, aku memang tidak melakukan hubungan itu karena aku selalu keingetan sama kamu," balas Fabian menenangkan Alena dengan memeluknya.


"Kalau begitu, kamu harus melakukannya denganku!" pinta Alena.


Fabian terdiam, menghela nafas berat. Sejenak memejamkan mata, berusaha mencerna apa yang Alena katakan.


Readers ....


Menurut kalian, apa Fabian akan mau?🤔


atau🙄


Tidak?😂


hehehe sampai ketemu di episode berikutnyaa ....

__ADS_1


__ADS_2