Pilihan Yang Tepat

Pilihan Yang Tepat
Puas?


__ADS_3

Happy Reading!


πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—


"Tidurlah! aku akan selalu jadi orang pertama yang selalu kamu lihat, sebelum kau menutup mata dan saat kau membuka mata," ucap Radit dalam hati.


****


Sementara di tempat yang berbeda


Fabian terlihat gelisah terus membolak-balikan ponselnya karena Alena tidak ada kabarnya semenjak keberangkatan Fabian ke Jerman.


Pesan yang Fabian kirim Alena hanya membacanya, padahal Fabian sangat menantikan kabar dari Alena.


"Apa aku suruh Mikha saja menemui Alena di apartemennya ya?" tanya Fabian pada dirinya sendiri.


"Ya ... besok kan dia libur kerja, jadi dia pasti ada waktu."


"Tapi ... mana mungkin bisa, dia kan lagi sama Radit. Ketagihan tuh pasti mereka gak akan berhenti-berhenti," gerutu Fabian.


Fabian terdiam dan terlihat kesal, pikirannya terus dipenuhi bayangan Radit sama Mikha yang sedang menikmati kebersamaannya.


"Saya di sini cape bekerja, mereka malah enak-enak," ucap Fabian kesal.


"Pokoknya dia harus mau mencari Alena."


*****


Kring ... kring ... kring


.


.


Kring ... kring ... kring


.


.


Mikha membuka matanya saat mendengar suara ponsel dari kamarnya, dia masih terasa berat untuk membuka matanya ... dilihatnya jam yang menempel di dinding.


"Pukul lima pagi, pantesan masih ngantuk, aku tidur hanya dua jam," ucapnya dalam hati.


Dia tersenyum ketika tangan milik Radit berada di atas kepalanya, dia juga ingat sebelum dia memasuki alam mimpi tangan Radit mengelus-ngelus rambutnya.


"Radit, kamu adalah orang kedua setelah ayahku yang rela tidur dengan posisi duduk demi memberikan kenyamanan untuk aku," gumam Mikha seraya menatap Radit.


Sementara ponsel Mikha tetap berdering.


Mikha membangunkan Radit, menepuk-nepuk pelan tangannya.


"Radit, bangun sudah pagi!

__ADS_1


Radit membuka matanya. "Aku angkat telpon dulu ya," ucap Mikha.


Mikha segera menuju kamarnya sementara Radit menuju kamar mandi.


CEO Fabian


"Halo,"


"Kamu kemana aja si? lama banget angkat telponnya," gerutu Fabian.


"Saya-" MIkha belum membereskan ucapannya Fabian telah memotongnya.


"Ya, saya tau pasti kamu tadi lagi tanggungkan? apa sekarang sudah selesai? sudah puas?"


Mikha mengerutkan keningnya setelah mendengar apa yang Fabian ucapkan.


"Puas?"


"Ya, aku tau kamu pasti sangat puas,"


Mikha semakin bingung dengan apa yang Fabian katakan tapi Mikha tidak mau ambil pusing.


"Bapak ada apa ya telpon saya pagi-pagi?"


"Kenapa? Apa saya menganggu kamu?" tanya Fabian.


"Oh, sama sekali tidak pak, ada apa ya?"


"Dia baik kok pak, kemarin saya lihat dia di hotel bu Rena,"


Fabian terdiam,


"Apa dia menemui mama?"


"Tidak pak, kata bu Rena calon istri anda menginap di sana,"


"Kok mama tidak bilang?"


"Mana saya tau pak," jawab Mikha datar.


"Ya sudah, hari ini kamu cari Alena di apartemennya ya! nanti alamatnya saya kirimkan."


"Iya, pak."


"Mikha ...," panggil Radit dan terdengar oleh Fabian.


Radit masih berdiri di depan pintu kamar dan Mikha menolehnya,


"Tuh kan Radit masih ada di rumahnya, berarti semalaman mereka bersama," ucap Fabian dalam hati.


"Kamu sudah mandi?" tanya Mikha kepada Radit.


"Sudah berapa kali kamu mandi malam ini Radit?" tanya Fabian dalam hati di seberang sana.

__ADS_1


"Dari tadi aku nungguin kamu, ternyata kamu masih nelpon," jawab Radit dan Fabian sangat jelas mendengarnya.


"Oh kalian mau mandi bareng, oke silahkan!" batin Fabian dan menutup telponnya tanpa permisi.


Mikha melihat layar ponselnya karena sambungan telpon dari Fabian tiba-tiba mati.


"Nungguin apa?" tanya Mikha seraya menyimpan ponselnya.


"Nungguin kamu keluar, aku mau pulang!"


"Oh ... maaf kelamaan ya? pak Bian nelpon,"


"Ya udah kamu cepet ke air dulu, aku mau pulang! hari ini kamu tidak akan kemana-mana kan?" tanya Radit dan Mikha menggelengkan kepalanya, dia lupa akan perintah bosnya.


"kalau ada apa-apa segera hubungi aku!" titah Radit.


"Kamu gak mau sarapan dulu di sini?"


"Aku masih kenyang, kan tiga jam yang lalu baru makan, hehehe," jawab Radit.


"Eh iya aku lupa, terima kasih ya Dit," ucap Mikha tersenyum.


"Ya," balas Radit mengacak rambut Mikha lembut.


"Hati-hati ya!"


"Siap,"


Radit keluar dari rumah Mikha dan mengambil ponselnya dari dalam saku celananya, mencari nomor Rangga dan menelponnya.


Tuuut ... tuut ... tuut


"Apa si bro malam-malam telpon?" tanya Rangga emosi di seberang telpon yang masih bergulung dengan selimutnya.


"Udah pagi dodol,"


"Ngarang lu! masih gelap juga,"


Radit tersenyum karena memang matahari belum muncul memancarkan cahayanya.


"Gue perlu ketemu sama lo, di kafe biasa ya jam sepuluh!"


"Oke." ucap Rangga dan langsung mematikan telfonnya.


Radit memasuki mobil dan segera menginjak pedal gas menuju ke kediamannya.


Tetap stay ya Readers!


πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€


❀️❀️❀️❀️❀️


πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2