
****
Sementara diwaktu yang sama dan tempat yang berbeda.
Mikha tengah merapikan rambutnya yang curly dan berwarna coklat dengan memakai dress t-shirt oversized warna biru muda yang diberi aksesoris ikat pinggang warna hitam, sneaker shoes putih yang dia gunakan memberikan kesan santai atas penampilannya tidak lupa tas kecil yang ia selempang kan di bahu kirinya.
Tujuannya yaitu pergi ke Apartemen Alena atas perintah Fabian.
Mikha menekan bel Apartemen milik Alena untuk yang ke sekian kalinya, tetapi tidak ada tanda-tanda orang di dalamnya.
"Kemana si?" ucap Mikha gelisah mondar-mandir di depan pintu Apartemen Alena.
"Apa saya cari ke hotel saja ya?" tanya Mikha pada dirinya sendiri.
Mikha memutuskan untuk mencari Alena ke hotel bu Rena.
"Selamat siang Bu,"
"Selamat siang Nona,"
"Selamat siang sekretaris Mikha,"
Itulah sapaan-sapaan dari para karyawan hotel dan petugas keamanannya, mereka sudah tidak asing dengan Mikha. Mereka sangat menyukai Mikha karena sikapnya yang ramah. Bagi mereka, Mikha sudah seperti atasannya. Mereka menghormati Mikha sama seperti mereka menghormati bu Rena, pemilik hotelnya.
"Selamat siang," jawab Mikha seraya menebar senyuman manisnya.
Mikha segera menghampiri resepsionis dan menanyakan kamar atas nama Alena, tetapi di dalam daftar tidak ada yang namanya Alena.
"Mikha," panggil bu Rena dan menghampiri Mikha.
"Bu ...," Mikha mencium tangan bu Rena.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Saya disuruh pak Bian untuk menemui bu Alena, saya sudah mencari ke Apartemennya tetapi dia tidak ada Bu dan saya teringat kemarin dia ada di sini, maka dari itu saya mencarinya ke sini," ucap Mikha dan bu Rena mengangguk paham.
"Rani, berikan nomor kamar yang dulu kamu kasih ke saya!" perintah bu Rena kepada resepsionisnya.
"Baik, bu," balas Rani dan memberikan nomor kamar yang ditempati pak Broto.
"Terima kasih," ucap Mikha Mikha kepada resepsionis.
"Saya permisi dulu bu!" pamit Mikha,
"Ya, kalau dia tidak ada di kamarnya, kamu langsung pulang saja! karena di kamar itu Alena menemani seseorang,"
"Baik, Bu," ucap Mikha dan bergegas mencari kamarnya.
"Kita lihat saja Alena, apa kamu akan terus bermain-main dengan saya dan menipu Fabian?" ucap bu Rena dalam hatinya terlihat ilfil.
"Masuk saja sayang!" perintah laki-laki itu membukakan pintu tanpa melihat siapa sebenarnya yang datang
.
Mikha mematung membelalakkan matanya.
"Maaf Pak ...," ucap Mikha dan seketika laki-laki itu menoleh karena itu bukan suara Alena.
"Bu Mikha saya pikir teman saya, maaf Bu saya tidak tau. Ada apa ya? Apa ada pekerjaan yang harus saya selesaikan?" tanya laki-laki itu terlihat kaget.
"Tidak Pak, saya ke sini mencari Alena. Dari informasi yang saya dengar Alena menginap di kamar ini tetapi mungkin orang itu salah pak, karena ini ternyata kamar Bapak ya?" tanya Mikha sopan.
"I- iya Bu, ini kamar saya bukan kamar Alena," jawab pak Broto terlihat gugup.
__ADS_1
"Apa Alena pernah datang ke sini?" tanya Mikha dengan sorot mata seakan mengintrogasi.
"Ti-tidak Bu," jawab pak Broto berusaha tenang karena bagaimanapun dia tidak mau kerja samanya batal dengan Fabian gara-gara menjalin hubungan dengan calon istrinya.
"Resepsionis bilang, bu Alena tamu di kamar Bapak. Apa itu benar?"
"Oh iya, saya hampir melupakannya dia pernah ke sini mencari pak Fabian," jawab pak Broto berusaha menyembunyikan kebohongannya dan sorot mata Mikha menelisik mencari jejak kebenaran di mata pak Broto tetapi Mikha tidak menemukan kebenaran itu, Mikha melihat ada sejuta kebohongan dan kegelisahan di mata pak Broto.
"Oh ... ya sudah, saya permisi Pak!" pamit Mikha sopan dan segera meninggalkan pak Broto.
"Apa maksudnya semua ini? Ada hubungan apa pak Broto sama Alena?" tanya Mikha pada dirinya sendiri seraya mempercepat langkahnya segera keluar dari gedung hotel.
Mikha memasuki taksi yang entah belum tau tujuannya mau kemana, dia masih kepikiran antara pak Broto dengan Alena.
"Apa yang harus aku katakan ke pak Bian ya?" tanyanya dalam hati terlihat kebingungan dari sorot matanya.
"Mau kemana Bu?" tanya supir taksi.
"Berhenti di kafe depan saja Pak!" jawab Mikha.
"Baik, Bu,"
Mikha segera turun dan masuk ke dalam kafe yang terlihat ramai. Mengedarkan pandangannya seraya terus berjalan mencari tempat duduk yang kosong. Mikha tidak menyadari langkahnya telah melewati Radit yang sedang duduk di dekat jendela menghadap keluar. Mikha selalu menjadi pusat perhatian dimanapun, hampir semua mata tertuju kepadanya mengagumi kecantikannya. Suasana kafe terlihat berbeda setelah kedatangan Mikha, Radit penasaran dan mengalihkan pandangannya kepada seseorang yang menjadi pusat perhatian. Radit tersenyum dan tau bahwa yang sedang berdiri membelakanginya itu adalah Mikha, Radit segera menghampirinya.
"Ayo!" ajak Radit seraya memegang bahu Mikha lembut dengan kedua tangannya dan cukup membuat Mikha tersentak kaget, seketika Mikha menoleh.
"Radit," ucap Mikha dengan mata berbinar.
"Memangnya kamu pikir siapa? hehehe," tanya Radit seraya mengajak Mikha duduk di kursi yang sedang Radit tempati.
π€π€π€π€ Tinggalkan kritik dan sarannya ππππ
__ADS_1