Pilihan Yang Tepat

Pilihan Yang Tepat
Dia akan menunggu jandaku


__ADS_3

Radit menghela nafasnya, "Kamu tenang saja, aku akan menerima jandamu kalau dia menceraikanmu," kekeh Radit.😝


"Aku serius," balas Mikha mengerucutkan bibirnya.


"Aku juga," kekeh Radit.


"Kamu ya," ucap Mikha menggelitik pinggang Radit dan membuat Radit tertawa kegelian.


"Udah-udah, ampun Mikha," pinta Radit dan berhasil memegang tangan Mikha lalu menciumnya dan seketika membuat Mikha sejenak terdiam menatap Radit lalu memeluknya.


"Tetaplah menjadi sahabat paling menenangkan!" pinta Mikha.


"Tetaplah menjadi Mikha yang paling menyenangkan!" balas Radit.


"Menyenangkan?" tanya Mikha.


"Iya, bagiku dekat denganmu itu sangat menyenangkan Mikha,"


"Dan bagiku dekat denganmu sangat menenangkan,"πŸ€—


"Aku akan berusaha menjadi sahabat paling menenangkan meski jarak kta berjauhan," ucap Radit.


"Terima kasih,"😍


"Pulang yuk! udah sore," ajak Mikha.


"Yuk! mau ke kantor lagi apa langsung ke rumah?"


"Pulang ke rumah saja,"


"Ya udah yuk!"


*****.....******


Suara ponsel yang nyaring di tengah sunyinya malam cukup mengagetkan Mikha, masih jam delapan malam tapi suasana sudah sangat sepi mungkin karena hujan deras sejak sore hari.


"Siapa sih?" gumam Mikha seraya mengecek ponselnya dan menggeser tanda hijau di layar ponselnya dengan malas.


"Apa?" πŸ™„


"Bukain pintunya!" ucap Laki-laki di seberang telpon.


Mikha segera keluar dari kamarnya dan membukakan pintunya. Terlihat Laki-laki dengan bahu lebar dan punggung meruncing dibalik kaos berwarna biru tua itu tengah berdiri membelakangi Mikha.


"Ada apa?"πŸ™„ tanya Mikha ketus berdiri di depan pintu seraya melipat tangannya di dada dan sontak membuat Fabian membalikkan badannya.


"Gak diajak masuk dulu? Ini calon suamimu loh," ucap Fabian.


"Masuk!" titah Mikha.


Fabian mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan di dalam rumah Mikha dan duduk tanpa dipersilahkan.


Mikha menghampiri Fabian dengan segelas kopi favorit Bian dan duduk di sofa seberang Fabian.


"Terima kasih Mikha,"


"Ada apa malam-malam ke rumah?" tanya Mikha.

__ADS_1


"Saya cuma ingin tau malam-malam begini calon istri saya lagi apa," jawab Fabian asal.


"Modus banget," ucap Mikha singkat.


"Tadi di kantor kamu kok gak ada, kamu kemana?" tanya Fabian.


"Pulang,"


"Kok gak bilang dulu sama saya,"


"Maaf,"


"Saya sudah bilang sama mama dan nenek, minggu depan kita akan menikah,"


"Apa?" tanya Mikha kaget seolah tidak percaya dengan apa yang Fabian ucapkan.


"Kenapa kaget?" tanya Bian polos.


"Jelas saya kaget lah Pak, Bapak senaknya menentukan tanggal pernikahan saya tanpa bilang dulu sama saya,"


"Bukan pernikahan kamu Mikha,"


"Lantas pernikahan siapa?"


"Pernikahan kita," jawab Fabian datar.


"Iya berarti itu pernikahan saya,"


"Kita Mikha, karena tidak mungkin kamu menikah sendirian,"


"Iya,iya ... kenapa secepat itu si?" tanya Mikha kesal.


"Lebih baik buat perusahaan?" tanya Mikha dengan suara lebih tinggi.


"Kamu kalau sama calon suami ngomong jangan galak-galak!"


"Hmmm ...,"


"Mama dan nenek sangat setuju dengan pernikahan kita, kamu jangan sampai bilang sama mereka kalau pernikahan kita hanya sementara! Saya tidak mau mereka kecewa, saya sudah bilang sama mereka bahwa kamu sangat mecintai saya dan memutuskan untuk bersedia menikah dengan saya karena ingin membantu saya meneruskan kerja sama itu,"


ucap Fabian dengan wajah merasa paling benar.


"Apa? Bapak bilang ke mereka bahwa saya mencintai Bapak?" tanya Mikha seraya membelalakan matanya.


"Ya," jawab Fabian singkat.


"Kenapa harus bilang saya yang mencintai Bapak?"


"Kalau saya bilang, saya yang mencintai kamu mereka tidak akan percaya dengan pernikahan mendadak kita karena yang mereka tau saya hanya mencintai Alena,"


Mikha menghembuskan nafas kasar.


"Kenapa? Kamu tidak terima dibilang mencintai saya?"


"Gak adil saja Pak, kan Bapak yang mengajak saya menikah," jawab Mikha lirih.


"O iya, setelah menikah kamu tinggal di rumah saya!"

__ADS_1


"Saya punya rumah sendiri," tolak Mikha.


"Mama dan nenek akan curiga kalau kita pisah rumah,"


"Ya saya mau tinggal di rumah Bapak, tapi-" ucap Mikha terpotong.


"Tapi apa?" tanya Fabian.


"Tapi Bapak tidak boleh bawa Alena ke rumah Bapak!"


"Loh kenapa? Kamu kan tau hubungan saya dengan Alena,"


"Kamu boleh minta apapun tapi jangan melarang Alena datang ke rumah saya!" Fabian memohon.


"Ya sudah saya tidak mau tinggal di rumah Bapak," ucap Mikha cuek membuat Fabian menghembuskan nafas kasar.


"Please Mikha," mohon Fabian seraya menatap Mikha.


"Kamu boleh meminta apapun dari saya, kamu mau mobil? Mau rumah? mau apapun akan saya penuhi asal kamu jangan melarang Alena datang ke rumah saya,"


"Saya tidak membutuhkannya kalaupun saya butuh saya bisa beli sendiri," ucap Mikha percaya diri.


"Ya udah iya, saya tidak akan pernah mengajak Alena ke rumah kita," ucap Fabian mengalah.


"Rumah kita?" tanya Mikha dalam hati.


"Ya udah," ucap Mikha cuek.


"Tapi ... kalau dia datang sendiri, saya tidak tau yang pasti saya tidak pernah mengajaknya,"


"Hmmm,"


"Sudah belum ngomongnya?" tanya Mikha ketus.


"Kalau belum?" Fabian bertanya balik.


"Mau ngomong apalagi?"


"Kamu sudah bilang sama Radit?" tanya Fabian.


"Sudah,"


"Apa dia terima?"


"Ya,"


"Dia bilang apa?"


"Dia akan menunggu jandaku," jawab Mikha cuek dan sontak membuat Fabian terkejut tak percaya dengan apa yang dikatakan Mikha.


******.......******


Jreng ... Jreng ... Jreng


Terima kasih telah berkenan membaca!


Sampai jumpa di episode berikutnya.

__ADS_1


😍😍😍😍😍😍😍


__ADS_2