
Mau apa anda ke klub?" tanya Alena penasaran.
"Di suruh bos kamu,"
"Oh jadi kamu ngikutin saya sampai klub?"
Mikha terdiam mencerna pertanyaan Alena.
"Jadi yang di klub itu beneran anda?" tanya Mikha.
"Em ... bukan. Urusan bos kamu, biar saya yang langsung hubungi dia. Kamu gak perlu mengabarinya lagi!"
"Ya, itu lebih baik. Oh iya, saya hampir lupa." Mikha membuka dompetnya dan mengambil sesuatu dari dalam sana.
"Ini ATM dari pak Bian buat kamu," ucap Mikha seraya memberikan ATMnya.
"Dari Fabian? Oh so' sweet," ucap Alena seraya mencium ATM itu.
"O-iya, Rangga terima kasih ya atas makan siangnya," ucap Alena seraya memegang tangan Rangga.
"Dan Radit terima kasih udah bolehin aku makan siang bareng kalian," lanjut Alena memegang tangan Radit dan mengelusnya dengan ibu jari membuat mata coklat Mikha seketika membulat.
Radit segera menarik tangannya setelah mengetahui Mikha membulatkan matanya.
"Aku permisi ya, bay ... Mikha," pamit Alena dan segera melangkahkan kakinya keluar dari kafe Rangga.
"Kalian kenal dekat ya dengan calon istrinya pak Bian?"
"Enggak," jawab Radit dan Rangga kompak.
"Oooo,"
__ADS_1
"Habis ini mau kemana?" tanya Radit.
"Aku langsung pulang, tugas aku sudah selesai," jawab Mikha.
"Tugas apa si Mikha?" tanya Rangga.
"Mencari bu Alena dan memastikan bahwa bu Alena baik-baik saja,"
Radit menghembuskan nafas kasar, antara kasihan dan gemes sama Fabian masa ia dia tidak tau kelakuan calon istri yang sebenarnya.
"kapan Fabian menikah dengan Alena?" tanya Radit.
"Kurang tau sih, aku gak terlalu ikut campur sama urusan pribadinya," jawab Mikha.
"Aku pulang dulu ya!"
"Aku anterin!"
"Dia pemilik kafe ini, dia sampai sore di sini,"
"Eh iya, terima kasih ya Rangga,"
"Ok, hati-hati,"
"Thanks bro," ucap Radit seraya berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari kafe milik Rangga.
❤️❤️❤️
Fabian mempercepat kepulangannya tanpa memberitahu Mikha, Fabian langsung datang ke kantornya karena banyak berkas penting hasil pekerjaannya selama di Jerman dan harus dia amankan di kantor.
sore itu dikala hujan deras hanya Mikha yang masih berada di kantor. Di ruangan Fabian, Mikha tengah disibukan dengan pekerjaannya, mengetik beberapa surat kerja sama dan membuat schedule setelah Fabian kembali ke kantor. Selama Fabian di Jerman, Mikha yang menempati ruangan Fabian dan itu atas perintahnya. Fabian mempercepat langkahnya ketika mendengar suara ketikan keyboard komputer dari ruangannya.
__ADS_1
"Siapa yang masih berada di kantor jam segini?" tanya Fabian pada dirinya seraya mempercapat langkahnya.
"Atau jangan-jangan ada yang memindahkan file rahasia perusahaan." Fabian membuka pintu ruangannya dengan keras dan membuat Mikha tersentak kaget hingga berdiri.
"Mikha," panggilnya.
"Pak Bian," ucap Mikha seraya menjauh dari kursi kebesaran Fabian.
"Saya pikir siapa yang berada dalam ruangan saya jam segini,"
"Di luar hujan pak, taksi gak ada yang lewat jadi saya kembali lagi ke dalam membereskan pekerjaan,"
"Kenapa gak pesan taksi online saja?" tanya Fabian.
"Ponsel saya mati pak, charger yang biasa saya simpan di kantor ternyata rusak,"
"Bapak langsung pulang ke sini?"
"Iya, ini kamu amankan berkasnya!" perintah Fabian seraya memberikan setumpuk berkas yang ada di tangannya.
"I-iya pak," ucap Mikha seraya menerima berkasnya.
"Simpan di brankas saja biar aman!" perintah Fabian.
"Baik, pak," ucap Mikha dan memasukan berkas itu ke brankas.
Fabian duduk di kursi kebesarannya, memandangi Mikha yang memunggunginya dilihatnya kaki jenjang Mikha dari belakang yang putih mulus tanpa noda, ngebayangin setiap inci tubuh Mikha yang dicumbui Radit cukup membuatnya kesal.
🤔🤔🤔🤔
Hati-hati Fabian nanti kamu jatuh cinta ❤️❤️🤭🤭
__ADS_1