
Hai ... Readers tercinta ππ
Maafkan author yang telat upnya!ππ
Semoga Readers tidak bosan dengan karya pertamaku ini π€²
Happy Reading ππ
Alena membuka pintu apartemennya dan mengedarkan pandangannya, terlihat tubuh tegap laki-laki yang sedang berbaring di atas sofa, dia menghampirinya dengan langkah hati-hati berusaha berjalan pelan jangan sampai langkah dan kedatangannya membangunkan Fabian. Alena bergegas mengganti pakaiannya supaya saat Fabian bangun, dia menyangka bahwa Alena telah lama pulang.
"Bi," panggil Alena menepuk-nepuk pipi Fabian.
Fabian membuka matanya dia sangat bahagia wanita yang dicintainya ada di hadapannya.
"Kapan pulang?" tanya Fabian.
"Aku dari tadi sudah pulang sayang, aku gak tega bangunin kamu," jawab Alena
menyenderkan kepalanya di bahu Fabian.
"Habis darimana?" tanya Fabian mencium pucuk kepala Alena. "Kok baunya beda si, apa Alena genti parfum ya?" tanya Bian dalam hati karena merasa wanginya Alena tidak seperti biasanya.
Fabian mencium bau yang berbeda dari tubuh Alena. Ya, itu aroma tubuh Reza yang masih menempel di tubuh Alena.
"Dari supermaket depan sayang,"
__ADS_1
"Beli parfum ya?" tanya Fabian.
"Enggak sayang, aku habis cari makanan,"
"Kamu ganti parfum ya?"
Alena terdiam, dia belum sempat mandi setelah pergulatan panasnya dengan Reza.
"A-aku tadi mau beli parfum. Aku cobain dulu semprotin ke tubuh aku, eh baunya gini gak enak gak jadi beli deh. hehehe,"
"Oh ... pantesan baunya beda, hehehe,"
"Beda ya? Aku mandi dulu deh!" ucap Alena seraya berdiri tetapi Fabian malah menariknya kembali.
"Kenapa? Kamu kangen sama aku?" tanya Alena.
"Perihal?"
"Hubungan kita,"
"Ada apa sayang? Apa masalah pernikahan kita? Gak apa-apa sayang kalau belum ada restu dari mamah kamu, aku siap menunggu sampai kapanpun," ucap Alena meyakinkan Fabian, dia juga tidak siap untuk menikah tahun-tahun ini karena dia sudah terikat kontrak hubungan dengan Reza jadi tidak mungkin kalau dia harus menikah dengan Fabian.
"Bukan itu sayang," jawab Bian terlihat iba melihat Alena yang menurut Fabian begitu sabar menantinya.
"Lantas apa?" tanya Alena penasaran.
__ADS_1
"Kamu masih ingat perihal perusahaan aku yang akan menjalin kontrak kerja sama dengan perusahaan di Dubai?" tanya Fabian menggenggam tangan Alena.
"Iya," jawab Alena seraya menganggukan kepalanya.
"Ternyata kontrak kerja sama itu yang mengelola harus istri-istri dari pimpinan perusahaan, sedangkan aku kan belum menikah jadi nenek memintaku untuk segera menikah," lirih Fabian.
"Apa?" tanya Alena terlihat kaget.
"Iya sayang, apa kamu mau menikah denganku dan mengelola bisnis?" tanya Fabian penuh harap.
"Kok ngomongnya ngedadak gini si? Hari ini aku telah menandatangan kontrak hubungan dengan Reza. Aku gak bisa membatalkannya, lagian aku lagi seneng-senengnya ketemu lagi dengan Reza. Tetapi disisi lain, aku butuh setatus untuk hidupku. Bagaimana ini?" tanya Alena dalam hati, terlihat oleh Fabian wajah Alena yang pucat dipenuhi dengan kebingungan.
"Kenapa sayang, Kok diam?" tanya Fabian seraya mengelus tangan Alena.
"Apa mama kamu akan menyetujui pernikahan kita?" Alena malah balik bertanya.
"Ya ampun sayang, ternyata dari tadi kamu diam sampai wajahmu pucat itu memikirkan mama ya?"
"Heem ... iya," jawab Alena menganggukkan kepalanya dua kali.
"Kamu tenang saja, kalau kamu mau aku akan memohon sama mama supaya merestui pernikahan kita," ucap Fabian menenangkan dan mencium tangan Alena yang sedari tadi berada dalam genggamannya.
****....****
Readers ...
__ADS_1
Apakah kalian setuju dengan pernikahan Alena dan Fabian? ...
π€π€