
"Duduk sini!" perintah Radit seraya menepuk sofa di sampingnya.
"Kenapa tidak menyalakan lampunya?" tanya Mikha seraya melangkah menuju saklar lampu tetapi Radit mencegahnya.
"Jangan Mikha!"
"Kenapa?" tanya Mikha berbalik badan.
"Biarkan seperti ini,"
"kenapa?" tanya Mikha yang masih berdiri.
"Sudah ada cahaya dari ruangan sebelah, suasana yang tidak terlalu terang membuatku lebih nyaman," jawab Radit.
"Menurutku juga seperti itu," ucap Mikha dan duduk di samping Radit.
Radit memposisikan duduknya untuk menghadap Mikha, begitupun dengan Mikha dia mengubah posisi duduknya menghadap Radit. Mereka duduk berhadapan dalam satu sofa yang sama.
"Aku mau bicara," ucap Radit serius.
Mikha mengangguk.
"Kamu kenal Klien itu?" tanya Radit.
Mikha menjawab dengan anggukan kepalanya.
"Dia siapa?"
"Sesuatu terjadi diluar dugaan, aku tidak pernah menyangka Tuhan mempertemukan lagi aku dengan dia,"
"Apa kamu kenal dekat dengannya?"
"Ya, dia Reza mantan kekasih saat aku masih SMA,"
"Apa kamu pernah menyakitinya?"
__ADS_1
"Aku meninggalkannya, setelah aku memergoki dia sedang melakukan hubungan terlarang dengan sahabatku,"
Radit terdiam
" Aku tak tau apa maksud dia dibalik semua ini? apa yang dia inginkan? apa yang dia rencanakan? aku gak ngebayangin seandainya kamu tidak datang mungkin aku dan dia ..." ucap Mikha terpotong setelah Radit menempelkan jari telunjuknya di bibir Mikha.
"Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu," ucap Radit menatap Mikha dalam.
"Terima kasih," ucap Mikha spontan memeluk Radit mendekatkan tubuhnya dan menempelkan kepalanya di dada bidang milik Radit.
Nyaman, itu yang Mikha rasakan.
"Untuk ke depannya, kamu harus berhati-hati! kalau bisa kamu harus menolak ketika klien mengajakmu bertemu di tempat seperti itu," ucap Radit seraya mengelus kepala Mikha yang masih menempel di dadanya.
"Kalau pak Bian yang menyuruh?" tanya Mikha yang masih melingkarkan tangannya di pinggang Radit.
"Kamu tidak boleh pergi sendirian!"
"Kalau pak Bian menyuruhku pergi sendiri?"
"Aku akan temani kamu,"
"Aku akan memberikan seluruh waktuku untukmu," jawab Radit sejujurnya.
Mikha terdiam seakan ada sejuta pertanyaan yang ingin dia ungkapkan, namun dia urungkan.
"Pastikan minuman yang kamu minum itu aman!" perintah Radit.
"Mana aku tau minuman itu telah dicampurkan," balas Mikha.
"Kamu harus bisa membaca situasi, lebih teliti dan lebih peka terhadap setiap kondisi yang ada di sekitarmu!"
"Aku juga bingung, kenapa malam ini aku bisa ceroboh," ucapnya, Mikha bingung dengan dirinya sendiri tidak biasanya dia seperti ini.
"Mungkin kamu lelah," ucap Radit dengan tangan kiri mengusap kepala Mikha yang masih betah menempel di dadanya dan tangan kanan memegang tangan kiri Mikha.
__ADS_1
"Saat itu aku bosan menunggu Reza, sudah sangat lama dia terus membolak-balikan berkas tanpa menandatanganinya," ucap Mikha.
"Dan pada saat itu juga Reza sedang menunggu kamu segera meminum jusnya," balas Radit.
"Ya, aku baru paham. Aku tidak bisa membaca situasi malam tadi."
"Untuk kedepannya, kalau kamu tidak memesan minuman itu sebaiknya kamu jangan meminumnya!" saran Radit.
"Termasuk minuman yang kamu pesan?" tanya Mikha polos.
"Iya," jawab Radit.
"Kenapa?"
"Takut aku campurkan obat perangsang dalam minuman kamu," jawab Radit terkekeh.
"Aku gak takut," tantang Mikha.
"Kenapa?" tanya Radit penasaran.
"Buktinya, saat aku dalam pengaruh obat itupun aku tetap aman bersama kamu dan kamu tidak memanfaatkan aku. Aku ingat dengan jelas saat aku membuka pakaian karena gak kuat dengan hawa panas yang menjalar dalam tubuhku, kamu malah menutup matamu. Bahkan saat aku meminta kamu untuk cepat melakukannya, kamu malah menolak dan memarahiku," jelas Mikha.
"Kamu bukan gay kan? kamu suka perempuan kan Dit?" tanya Mikha khawatir akan Radit.
Radit terdiam dan suasana seketika hening.
"Kalau kamu meminta dalam keadaan sadar, aku tidak akan menolaknya Mikha," ucap Radit.
🤭🤭🤭🤭🤭
😂😂😂😂😂
❤️❤️❤️❤️
Sudah dulu ya readers..
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca,
Tinggalkan kritik dan sarannya!