
Hai ...
Happy Reading ...
"Lagian tidak akan mungkin orang dewasa yang berada dalam satu ruangan dan dalam pengaruh obat, tidak melakukan apa-apa," ucap Fabian dalam hatinya terlihat sangat kesal di seberang sana kemudian menutup telponnya.
*****
"Setelah kamu memutuskan untuk mengkhianatiku, akupun telah memutuskan untuk pergi dan tidak akan pernah kembali lagi padamu. Sekalipun pada akhirnya nanti kamu kembali dengan segudang janji untuk setia padaku, membangun kembali kepercayaan untukku dan meminta mengulang kisah kita, aku akan tetap dengan pendirianku. Aku tidak akan mengulang kisah dengan seseorang yang akan menghancurkan harapanku sewaktu-waktu," ucap Mikha dalam hati mengingat kejadian malam tadi dengan mantan kekasihnya.
Mikha segera mengambil pakaian yang tersimpan di dalam lemarinya, menanggalkan selimut yang membungkus tubuhnya melihat setiap inci seluruh tubuhnya yang tidak ada tanda-tanda bekas apapun.
"Radit menjagaku dengan sangat baik," ucapnya tersenyum dalam hati.
Mikha segera memakai pakaian santainya, dilihatnya jam yang menempel di dinding kamarnya.
"Pukul dua dini hari," gumam Mikha tak percaya.
"Loh, kok ponselku ada di nakas," ucapnya bingung dan segera mengambil ponselnya.
"Panggilan masuk dari CEO fabian, mungkin Radit yang mengangkat telponnya," gumam Mikha.
Mikha segera keluar dari kamarnya, aroma masakan yang menggugah selera membuat cacing yang ada dalam perut Mikha semakin meronta.
Terlihat bahu Radit yang lebar bersembunyi di balik kaos oblong putih yang ia ganti sewaktu Mikha masih di dalam kamarnya dan lengan kekar yang dengan cekatan memegang spatula membuat Mikha menyunggingkan senyumnya.
"Kamu memang laki-laki terbaik yang pernah aku temui Dit," ucap Mikha seraya melangkah menghampiri Radit.
Radit mematikan kompornya dan menghidangkan nasi goreng buatannya di atas piring yang telah ia siapkan di atas meja.
"Sudah baikkan?" tanya Radit dengan wajah bahagianya.
"Emang aku kenapa? apa aku tadi terlihat tidak baik-baik saja?" tanya Mikha, pura-pura tidak tahu dan memang kenyataannya Mikha tak mengingat dengan jelas kejadiannya.
"Enggak, kamu gak apa-apa," jawab Radit tersenyum yang masih terbayang kelakuan Mikha.
__ADS_1
"Aku tau kamu bohong," ucap Mikha mengerucutkan bibirnya.
"Cepet makan! katanya lapar," titah Radit yang masih dengan senyumannya.
"Habis makan, kamu harus cerita!" ucap Mikha.
"Habis makan, kamu harus cerita! balas Radit mengulangnya disertai kekehannya.
Mikha memasukan sendok yang berisi nasi goreng itu ke dalam mulutnya,
"Rasanya tidak buruk," ucap Mikha.
"Kok ngomongnya gitu," balas Radit.
"Terus aku harus ngomong apa?" tanya Mikha seraya terus mengunyah makannya.
"Rasanya enak, bilang aja begitu!"
"Oh, begitu," ucap Mika seraya mengangguk.
"Ini nasi goreng pertama yang aku buat,"
"Serius?"
"Ya,"
"Kamu hebat," puji Mikha tersenyum.
"Ya, tentu," balas Radit dengan percaya diri.
Radit terus menatap Mikha hingga makannya selesai.
"Aku akan selalu berusaha menjagamu, aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu Mikha," ucap Radit dalam hati.
"Ah, kenyang," ucap Mikha mengelus perutnya yang tetap rata.
__ADS_1
Radit hanya tersenyum.
"O-iya tadi telpon pak Bian, kamu yang angkat?" tanya Mikha.
"Iya," jawab Radit datar.
"Kamu ceritakan yang sebenarnya kan?"
"Tentu,"
"Dia bilang apa?" tanya Mikha, bagaimanapun Mikha merasa dia tidak profesional dalam bekerja.
"Dia bilang, kamu tidak usah menemuinya kembali."
"Syukur deh."
Mikha membereskan piring kotor bekas makannya.
"Ngobrol yuk!" ajak Radit serius.
"Kamu tunggu di ruang TV! aku cuci dulu piringnya," ucap Mikha seraya membawa piring kotornya.
"Aku tunggu," ucap Radit melangkahkan kakinya ke ruang TV dan duduk di sofa panjang tepat menghadap TV yang sengaja tidak Radit nyalakan.
Selesai mencuci piring, Mikha secepatnya menghampiri Radit.
"Duduk sini!" perintah Radit seraya menepuk sofa di sampingnya.
"Kenapa tidak menyalakan lampunya?" tanya Mikha seraya melangkah menuju saklar lampu tetapi Radit mencegahnya.
"Jangan Mikha!"
Tinggalkan kritik dan sarannya ya!
❤️❤️❤️
__ADS_1