
"Aku buatin kamu minum ya! Kamu mau minum apa?" tanya Fabian.
"Gak usah, biar aku yang buatin kamu minum," jawab Alena menolaknya.
Alena melangkahkan kakinya ke dapur dan berpapasan dengan Mikha yang telah berdandan rapi dan sangat cantik. Mikha memutuskan untuk pergi keluar sebentar untuk mencari angin atau cuma sekedar jalan-ajalan di mall.
"Aku keluar dulu ya!" ucap Mikha kembali dengan sikap dinginnya.
"Kenapa pergi? Aku kan tidak jadi pergi." Fabian berdiri menghampiri Mikha.
"Kamu sedang bersamanya dan aku akan pergi dengannya," ucap Mikha berbohong dan segera melangkahkan kakinya untuk pergi.
"Aku berhak melarang kamu pergi," ucap Fabian dan membuat Mikha berhenti melangkahkan kakinya.
"Aku punya hak untuk mencari kebahagiaanku sendiri," ucap Mikha.
"Kamu punya kewajiban untuk menuruti apa kata suami kamu," ucap Fabian.
"Dan kamu punya kewajiban untuk membahagiakan istrimu, meski bagimu aku hanya ISTRI SEMENTARA," balas Mikha menegaskan.
"Apapun itu, aku tetap melarang kamu pergi."
Tanpa menolehnya, Mikha pun mengurungkan niatnya untuk pergi.
__ADS_1
Terlihat ada kelegaan di hati Fabian, meski Mikha terlihat kesal tapi setidaknya yang penting Mikha tidak jadi pergi. Sejujurnya Fabian tidak sanggup jika membayangkan, Mikha berdua bersama Radit dan mengulang kisah mereka saat tidur bersama, padahal semua itu hanya pikiran Fabian karena dia tidak tau kejadian yang sebenarnya. Tiba-tiba langkah Mikha terhenti.
"Aku tidak suka ya, ada sembarang orang memasuki dapurku," ucap Mikha yang masih membelakangi Fabian kemudian kembali melangkahkan kakinya menuju kamar dan Fabian sangat jelas mendengarnya.
"Kenapa sayang? Kok terlihat kesal?" tanya Alena seraya membawa dua gelas minuman di tangannya kemudian meletakkannya di meja dan menghampiri Fabian yang sedari tadi mematung.
"Tidak apa-apa," jawab Fabian singkat.
"Kenapa? Aku tidak percaya kamu tidak apa-apa," ucap Alena menatap dalam Fabian terlihat sangat penasaran karena wajah Fabian yang kebingungan.
"Dapurku ada penghuninya, kamu tau? Tadi waktu kamu memasuki dapur, penghuninya menunjukan aura marah padaku karena dia merasa terganggu dengan kedatanganmu. Kamu bisa gak merasakannya? Kalau aku bisa merasakannya, tadi seakan dia berbisik kalau dia tidak suka ada sembarang orang yang memasuki daerah kekuasaannya," ucap Fabian menakutinya dan berhasil membuat bulu kuduk Alena seketika merinding.
"Kamu lagi tidak bohongin aku kan?" tanya Alena memegang erat tangan Fabian sedikit gemetar karena ketakutan.
"Aku gak bohong Alena, yang punya kawasan memang benar marah. Memangnya kamu tidak merasakannya?" jawaban Fabian berusaha mengelabui Alena supaya dia tidak berani masuk dapur lagi dan berharap Mikha tidak marah lagi.
"Aku juga tidak tahu Alena, mungkin karena sudah lama tidak ditempati semenjak ayah aku meninggal," jawab Fabian dan membuat Alena semakin ketakutan.
"Ke kamar yuk! Di kamar aman kan sayang?" ajak Alena.
"Justru itu di kamar lebih tidak aman Alena, aku saja jarang tidur di kamar,"
"Serius?" tanya Alena seraya membulatkan matanya.
__ADS_1
"Iya," jawab Fabian menganggukkan kepalanya.
"Aku pulang ya!" ucap Alena.
"Kenapa?" tanya Fabian.
"Aku, takut," jawab Alena menunduk.
"Apa kamu juga bisa merasakan ada sesuatu?" tanya Fabian.
"Tidak sih, cuma apa yang kamu katakan membuat bulu kudukku merinding," jawab Alena seraya mengusap leher belakangnya.
"Ya udah, kamu pulang dulu saja! Aku akan memastikan bahwa penghuni dalam rumah ini tidak akan marah," ucap Fabian seraya mengantar Alena ke depan pintu.
"Istri sementara kamu sudah pergi kan?" tanya Alena, Alena menyangka bahwa Mikha sedari tadi tidak ada di rumah karena pas dia mau ke dapur berpapasan dengan Mikha yang sudah rapi dan terlihat mau berpergian.
"I-iya," jawab Fabian seketika mengiyakan meski dia sedikit bingung.
"Kamu hati-hati di rumah sendirian!"
"Kamu juga hati-hati di jalan ya!"
"Iya sayang." Alena mencium kedua pipi Fabian.
__ADS_1
Fabian menghela nafas setelah Alena berlalu pergi dan menghilang dari pandangan Fabian.
π¬π¬π¬π¬π¬π¬