
"Istirahatlah, aku ke kantor dulu. Aku sangat mencintai kamu," ucap Radit dengan tatapan penuh keyakinan.
******......******
"Sayang, aku pulang dulu ya!" pamit Alena yang masih berada dalam kamar hotel.
Sebenarnya Alena hari ini mau ke tempat Reza, tapi karena masih terlalu pagi jadi dia mencari dulu Fabian ke hotel.
"Hati-hati ya! Lain kali jangan melakukan hal yang kelewat batas, aku gak mau kalau Radit melaporkanmu ke polisi karena tindakanmu ke Mikha. Aku ingin kamu baik-baik saja selama aku terikat pernikahan, kamu jangan khawatir aku hanya mencintai kamu," ucap Fabian dan Alena mengangguk mencium Fabian lalu pergi.
Kring ... kring ... kring
"Mama," lirih Fabian.
"Hallo ma,"
"Kenapa belum ke sini, apa Mikha belum bangun?" tanya mama Rena.
"Sebentar lagi Fabian ke sana ma,"
"Mama tunggu ya," ucap mama Rena dan langsung mematikan ponselnya.
"Aku harus segera menjemput Mikha,"
****.....****
Mikha tengah mengambil keputusan untuk mencoba bertahan dan membuat Fabian mengerti akan arti kewajiban dan tanggung jawab dalam sebuah pernikahan. Mikha akan menjalani pernikahannya dengan setulus hati karena bagaimanapun pernikahannya sah di mata hukum dan agama.
Suara bell membuat Mikha menghentikan makannya dan melangkahkan kakinya untuk membuka pintu. Mikha tidak cukup kaget dengan kedatangan Fabian karena dia sudah tau Fabian pasti menjemputnya, setelah pintu terbuka tanpa berkata apapun Mikha kembali masuk dan Fabian mengikutinya.
Mikha kembali ke meja makan, mengambilkan nasi juga lauknya untuk Fabian dan menyimpannya di meja tepat di hadapan Fabian.
"Makan dulu!" ucap Mikha, aura dinginnya sudah kembali seperti pertama kali bertemu.
"Terima kasih Mikha," ucap Fabian tanpa ada jawaban dari Mikha.
Hanya suara dentingan sendok yang terdengar di meja makan.
"Kita ke rumah mama ya, kamu sekalian bawa baju dan segala keperluanmu. Setelah dari rumah mamah, kita langsung pulang ke rumah kita," ajak Fabian memecah keheningan namun tak ada jawaban dari Mikha.
"Masakanmu enak," puji Fabian seolah tadi pagi tidak terjadi apa-apa, Mikha masih diam dan melanjutkan makannya.
Mikha membereskannya setelah mereka berdua selesai makan.
"Saya siap-siap dulu!" ucap Mikha dan melangkah menuju kamarnya mempersiapkan barang-barang kebutuhannya untuk dibawa ke rumah Fabian.
"Seperti sekretaris Mikha saat pertama kali bertemu, cuek dan sangat dingin," ucap Fabian dalam hati.
__ADS_1
****....****
"Cuma segini?" tanya Fabian.
"Kalau kurang, gampang nanti tinggal ambil lagi,"
"Oh ya udah, yuk!" ajak Fabian seraya mengambil alih koper yang ada di tangan Mikha.
Mereka memasuki mobil, hening ... tidak ada obrolan diantara mereka, hingga tak terasa mobil sudah memasuki halaman rumah mama Rena.
"Di depan mama, kita bersikap normal layaknya sepasang suami istri yang bahagia!"
"Hmm." Mikha turun dari mobil.
Mereka memasuki rumah dan disambut hangat oleh mama Rena.
"Hai sayang ... mama nungguin dari tadi loh," sambut mama Rena seraya merangkul Mikha.
"Maaf ma, aku tadi ke rumah dulu ngambil barang-barang aku," ucap Mikha tersenyum.
"Kalian tinggal di sini kan? Nemenin mama,"
"Ma ... maaf sebelumnya, kayanya kami tinggal di rumah yang biasa aku tempati saja.
Alasannya selain ingin mandiri, kantor juga dekat dari sana," lirih Fabian.
"Mama bisa saja, tapi mama tenang saja kita akan sering-sering nginep di sini kok," ucap Mikha membuat Fabian tersenyum.
"Terima kasih sayang,"
"Iya ma,"
"Fabian, mama menginginkan cucu secepatnya kalian jangan menunda untuk mempunyai anak ya!"
Tatapan mereka beradu dan tidak tau jawaban apa yang harus diberikan ke mama Rena.
"Mohon doanya buat kita ya Ma," pinta Mikha.
"Tentu sayang,"
Tidak terasa hari sudah sore, setelah mereka berbincang dengan waktu yang cukup lama, mereka pamit pulang.
****.....****
Setibanya di rumah Fabian.
"Kita tidur satu kamar saja, aku takut mama curiga karena mama suka datang tiba-tiba,"
__ADS_1
"Iya," jawab Mikha singkat.
Mereka memasuki kamarnya, kamar yang sangat luas satu kasur king size yang berada di tengah ruangan. Satu meja rias, sofa panjang dekat jendela dan dua lemari besar.
"Lemari yang putih buat kamu, masih kosong. Aku beli minggu lalu," ucap Fabian tanpa menjawabnya, Mikha langsung memasukan semua bajunya ke dalam lemari yang Fabian maksud.
"Mikha, kamu masih marah?" tanya Fabian.
"Tidak,"
"Aku minta maaf ya! Aku melakukan itu semua karena aku tidak mau kamu berharap lebih sama pernikahan kita dan aku tidak mau Alena kecewa,"
"Ya,"
"Terima kasih, kamu sudah mau bekerja sama dan bersandiwara di depan mama,"
"Saya tidak bersandiwara di depan mama,"
"Pokoknya terima kasih kamu sudah berhasil tidak membuat mama curiga,"
Fabian terlihat canggung karena Mikha begitu dingin tidak seperti kemarin-kemarin.
"Mulai sekarang kamu jangan panggil saya Bapak, tidak enak didengar seperti bukan sepasang suami istri," ucap Fabian.
"Saya harus panggil apa?" tanya Mikha seraya menutup pintu lemarinya.
"Kamu panggil mas saja ya!" pinta Fabian.
"Hmm,"
Fabian menarik nafas dalam setelah mendengar setiap jawaban Mikha yang singkat dan dingin.
Mikha keluar dari kamar dan melangkahkan kakinya menuju dapur. Rutinitas seperti biasa diwaktu sore, Mikha selalu betah di dapur yaitu memasak untuk makan malam. Mikha sangat menyukai aktifitas yang satu ini, memasak adalah hobinya. Fabian telah melengkapi segala bahan makanan karena dia tau Mikha pandai memasak dan mengolah makanan.
Segala jenis cemilan dibuatnya termasuk salad dan cheescake yang telah memasuki lemari es di rumah Fabian. Toples yang biasanya kosong, sekarang di penuhi dengan segala jenis aneka cemilan buatan Mikha. Seraya menunggu masakannya matang, tangan cantiknya cekatan untuk mengolah cemilan dan Mikha selalu menyelesaikan aktifitasnya di dapur dalam waktu yang singkat.
Mikha menyimpan tiga toples yang telah penuh itu di atas meja yang berada di ruang televisi tepat di depan Fabian yang sedang duduk santai seraya menonton televisi.
"Mau makan sekarang?" tanya Fabian basa-basi.
"Saya mau mandi dulu!" jawab Mikha seraya membalikkan badannya meninggalkan Fabian.
"Lama-lama bakalan gendut nih," gumam Fabian setelah Mikha tak terlihat.
Tinggalkan jejaknya yaπ
Terima kasih like nya,, π π€π€π€
__ADS_1