Pilihan Yang Tepat

Pilihan Yang Tepat
Mantapkan hatimu Mas!


__ADS_3

Ada yang rindu? πŸ€”


Ada yang menunggu?πŸ€”


kalau ada πŸ˜€


Hatur nuhun ... ... πŸ€—πŸ€­πŸ€­


*****......*****


Setelah beres membersihkan diri Fabian berjalan menghampiri Mikha yang sedang fokus nonton acara favoritnya di Televisi.


Fabian menelan salivanya, lagi-lagi Mikha menggunakan pakaian santai yang menggugah selera.


Bukan bermaksud menggoda namun Mikha tak bisa menghilangkan kebiasaannya berpakaian saat di rumah. Toh, di rumah dia hanya tinggal bersama suaminya jadi dia merasa tidak ada masalah dengan model pakaiannya.


Dengan santainya Mikha duduk tumpang kaki di sofa panjang seraya kedua tangannya memegang toples yang berisi cemilan buatannya. Rambut dia gulung asal ke atas sehingga memperlihatkan leher jenjangnya yang putih. Fabian menghela nafas terlebih dahulu sebelum Mikha melihatnya.


"Asik banget, nonton apa sih?" tanya Fabian seraya duduk di samping Mikha.


"Filmnya seru loh Mas," jawab Mikha seraya mata masih fokus ke layar.


"Judulnya apa emang? Gak tau dari awalnya,"


"Itu loh Mas, judulnya kekasih suamiku," Jawaban Mikha membuat Fabian langsung terdiam, merasa tersindir dengan judul film itu.


"Mikha, maafkan atas kejadian di kantor tadi ya," ucap Fabian seraya mengelus punggung tangan Mikha.


"Iya Mas," jawab Mikha tersenyum.


Kring ... kring ... kring suara ponsel Fabian.


"Siapa?" tanya Mikha.


"Mama," jawab Fabian seraya menunjukan layar ponselnya ke Mikha.


"Angkat dong Mas! Pasti penting,"


[Hallo, Ma,]


[Lagi apa? Kenapa lama sekali?]


[Aku lagi nonton sama Mikha Ma,]


[Dimana?]

__ADS_1


[Di rumah,]


Mama Rena mengubah panggilannya menjadi video call, memastikan ucapan Fabian.


"Mama VC," ucap Fabian berbisik seraya menunjukan layar ponselnya.


"Angkat saja!"


"Siap-siap ya!"


"Apa aku harus ganti baju dulu?" tanya Mikha karena dia merasa malu di depan mamanya, memakai setelan tanpa lengan dengan celananya sebatas paha sangat seksi.


"Gak usah, kita harus menunjukkan bahwa kita sangat bahagia dan nyaman," jawab Fabian dan Mikha mengangguk. Fabian menarik tubuh Mikha dan membuat kepala Mikha bersandar di dada bidangnya.


[Lama banget mengalihkannya]


[Maaf Ma, Fabian gak tau]


Fabian mengarahkan kameranya kepada Mikha, sangat terlihat kebahagiaan di raut wajahnya mama Rena. Senyum yang lebar dan mata yang berbinar karena ada kelegaan di dalam hatinya, melihat kedekatan Mikha dan Fabian. "Mikha berani memakai baju seksi dan menyenderkan kepalanya di dada Fabian, berarti sejauh ini hubungan mereka sangat dekat," ucap mama Rena dalam hati seraya tersenyum melihat kedua anak manusia di balik kamera.


[Hai ... Ma, Mama sehat?] tanya Mikha.


[Mikha, Mama sehat sayang. Kamu sendiri bagaimana?]


[Aku sehat Ma,]


[Fabian] panggil mama Rena namun Fabian mendadak tuli.


[Fabian]


[Fabian]


"Mas, dipanggil mama ih kok diam saja sih," gerutu Mikha seraya menengadahkan wajahnya dan sontak membuat Fabian kaget.


"Kamu kenapa Mas? Kok kaget gitu," tanya Mikha jelas terdengar oleh mama Rena di balik telpon.


"Tidak, aku tidak apa-apa," jawab Fabian.


[Fabian sedang menikmati pemandangan yang indah Mikha] ucap mama Rena sekenanya.


[Pemandangan dimana Ma?]


[Dua bukit kembar yang tak jauh dari sana mungkin] jawab mama Rena dan membuat wajah Fabian seketika memerah seperti kepiting rebus. Fabian benar-benar malu karena ketahuan oleh mamanya. Untung saja Mikha tidak mengerti apa yang dimaksud mama Rena.


[Mama ini ada-ada saja, mana ada bukit di sini Ma] ucap Mikha tersenyum.

__ADS_1


[Iya, mama ngarang mulu nih. Ma, udah dulu ya!]


[Ya udah, mama juga mau istirahat, by]


Mama Rena mematikan ponselnya dan Fabian menyimpan ponselnya di samping. Mikha belum mengubah posisi duduknya, padahal telponnya sudah dimatikan. Sejauh ini, Mikha sudah merasa nyaman berdekatan dengan Fabian. Selain karena Fabian suaminya, sikap hangat Fabian selama ini membuat Mikha sangat nyaman.


"Eh udah ya nelponnya?" tanya Mikha berniat mau bergeser namun Fabian malah memeluk Mikha, mencium kepalanya membuatnya tetap bersandar di dada bidangnya.


"Tetaplah diam!" perintah Fabian lembut dan tidak melepaskan pelukannya, Mikha pun diam.


"Mikha,"


"Iya,"


"Sekali lagi, aku minta maaf atas kejadian di kantor tadi,"


"Iya, Mas gak apa-apa kok. Lagian itu kan sudah sering terjadi, aku udah biasa,"


"Maafkan aku." Fabian semakin mengeratkan pelukannya membuat dua bukit kembar milik Mikha semakin menyembul, lagi-lagi Fabian menelan salivanya.


"Mas, aku mau bicara serius!"


"Apa?"


"Serius ya Mas," ucap Mikha seraya beringsut dari dada Fabian, sejenak menatapnya dan mengelus pipi Fabian dengan lembut.


"Iya," jawab Fabian kembali meraih tubuh Mikha supaya bersandar di dadanya.


"Kamu cukup dengarkan, jangan memotongnya dan pahami," pinta Mikha seraya mengelus punggung tangan Fabian yang berada di atas perutnya.


"Awalnya kita berada di posisi yang sama Mas, berada dalam satu ikatan pernikahan tapi tidak berada dalam satu perasaan. Kamu tau kan Mas, hubungan aku dengan Radit? Dia sangat mencintai aku dan jujur, aku juga sangat mencintai dia bahkan dihari pernikahan kita pun, aku masih sangat mencintainya. Namun, aku sadar setatusku kini telah berbeda. Aku tidak mau berdosa dengan mencintai laki-laki lain selain suamiku, meski pada kenyataannya jelas aku tahu bahwa suamiku pun sangat mencintai wanita lain. Tapi aku telah membulatkan hatiku, selama aku masih berada dalam satu ikatan bersamamu. Aku akan tetap melakukan kewajibanku sebagai istri, sebenarnya dari dulu aku telah membuka hati untuk kamu dan ingin menjalani rumah tangga layaknya sepasang suami istri pada umumnya, aku pun rela mengabdikan seluruh hidup aku bersamamu, melupakan semua masa laluku dan bisa mendapatkan seluruh cinta juga perhatianmu. Namun kenyataan lagi-lagi mengingatkan bahwa di sini aku hanya sebagai istri sementara dan aku harus selalu mengingatnya, supaya aku tidak tarlanjur jauh jatuh cinta karena aku harus sadar diri sampai kapanpun aku tidak akan bisa mendapatkan cinta suamiku yang telah tertanam sedari dulu hanya untuk kekasihnya. Maka dari itu aku tidak bisa menjalani pernikahan sementara ini dengan waktu yang cukup lama, karena aku punya mimpi dan harapan yang ingin segera aku wujudkan di masa depan. Mantapkan hatimu Mas, seandainya kamu ingin tetap bersamaku maka kamu harus mengakhiri hubunganmu dengan Alena, namun jika kamu tetap hanya ingin menjadikan aku sebagai istri sementara maka aku akan berusaha segera menyelesaikan pekerjaannya dan segera mengakhiri kisah kita karena aku tidak mau terus berada dalam ikatan pernikahan sementara ini. Aku tahu kamu sangat mencintai Alena kan Mas dan sampai kapanpun tidak akan ada tempat di hati kamu untuk aku, meski aku telah menyiapkan hati yang luas dan hanya kamu yang boleh menempatinya. Pikirkan apa yang aku katakan ya Mas dan ingat meski bagimu hanya smentara, selama belum ada kata talak aku akan tetap menjalankan kewajibanku sebagai istri kamu," ucap Mikha dengan mantap dan tenang seraya terus mengelus punggung tangan Fabian.


😬😬😬


Kalian penasaran reaksi Fabian???


hehehe😁😁


Tinggalkan jejaknya dengan like dan koment supaya author yakin bahwa kalian sedang menunggu. 😁


Readers, beribu mohon maaf πŸ™πŸ™πŸ™ author ucapkan. Bukannya tidak mau menulis, tapi author tidak ada waktu dan tidak sempat untuk berhalu.


Tetap like ya, terima kasih selalu menunggu. πŸ€—


Terima kasih selalu kasih semangat untuk tetap melanjutkan karya ini.

__ADS_1


❀️❀️❀️❀️


__ADS_2