Pilihan Yang Tepat

Pilihan Yang Tepat
Radit Baper


__ADS_3

*****


Mikhayla telah siap dengan dress longgar warna hitam selutut tanpa lengan di padukan dengan wedjes juga tas yang senada. Rambut di gerai dan di tata rapi, penampilannya terlihat sangat manis. Mikha selalu terlihat stylish dan pandai menyesuaikan outfit dengan acara apapun yang akan ia hadiri.


Tanpa adanya perjanjian pakaian yang Fabian kenakan sangat cocok dengan yang mikha kenakan terlihat seperti couple. Penampilan Mikha pun tidak terlihat seperti seorang sekretaris ataupun Asisten tetapi terlihat seperti kekasihnya.


Tin ... tin ... tin (bunyi suara klakson mobil Fabian)


Mikha keluar dari rumahnya dan mengunci pintunya, Mikha segera memasuki mobil Fabian dan duduk di samping Fabian. (tidak seperti orang-orang yang membukakan pintu mobil untuk pasangannya ya readers) Fabian melihat ke arah Mikha yang penampilannya sangat berbeda, dia terlihat sangat manis dengan gaunnya.


Tidak ada obrolan sedikitpun, kedua manusia itu menikmati suasana hening di dalam mobil, hanya terdengar suara klakson dan suara kendaraan di luar sana. Sesekali Mikha memainkan ponselnya dan Fabian menoleh ke arahnya ini yang pertama kalinya Mikha memakai baju tanpa lengan di depan Fabian, terlihat bulu-bulu halus yang memenuhi lengannya membuat mata Fabian seketika tak mengalihkan pandangannya dari lengan Mikha.


"Lampunya sudah hijau," ucap Mikha tanpa menoleh dan Fabian menginjak pedal gasnya.


Mereka melanjutkan perjalannya tanpa bersuara.


Sesampainya di rumah Pak Gunawan....


Rupanya pak Gunawan telah menunggu kedatangan Fabian sampai-sampai beliau sengaja berdiri di teras rumahnya untuk menyambut kedatangan Fabian,


"Selamat datang pak Bian di rumah kami, Selamat datang kembali d Indonesia," sambut bahagia pak Gunawan dengan mengulurkan tangannya dan Fabian menyambut uluran tangan Pak Gunawan dengan senang hati dan penuh senyuman karena keramahan pak Gunawan mengingatkankan dia pada Ayah nya.


"Bersama sekretaris Mikha?"


"Iya pak (menunduk) calon istri pak Fabian ada halangan, jadi dia tidak bisa datang," ucap Mikha ramah dan sopan.


"Bagaimana kabarnya pak?" tanya Bian


"Saya sangat baik. Apa yang membuat Anda pulang ke Indonesia?"


"Untuk meneruskan bisnis Ayah."


"Anda memang Anak yang hebat."


"Mari," ajak Pak Gunawan


Mereka memasuki ruang makan


"hei... Ini calon Istrinya, ya ampun benar-benar cantik sangat cocok sekali dengan Nak Bian," ucap Bu Mila Istri Pak Gunawan


"Ma... itu Sekretaris Mikha." ucap Pak Gunawan memberitahu Istrinya.

__ADS_1


"Ah... benarkah ini sekretaris Mikha?" tanya nya gak percaya.


"Iya Bu... saya sekretarisnya pak Bian bukan calon istrinya," ucap Mikha terkekeh karena merasa lucu Ibu Mila tidak mengenalinya padahal ini yang ke dua kalinya dia bertamu ke rumah ini memang saat pertama kali kesini dia memakai pakaian kerja.


"Ya ampuuun, Ibu sampai tidak mengenalimu Nak padahal ini yang kedua kalinya kamu kesini ya?" tanya Bu Mila.


"Iya Bu dulu saya kesini waktu mengambil berkas yang sudah di tandatangani oleh Pak Radit, saya mengambilnya kesini karena pak Radit lagi sakit sedangkan saya butuh berkas itu, masih ingat gak? jawab Mikha dengan penuh senyuman.


"Tentu Nak, Ibu seharusnya tidak melupakan wajah cantik ini," ucap Bu Mila sambil mengelus pipi Mikha.


"Ah... Ibu selalu berlebihan," balas Mikha tersenyum


"Silahkan di cicipi makanan pembukanya Nak, Ibu siapkan dulu makan malamnya,"


"Biar saya bantu bu," ucap Mikha sambil menyusul Bu Mila ke dapur.


"Gak usah lah Nak masa tamu ikut-ikutan bantuin ke dapur,"


"Gak papa bu, saya sudah biasa," ucap Mikha semangat


"Wanita aneh, di mobil kelihatan tidak suka berbicara sekarang dia terlihat sangat senang berbicara," ucap Bian dalam hati seraya memperhatikan Mikha yang sedang Asyik ngobrol dengan Istrinya Pak Gunawan.


Sebenarnya Mikha orang yang ramah jika dihadapkan dengan orang yang hangat dan respeck padanya, Mikha merasa Fabian sangat cuek dan dingin jadi Mikha pun merasa tak perlu banyak berbicara dan bersikap hangat padanya kalau bukan urusan pekerjaan.



Laki-laki tampan dari arah pintu memasuki ruang makan dengan tas kerja masih berada ditangannya. Iya Radit baru pulang dari kantor, Radit tidak tau kalau Ayahnya mengundang makan malam rekan bisnisnya. Makan malam ini bentuk rasa syukur Pak Gunawan terhadap hasil kerjasama yang hampir selesai jauh dari waktu yang di tentukan.


"Itu Radit," ucap Pak Gunawan dan seketika Fabian menoleh.


"Radit, ini Pak Fabian dari perusahaan Trengginas Estu.


Radit dan Fabian bersalaman.


"Selamat datang Pak Bian," ucap Radit ramah


"Terimakasih Pak Radit."


"Kok Ayah gak ngasih tau, Ayah mengundang Pak Bian untuk makan malam, jangan-jangan Ayah gak ingin aku ikut makan ya?" tuduh Radit dengan kekehannya dan mereka semua terkekeh.


Mikhayla datang dari arah dapur dan membawa sup panas dalam mangkuk besar ditangannya, seketika Radit melihatnya, matanya berbinar ada kebahagian terlihat di mata Radit, melihat Mikha ada di rumahnya seperti di siram air di tengah dahaga, rasa cape Radit hilang seketika yang ada seakan tenaga Radit bertambah.

__ADS_1


"Hati-hati Mikha, itu panas!" ucap Radit spontan menghawatirkan Mikha. (tidak sadar dia memanggil dengan sebutan Mikha tanpa embel-embel di depannya, seperti yang sudah kenal dekat)


"Pak Radit baru datang?" tanya Mikha tersenyum.


"Iya, saya baru datang," jawab Radit tersenyum dan masih menatap Mikha dalam.


Tatapan Pak Gunawan dan Bian masih tertuju kepada mereka berdua.


"Minum dulu Pak!" Mikha tersenyum sambil memberikan Radit segelas air putih.


"Terimakasih Sekretaris Mikha," ucap Radit meminumnya dengan tangan kanan dan tangan kiri memegang jantungnya karena dia takut jantungnya loncat dari tempatnya saking kencangnya berdetak.


"Andai dia Istriku, pasti aku akan betah di rumah," ucap Radit dalam hatinya dengan tatapan mata terus memandang Mikha yang berjalan ke arah dapur.


"Pantas saja dia mau di ajak makan malam disini, ternyata ada pacarnya ," ucap Bian dalam hati.


"Baru kali ini Ayah melihat ada cinta di matamu Nak," ucap Pak Gunawan dalam hati pada Radit.


"Loh... tumben jam segini udah pulang Nak?" tanya Bu Mila


"Iya Ma... aku tiba-tiba pengen pulang cepet," jawab Radit sambil tersenyum melihat Mikha datang.


"Ehm..." Pak Gunawan berdehem dan Radit langsung menoleh ke Ayahnya.


"Ya sudah karna makanan sudah lengkap, mari kita makan! ayo Nak duduk!" ajak Bu Mila kepada Mikha dan Mikha duduk di tempat semula tepat diantara Radit dan Bian.


Bian terlihat kebingungan memilih makanannya, karena makanan yang ada di meja begitu banyak menu nya dan sepertinya cukup untuk makan 30 orang, sebenarnya Bian bukan pemilih makanan, dengan sedikit menu membuat Bian semakin berselera makan.


Mikha menoleh ke arah Bian dan Mikha cukup mengerti, seperti apa yang dikatakan Bu Rena kepadanya, dengan segera Mikha mengambilkan nasi beserta lauknya dan juga sayur untuk Bian, Bian pun segera memakannya. Radit melihatnya dengan tatapan sendu.


"Kamu menjadikannya sekretaris tapi aku akan menjadikannya Istri," ucap Radit dalam hati dan dengan kesal menyuapkan sesendok sambal ke dalam mulutnya.


Tatapan mata Bu Mila dan Pak Gunawan tak lepas dari mereka bertiga.


"Uhuk-uhuk...," Radit tersedak


Mikha segera menoleh dan memberikan radit minum, Mikha juga menepuk-nepuk punggung Radit sampai keadaan Radit membaik. Kedua orang tua itu tersenyum tipis, mengerti akan apa yang dirasakan Anaknya.


"Jangan terburu-buru makannya!" ucap Mikha


"Gimana gak tersedak orang Radit memakan satu sendok sambal, hahaha," ucap Pak Gunawan tertawa.

__ADS_1


"Apaan sih ayah," balas Radit.


Mereka melanjutkan makannya, sesekali Radit melirik Mikha yang begitu anggun menyuapkan nasi ke dalam mulutnya ada desiran aneh menjalar di tubuhnya ketika melihat tangan Mikha yang dipenuhi dengan bulu-bulu halus. Bian tau pandangan Radit ke Mikha bukan pandangan biasa, ada Cinta di hati Radit buat Mikha.


__ADS_2