
"Kalau seperti ini, saya semakin kesulitan untuk memasangkan dasinya Pak," ucap Mikha berusaha berontak.
"Diam, jangan bergerak! Cepat pasangkan, jangan banyak alasan!" perintah Fabian dengan sorot mata yang tajam dan akhirnya Mikha menurut memasangkan dasi Fabian dengan posisi seperti itu.
Dengan susah payah Fabian menelan salivanya ketika merasakan dua bukit kembar milik Mikha menempel di dadanya. Fabian memejamkan matanya, jiwa laki-lakinya seketika meronta, Ingin sekali tangan kirinya meremas apa yang menempel di dadanya namun niat itu dia urungkan karena bagaimanapun Mikha bukan siapa-siapanya.
Sesekali bayangan wajah Radit muncul membayangkan betapa asiknya Radit bermain-main dengan dua bukit kembar milik Mikha yang sekarang sedang menempel di dadanya.
"Sudah Pak," ucap Mikha dengan tangan kanannya mendorong dada Fabian berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan Fabian tetapi Fabian masih saja memejamkan matanya karena yang ada dalam bayangan Fabian dan yang Fabian rasakan Mikha sedang menyentuh mesra dadanya padahal yang sebenaranya Mikha dengan sekuat tenaga sedang mendorongnya.
"Pak sudah," ucap Mikha menepuk dada Fabian keras dan sontak membuat Fabian memegang tangan kanan Mikha dengan tangan kirinya.
"Sudah," ucap Mikha menunduk seketika Fabian melepaskan dekapannya sehingga membuat Mikha hampir tersungkur.
"Maaf," ucap Fabian.
"Sebagai rasa terima kasih dan permintaan maafku, aku akan mengajakmu makan siang," ucap Fabian.
"Tidak usah Pak, saya sudah ada janji," tolak Mikha.
__ADS_1
"Janji penting kah? Sepenting apa sehingga menolak ajakan calon suami kamu," ucap Fabian terlihat kesal karena penolakan dari Mikha.
"Saya ada janji makan siang dengan Radit," ucap Mikha menunduk.
"Ya sudah, kita makan siang bertiga!"
"Iya," lirih Mikha karena merasa tidak enak dengan Radit.
*****......*****
Cacing dalam perut Alena meronta, ternyata Ber****a semalaman membuat dia bangun kesiangan karena merasa kelaparan. Alena bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan diri setelah itu dia berencana untuk mencari dulu makan lalu pulang ke Apartemen.
"Reza, aku pulang dulu ya!" ucap Alena menepuk-nepuk punggung Reza yang masih tengkurap di atas kasur.
"Iya, iya kamu loyo banget sih baru segitu juga udah terlihat lemah," ucap Alena menertawakan.
"Kamu jangan mengejekku, aku bukan lemah aku hanya ngantuk,"
"Oh, ngantuk ya?" Alena merasa tak percaya.
__ADS_1
"Untung aku ngantuk, coba kalau enggak kamu sudah aku habiskan siang ini!"
"Ow ... takut!" ledek Alena.
"Ya udah, aku pulang dulu ya!"
"Ya, hati-hati! Jangan keluyuran lagi, aku tidak suka mencium bekas orang lain," teriak Reza membuat Alena menggelengkan kepalanya dan segera keluar dari apartemennya Reza.
****.....****
Fabian dan Mikha telah sampai di Restoran tempat Mikha dan Radit ketemu. Mikha mengedarkan pandangannya, mencari sosok laki-laki yang selama ini membuatnya nyaman. Mikha tersenyum segera melangkahkan kakinya ketika matanya menemukan sosok yang dia cari. Mikha jalan duluan dan Fabian mengikutinya, Mikha merasa canggung jika harus jalan beriringan dengan Fabian.
"Hai ...," sapa Mikha ramah seraya duduk di kursi kosong sebelah Radit dan Radit pun tersenyum.
"Pak Bian," sapa Radit menganggukan kepalanya dan Fabian hanya membalasnya dengan senyum.
"Udah pesan makan ya?" tanya Mikha kepada Radit.
"Iya, aku udah pesenin makan siang buat kamu tetapi belum buat Pak Bian karena aku gak tau kamu kesini sama Pak Bian," jawab Radit tersenyum.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, nanti saya pesan sendiri," balas Fabian dan tidak lama pelayan Restoran itu datang Fabian langsung memesan makan siangnya.
ππππ tinggalkan kritik dan sarannya ππππ