
Banyak doa yang dipanjatkan saat acara tasyukuran empat bulanan itu. Tak jarang Giselle menitikkan air matanya, kala Ustadz melantunkan ayat suci Al'Quran. Hatinya tersentuh. Begitu juga dengan Gibran yang di dalam hatinya mendoakan sang istri.
Bayi dalam kandungan Giselle adalah janin yang sudah dia tunggu sejak lama. Dua tahun pernikahan, dan baru sekarang mereka dikaruniai dan dipercaya Allah untuk menjadi orang tua. Besar doa di hati Gibran bahwa sisa bulan sampai hari persalinan nanti akan berjalan dengan lancar. Tentunya Allah yang akan memperlancar segala sesuatunya.
"Sudah jangan menangis, kan semua doanya adalah doa yang baik," bisik. Gibran kepada istrinya lagi dengan mengerahkan selembar tissue berwarna putih itu.
"Ter ... ha ... ru, Mas," balas Giselle dengan terisak dan sesegukan.
Jika sedang tidak dalam acara dan dihadiri banyak orang, sudah pasti Gibran akan memeluk Giselle. Mendekap istrinya itu dengan erat. Namun, sekarang orang banyak tengah hadir, sehingga Gibran hanya bisa memberikan tissue saja. Gibran juga tahu hati istrinya itu sangat lembut, sehingga Giselle memang mudah menangis.
Begitu juga dengan Bu Rosa yang menangis. Ada rasa penyesalan, seharusnya dia berbahagia ketika dulu Gibran mengabarkan Giselle tengah hamil. Namun, dia justru mengelak dan menuding yang tidak-tidak. Padahal Giselle sendiri sangat baik kepadanya.
"Berkahi Giselle, Ya Allah. Berikan kesehatan dan kelancaran juga saat persalinan nanti," doa Bu Rosa dalam hati.
Tante Rani yang duduk di samping kakaknya pun berusaha menenangkan kakaknya itu. "Sabar, Teh ... ini hari yang bahagia. Rani di sini ikut bahagia. Ikut mendoakan untuk Giselle dan bayinya," ucap Tante Rani.
"Iya, Ran. Aku juga bahagia. Bayi kecil akan melengkapi kebahagiaan Gibran dan Giselle. Aku bahagia," balas Bu Rosa.
Sementara Mama Diana dan Papa Jaya, Kanaya dan Bisma semua khusyuk berdoa. Di dalam hatinya mereka juga meminta berkah dari Allah untuk keluarga Giselle dan Gibran. Dilancarkan sampai hari persalinan nanti.
__ADS_1
"Jadi ingat tasyukuran Empat bulanan kamu waktu hamil Aksara dulu ya, Sayang," kata Bisma dengan lembut di sisi telinga Kanaya.
Bagi Bisma, semua memori itu masih dia ingat. Bagaimana sukacitanya dan keluarga ketika merayakan kehamilan Kanaya sampai melahirkan putranya. Namun, sudah lebih dari tiga tahun dan belum ada kabar dari anaknya yang hilang. Di dalam hatinya, di mana pun putranya berada semoga Allah berikan perlindungan dan kesehatan. Semoga hari yang baik akan segera tiba dan mereka bisa dipertemukan lagi dengan Aksara, putra mereka.
"Sudah lebih dari tiga tahun, Mas. Selama ini belum ada titik temu di mana keberadaan Aksara, putranya kita. Semoga Allah mempercepat waktu-Nya, mempertemukan kita berdua dengan putra kita ya, Mas," balas Kanaya.
Lemah hati mereka jika berbicara mengenai anak, terlebih keduanya terpisah jauh dari buah hatinya. Aksara, yang diculik oleh kakak kandung Giselle ketika putranya dititipkan di sebuah Daycare. Kala itu Aksara yang berusia 2 tahun dan belum bisa berbicara. Hanya doa yang dia panjatkan semoga Allah mempercepat waktu-Nya, mempertemukan keduanya dengan Aksara lagi.
"Kita juga terus berdoa, Sayang," balas Bisma.
Setiap orang di sana memiliki beban dalam hati. Ada harapan yang selalu bersemi dan juga keinginan yang selalu dipanjatkan kepada Yang Kuasa. Yang pasti harapan itu seperti sauh, tidak akan pernah putus.
Begitu kajian sudah selesai, para undangan menikmati hidangan, dan ada juga yang berpamitan untuk pulang. Maka, seluruh keluarga berdiri dan bersalaman dengan seluruh undangan yang hadir.
"Sehat-sehat Ibu dan bayinya yah."
"Aa Gibran yang sabar dan selalu dampingi Neng Giselle yah."
"Lancar sampai babynya launching."
__ADS_1
Banyak ucapan dan doa yang baik dari setiap hadirin. Giselle dan Gibran juga mengaminkan semua itu dalam hatinya. Sore hari barulah semua selesai. Pihak katering juga membereskan makanan mereka masih ada beberapa sisa yang diberikan kepada tuan rumah. Tenda juga dibersihkan sekalian. Hanya bunga-bunga yang diminta Giselle. Wanita hamil berkata akan membawanya pulang ke rumah.
Sekarang, di ruang tamu Bu Rosa semuanya berkumpul. Ini hari yang baik dan kesempatan yang baik juga. Oleh karena itu, Bu Rosa juga ingin meminta maaf kepada besannya.
"Pak Jaya dan Bu Diana, di hari yang baik ini ... saya ingin meminta maaf kepada Pak Jaya dan istri. Di beberapa waktu yang lalu, sikap saya tidak benar. Saya membenci Giselle tanpa alasan. Namun, Allah sudah menyadarkan saya. Dengan sakit yang saya derita, dengan hal yang terjadi di sekitar saya, saya menyadari Allah telah menyingkapkan dosa saya. Saya mohon maaf karena menjadi mertua yang tidak baik untuk Giselle. Mohon maafkan saya," ucap Bu Rosa dengan menundukkan wajahnya.
Gibran terharu melihat ibunya yang dulu sekeras batu sekarang bisa melunakan hatinya. Tetesan air secara terus-menerus bisa melapukan batu. Mungkin itu adalah pepatah yang cocok dan tepat sekarang. Giselle dengan kebaikan, kesabaran, dan doanya yang tidak pernah putus berhasil membuat hati Ibu mertuanya berbalik. Semua itu semata-mata karena Allah yang bisa membolak-balikkan hati manusia. Sembah dan sujud Giselle di atas sajadah menjadi pintu untuk memperbaiki semua ini.
"Kami memaafkan Bu Rosa, tidak apa-apa. Semua orang bisa berbuat salah. Yang tidak benar adalah ketika Allah memberi waktu untuk insyaf dan bertaubat, tapi manusia tidak mempergunakannya sebaik mungkin," balas Papa Jaya.
"Mohon maafkan saya sekali lagi. Saya akan berusaha berbenah. Walau tidak sempurna, saya akan berusaha," ucap Bu Rosa.
"Tidak apa-apa Bu Rosa. Alhamdulillah, Allah sudah memperbaiki semua ini. Saya yakin yang paling bahagia di sini adalah Giselle, akhirnya mendapatkan hati dan kasih sayang dari ibu mertuanya," balas Mama Diana.
Giselle sudah menangis dan berurai air mata. Bukan air mata kesedihan, tapi adalah air mata bahagia. Dia selama ini tidak pernah menceritakan secara gamblang bagaimana penderitaanya di rumah mertuanya. Namun, sekarang ada rekonsiliasi juga antar besan.
"Gibran juga meminta maaf ya, Papa dan Mama," ucap Gibran juga.
"Tidak, Bran. Kamu tidak salah. Justru kamu bisa mendampingi Giselle dengan baik. Kalau kamu bukan pria dan suami yang baik, sudah pasti sukar bagi Giselle untuk menerima kamu dan tetap berdiri di sisi kamu," balas Papa Jaya.
__ADS_1
Giselle menganggukkan kepala. "Benar, Papa ... keinginan Giselle bisa terus berada di sisi Mas Gibran. Membina rumah tangga kita bersama, sekarang dengan restu dan doa penuh dari kedua keluarga kita," balas Giselle.
Suasana di sana begitu haru. Merusak dan memutuskan satu hubungan itu mudah. Namun, begitu sukar untuk merangkai dan mempertahankan hubungan yang baik. Semoga ini adalah awal yang baik. Keluarga Wardhana dan Winatha sama-sama memperbaiki hubungan dan berharap ke depannya akan semakin baik lagi.