
Dengan lugas terlihat jelas bahwa Bu Rosa tengah membanding-bandingkan Giselle dengan Annisa. Dia menilai bahwa Giselle hanya rajin bekerja dan tidak pernah mengajaknya ke salon dan sebagainya. Sementara, Annisa justru memberikannya waktu untuk relaksasi. Waktu menyenangkan diri sendiri.
"Ibu kalau pengen kemana-mana bilang saja sama Nisa, nanti Nisa anterin," balasnya.
Merasa bahwa ibunya Gibran itu butuh hiburan, peluang itu segera diambil dan dimanfaatkan oleh Annisa. Jika itu adalah cara untuk mengambil hati, maka Annisa akan melakukannya.
"Duh, Neng Nisa ... yang ada nanti Ibu justru Ibu merepotkan Neng Nisa. Dulu, gagal menjadi menantu dan sekarang Neng Nisa berbuat sebaik ini membuat Ibu malu," ucap Bu Rosa.
Namun, terbersit pikiran bahwa andai dulu wanita yang dinikahi Gibran adalah Annisa, pastilah Bu Rosa menjadi bahagia karena mendapatkan menantu yang baik, santun, dan bisa mengimbanginya. Bukan seperti Giselle yang adalah wanita karir dan selalu bekerja, bekerja, dan bekerja.
"Siapa tahu, di masa depan nanti Nisa berkesempatan mendampingi Aa Gibran. Jika memang Aa Gibran hendak melakukan poligami, InsyaAllah, Nisa siap dan bersedia," jawabnya.
Sikap yang ironis bukan? Ketika banyak wanita di luar sana tidak mau dijadikan istri kedua, tapi Annisa justru tidak keberatan. Di kemudian hari, jika Gibran berubah pikiran dan hendak melakukan poligami, melakukan pernikahan lagi untuk kedua kali, Annisa siap. Menjadi yang kedua pun tidak buruk, asalkan dia bisa memiliki Gibran.
"Neng Nisa jangan bicara begitu atuh, Bu jadi sedih mendengarnya. Oh, iya ... makasih banyak ya, Neng. Ibu sudah creambath, lebih rileks. Kepala juga menjadi lebih enteng sekarang. Usai ini, anterin Ibu pulang yah, sudah waktu Gibran pulang dari kantornya," ucap Bu Rosa.
Namun, sebelum mengantarkan Bu Rosa pulang, Annisa mengajak Bu Rosa mampir ke rumah makan terlebih dahulu. Membelikan makanan enak untuk Bu Rosa. Menciptakan kesan yang baik tidak ada salahnya, dan itu yang berusaha Annisa tampilkan sekarang. Keluar modal, jika akhirnya bisa menjadi istri Gibran tidak masalah untuknya.
Lantaran mampir makan dan sebagainya, petang baru mereka tiba di rumah. Sementara Gibran sudah tiba terlebih dahulu. Ketika terdengar sapa dari luar, Gibran yang turun dan membukakan pintu.
"Bran, sudah pulang dari kantor?" tanya Bu Rosa kepada putranya.
__ADS_1
"Sudah Ibu ... Ibu dari mana saja?" tanyanya.
Bu Rosa tersenyum kemudian barulah memberikan jawaban. "Jalan-jalan diajak calon mantu. Iya kan Neng Annisa?"
Annisa yang berdiri di samping Bu Rosa pun tersenyum dan menundukkan wajahnya. Gadis itu benar-benar bersikap santun. Berusaha mengambil hati Bu Rosa dan juga Gibran.
"Sudah, Ibu. Tidak ada calon menantu lagi. Ibu sudah memiliki seorang menantu, dan itu adalah Giselle," balas Gibran.
"Bran, jangan gegabah. Jelas-jelas Giselle itu tidak bisa memberikan keturunan. Sementara, Ibu mau cucu, Bran. Sudah deh sama Annisa yang cantik, baik, dan santun. Pasti akan menghasilkan keturunan terbaik," ucap Bu Rosa.
Hingga tak berselang lama, barulah Giselle datang dari tempatnya bekerja. Wanita itu mengernyitkan keningnya melihat mobil kuning milik Annisa yang terparkir di halaman rumah. Sudah pasti ada Annisa di rumah mertuanya.
Rupanya benar, ketika Giselle menginjakkan kakinya masuk ke dalam rumah. Dia disambut dengan mata tajam dari Ibu mertuanya.
Di saat seperti ini, Giselle memilih diam. Dia mengingat ucapan suaminya beberapa hari yang lalu supaya bisa lebih bersabar dengan Ibu mertuanya. Giselle memilih menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan mengisi paru-parunya dengan oksigen. Berusaha tidak membalas dan emosi.
"Sudahlah Ibu, Giselle baru saja datang loh. Giselle juga pasti capek," balas Gibran.
"Ck, ya begitu ... punya menantu bisanya hanya bekerja. Punya anak tidak, pekerjaan rumah tidak cakap, pengertian sama mertua juga tidak. Padahal, mertuanya hanya satu. Cuma Ibu, tapi mana pernah dia menyenang-nyenangkan Ibu. Beda jauh dengan Neng Nisa yang abis ngajak Ibu ke salon," ucap Bu Rosa sembari mendengus kesal.
"Tidak perlu membanding-bandingkan Giselle dengan wanita lain, Bu. Bagaimana pun, menantu Ibu adalah Giselle. Selama ini, Giselle bekerja untuk membantu operasional rumah kita," balas Gibran.
__ADS_1
Ya, menurut Gibran ibunya itu sedang berusaha membanding-bandingkan Giselle dan Annisa. Menurut Gibran itu sama sekali tidak perlu. Gibran sangat tahu bahwa Giselle bekerja keras untuk operasional rumahnya juga. Gibran juga tidak menutup mata bahwa uang bulanan dari Giselle yang bisa mengisi perut mereka selama hampir dua tahun ini.
"Belain aja terus, Bran. Ibu sudah kehilangan putra Ibu yang berbaki," balas Bu Rosa dengan berkaca-kaca.
Gibran menghela napas panjang dan kemudian menatap Annisa sesaat. "Nisa, silakan untuk pergi jika memang tidak ada urusan lagi di dalam rumah ini. Maaf, jangan memiliki harapan terlalu tinggi, bagaimana pun aku tidak akan menikah lagi. Harap kamu memahami semua ini. Aku tahu, kamu wanita yang cerdas sehingga tidak sukar bagimu untuk memahami ucapanku ini."
Gibran lantas menggerakkan tangannya, menunjukkan arah pintu keluar kepada Annisa. Merasa terusir Annisa pun tidak bisa menolak, dia akhirnya berpamitan dengan Bu Rosa dan keluar dari rumah itu. Setelahnya, Bu Rosa menatap kesal kepada Gibran.
"Kamu keterlaluan, Bran ... jelas-jelas Annisa itu yang baik dan perhatian kepada Ibu. Tidak seperti istrimu itu," tuding Bu Rosa lagi.
"Ibu, jangan melihat kebaikan orang hanya dari satu sisi. Bukanlah Giselle juga begitu baik kepada Ibu? Dia yang bekerja keras dan memberikan jatah bulanan untuk Ibu. Silakan Ibu kalkulasi sendiri sekian juta setiap bulannya selama hampir 2 tahun. Nilainya sudah puluhan juta, Ibu," balas Gibran.
"Kamu mau itung-itungan dengan Ibu. Ibu saja membesarkan dan menyekolahkan kamu tidak pernah itung-itungan!"
Rasanya Bu Rosa benar-benar menjadi kesal. Ketika Gibran berbicara kepadanya untuk mengkalkulasi jumlah yang sudah diberikan Giselle kepadanya. Sementara menurut Gibran, itu adalah jumlah yang banyak hanya tidak terlihat karena memang untuk operasional rumah setiap hari, untuk makan setiap hari.
Giselle yang diam, tapi sedikit merasa lega. Akhirnya suaminya bisa membelanya. Sungguh, bukan berani atau melawan orang tua. Namun, suaminya itu tengah memberikan pengertian kepada Ibunya.
"Kamu sudah jadi anak durhaka, Gibran," balas Bu Rosa dengan menangis.
Betapa frustasi dan tertekannya Gibran. Dia hanya berusaha memberikan pengertian dengan ucapan yang tenang dan lembut. Namun, Ibunya menuduhnya menjadi anak yang durhaka. Gibran memejamkan matanya sejenak kemudian menatap Ibunya.
__ADS_1
"Maafkan Gibran, Ibu. Bukan maksud Gibran. Hanya saja, Giselle sudah selalu melakukan yang terbaik. Mengisi perut kita setiap harinya. Gibran dan Giselle naik ke kamar dulu, Ibu."
Usai mengatakan itu, Gibran mengajak Giselle untuk memasuki kamarnya. Tujuannya memang sekadar memberikan pengertian saja. Tidak ada niat sama sekali untuk berani kepada Ibunya sendiri. Sebab, bagaimana pun Gibran tahu bahwa dia akan tunduk dan hormat kepada Ibunya.