Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Tidak Pulang Semalam


__ADS_3

Malam terlarang terlanjur terjadi antara Amel dan Davin. Di rumah besar dekat perkebunan itu, yang seharusnya tidak terjadi justru terjadi. Bukan hanya sekali, Davin benar-benar berubah layaknya predator yang memangsa Amel tanpa ampun. Sampai menjelang pagi buta, Davin menuntaskan semuanya.


Sekarang, kurang lebih jam 09.00 pagi, dan keduanya baru terbangun di ranjang yang sama. Tanpa mengenakan busana. Hanya selimut berwarna abu-abu yang mengcover tubuh keduanya.


Davin yang terbangun terlebih dahulu tampak tersenyum mengamati wajah Amel yang berbaring di sisinya. Ketika terlelap dan dengan wajah yang kuyu justru membuat Amel kian cantik rasanya.


"Hasrat yang terlarang justru menantang. Aku juga tidak tahu kapan semuanya bermula. Yang pasti, aku menikmati malam ini bersamamu, Amelia."


Suara hati Davin yang mengatakan semua itu. Hasratnya itu memang terlarang. Davin sepenuhnya mengakui itu, tetapi justru dia kian tertantang untuk mendapatkan Amel.


Ketika sinar sang surya mulai menerobos masuk melalui celah-celah tirai jendela. Barulah, perlahan-lahan Amel mengerjap. Terlintas bayangan yang terjadi semalam antara dia dengan Pak Davin. Bayangan yang bukan hanya sekadar bayangan, tapi adalah kenyataan.


Begitu terbangun, Amel merapikan rambutnya, dia melihat ada tangan kekar yang melingkari pinggangnya. Di batas kesadaran yang mulai terkumpul, wanita itu menitikkan air matanya. Dia sudah berdosa terhadap suaminya karena dia nyatanya justru menghabiskan malam bersama dengan Direkturnya.


"Kamu sudah bangun, Sayang?"


Suara khas bariton yang menyapa Amel, disertai dengan kecupan yang pria itu jatuhkan di pipi Amel yang mulus. Wanita itu benar-benar menangis sekarang. Itu karena benar-benar dijebak atau memang semuanya terjadi begitu saja, tanpa bisa dia kendalikan.


"Pak ... Davin."

__ADS_1


Dengan tergagap-gagap disertai dengan isakan, Amel hanya bisa menjawab. Air matanya terus berderai. Memang, semalam dia sempat larut dalam permainan panas bersama dengan Davin. Namun, sekarang Amel benar-benar menyesal.


"Kenapa menangis, hm? Kamu sudah menjadi milikku, Amel. Jadi, jangan mengelak lagi. Sejak semalam, kamu sudah menjadi milikku. Bersiaplah ketika aku membutuhkanmu," ucap Davin.


Amel masih terus terisak. Hatinya sekarang sangat sakit. Mana mungkin, dia menjadi milik Davin, kalau dia sendiri masih terikat pernikahan dengan Shandy. Tidak mungkin juga, dia memberikan tubuhnya terus-menerus untuk pria yang bukan suaminya.


"Tidak bisa, Pak Davin ... kali ini saja. Anggap ini sebagai kesalahan," balas Amel.


Tanpa menghiraukan Davin, Amel berlari ke kamar mandi. Wanita itu segera membersihkan dirinya. Sayang sekali, ada jejak merah di dada, perut, hingga pahanya yang sengaja dibuat oleh Davin. Di dalam kamar mandi, di bawah guyuran air shower, seluruh air mata tumpah. Amel merasa dirinya sangat kotor, selain itu merasa sangat bersalah kepada suaminya.


Cukup dua puluh menit, Amel akhirnya memakai pakaiannya kembali. Dia urungkan niatnya untuk mengambil pakaian milik Davin. Usai itu, dia menyambar kunci mobilnya yang ada di atas nakas.


"Sayang, kamu tidak bisa pergi begitu saja," ucap Davin.


Walau memang sudah sangat berdosa, tapi Amel memilih untuk pergi sekarang juga. Tidak akan membiarkan Davin menyentuhnya lagi. Kesalahan semalam, hasrat terlarang biarlah cukup untuk satu kali dan tidak akan diulangi berkali-kali.


Wanita itu berlarian keluar dari rumah besar milik Davin, setelahnya dia masuk ke dalam mobilnya. Sekarang, yang ada dipikiran Amel adalah pergi dari rumah direkturnya dan segera menuju ke rumah. Bahkan, Amel sampai belum memberikan kabar kepada Shandy. Itu semua juga karena dia tidak melihat handphonenya sejak semalam.


Perjalanan yang dia tempuh rupanya cukup lancar. Hanya setengah jam, Amel sudah kembali ke rumahnya. Dia menghela napas panjang. Menyiapkan jawaban yang tepat kenapa dia semalam tidak pulang.

__ADS_1


Dengan hati-hati Amel membuka pintu rumah suaminya, ternyata Shandy masih ada di rumah. Pria itu libur hari ini, sehingga tidak pergi ke kantornya.


"Aa," sapa Amel dengan tenang, walau hatinya merasa sangat bersalah.


"Sayang ... kamu kemana saja? Sampai semalam kamu tidak pulang?" tanya Shandy.


"Hm, aku pergi ke rumah temanku," jawab Amel.


Memberikan jawaban untuk Shandy saja, Amel tidak berani menatap wajah suaminya itu. Dosa membuatnya takut untuk menatap wajah Shandy. Oleh karena itu, Amel memilih mengalihkan pandangannya ke hal yang lain.


"Ya, sudah ... mandi dulu sana. Mau aku temenin mandi?" tanya Shandy.


Dengan cepat Amel menggelengkan kepalanya. Mana mungkin dia mau mandi bersama dengan Shandy. Sementara di tubuhnya banyak bekas gigitan dari Davin.


Ya Allah, maafkan aku. Maafkan aku, Aa Shandy. Aku tidak bisa kamu sentuh sekarang. Aku sudah kotor. Aku bukan istri yang baik. Kali ini, bukan karena aku membentak Mama kamu atau bersikap kasar. Kali ini karena ada pria lain yang sudah menyentuhku, ada pria lain yang telah menggumuliku. Maafkan aku.


Batinnya menjerit. Amel benar-benar merasa bersalah kepada Shandy. Kesalahannya kali ini bukan karena dia membentak-bentak Mama Rani, tapi lebih karena zinah yang telah terjadi. Dosa zinah yang datang dengan sendirinya tanpa bisa diprediksi. Untuk itu, Amel benar-benar bersalah.


"Ya sudah ... sana buruan. Nanti kita cari makan siang yah. Aku tunggu kamu sampai belum makan," balas Shandy.

__ADS_1


"Hmm, iya Aa," balas Amel.


Setelahnya Amel berlari ke kamarnya. Kurang dari satu jam, dia harus mandi lagi itu semua juga karena suaminya yang menyuruhnya untuk mandi. Lagi-lagi, Amel menangis di sana. Selama ini dia mengira Pak Davin adalah sosok yang baik, bersikap santun dan menghargai staf wanita. Tidak pernah Amel sangka, Pak Davin berani menyetubuhinya. Bukan sekali, tapi sampai dua kali dia menggumuli Amel. Bagi Amel, itu adalah kesalahan dan sekarang dia merasa bersalah dengan suaminya. Sebab, di sini yang salah adalah dirinya.


__ADS_2