Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Pisah Rumah


__ADS_3

Giselle mematikan handphonenya semua itu supaya keberadaannya tidak terdeteksi oleh suaminya. Jujur, Giselle merasa kepergiannya dari rumah adalah tindakan yang salah. Namun, sebagai wanita hatinya juga tersakiti ketika melihat suaminya berada di dalam kamar bersama mantan pacarnya dulu.


Bagaimana pun, Nisa pernah menjadi wanita yang dicintai Gibran. Lantas berduaan di dalam kamar, ketika Giselle tengah pergi baginya itu adalah tindakan yang tidak masuk akal. Giselle sangat kecewa dengan suaminya.


Sekarang, tempat yang Giselle tuju adalah kost wanita yang berada di belakang perusahaannya. Giselle memilih untuk kost sementara waktu. Sembari, Giselle akan mengatur untuk resign saja dari perusahaan. Setelahnya Giselle berpikir untuk pulang ke Jakarta. Dekat dengan keluarga adalah hal yang Giselle butuhkan.


Di kala berada dalam masalah seperti ini, Giselle membutuhkan support sistem. Tak mungkin dia akan bertahan seorang diri. Jika tidak kuat, mentalnya justru akan semakin tertekan.


Di belakang perusahaan, Giselle berputar dan mencari kost. Hingga akhirnya dia menemukan papan yang digantung di gerbang teralis bahwa masih ada kamar kosong. Maka, Giselle memutuskan untuk bertanya berapa sewa kost untuk satu bulan.


"Assalamualaikum," sapa Giselle sembari memasuki kost-kostan itu.


"Waalaikumsalam," suara wanita paruh baya yang keluar dari rumah dan tampak menerima kedatangan Giselle. "Ada yang bisa dibantu Neng?" tanyanya kemudian.


"Apakah masih ada kamar kosong, Bu? Jika ada, saya ingin sewa satu bulan," tanya Giselle.


"Ada, Neng. Neng ini siapa dan dari mana? Kalau kost ini khusus untuk wanita, sebulan 1,5 juta, Neng. Dengan fasilitas kamar mandi dalam dan sudah ada AC. Jika mau diperpanjang setiap bulannya juga bisa," ucap Ibu itu.


Giselle menganggukkan kepalanya. Jika sebulan 1,5 juta Rupiah itu masih terhitung murah. Tidak semahal harga kost di Jakarta. Satu kamar di Jakarta jika fasilitasnya bagus bisa mencapai dua hingga tiga juta sebulan. Namun, bagi Giselle tak apa. Yang penting bisa menjadi tempatnya berteduh dahulu.


"Bisa saya lihat KTP nya dulu, Neng?" tanya Ibu itu.


Kemudian data diri Giselle dicatat. Juga ditanyai seputar statusnya yang sudah menikah. "Neng udah menikah?" tanyanya.

__ADS_1


"Sudah, Bu. Hanya saja sedang sendiri-sendiri," balas Giselle.


Usai data dirinya dicatat, Giselle membayar uang sewa untuk satu bulan kemudian barulah Ibu kost memberikan kunci kamar kepada Giselle. "Di lantai tiga ya, Neng. Kamar nomor 4," ucap Bu Kost.


"Iya, Bu ... nuhun," balas Giselle.


Giselle memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Kemudian dia menurunkan kopernya dari bagasi mobil. Lantas, dia menaiki anak tangga menuju ke lantai tiga, kamar nomor empat. Giselle membuka pintu kayu itu, mengamati sekeliling hanya ada single bed, meja dan kursi kayu, AC, dan kamar mandi dalam. Giselle memasuki ruangan itu dan merebahkan dirinya di atas single bed itu.


Seketika air matanya tumpah. Hatinya terasa begitu sesak mengingat suaminya bersama Annisa. Seperti dia dikhianati oleh suaminya sendiri.


"Kenapa akhirnya seperti ini, Mas? Semuanya rekayasa, tipu-tipu, atau nyata, aku juga tidak tahu. Dua tahun bersamamu mengajarku cinta dan luka, Mas. Cinta karena cintamu selama ini, luka karena penolakan Ibu kepadaku. Apakah kisah kita akan berakhir seperti ini, Mas?"


Di kala dia terluka dan kesakitan pun, tidak ada yang membalut lukanya. Sendiri tanpa ada yang menemani. Perih, nyeri, sekalipun tak berdarah sama sekali. Bahkan, Giselle memukuli dadanya yang rasanya sangat sesak.


Dua tahun yang begitu berat untuk Giselle. Dia mendapatkan cinta dan luka di saat yang bersamaan. Hingga di batas akhir ada tindakan suaminya yang tak bisa Giselle terima.


***


Sementara itu di kediaman Gibran ....


Beberapa jam usai kepergian Giselle, bahkan sekarang hari sudah malam. Gibran masih mengurungi diri di kamar. Rasanya semua dunianya runtuh seketika.


"Tanpa kamu di sisiku, aku kehabisan daya, Sayang ... apakah tidak ada sedikit cinta di hati yang bisa menahanmu? Seharusnya kamu mendengarkan aku terlebih dahulu. Tidak pergi dan berlalu begitu saja. Kamar itu penuh dengan kenanganmu, Sayang. Giselle, aku sangat cinta kamu."

__ADS_1


Suara hati Gibran yang hanya bisa dia dengar sendiri. Dia begitu merindukan Giselle. Hidupnya tidak lengkap, hidupnya tanpa daya sekarang.


"Tidak butuh waktu sebulan, karena sekarang hanya beberapa pekan kamu sudah meninggalkan rumah ini, Sayang. Kamu meninggalkan aku. Kamu lebih memilih pergi. Apakah ini akhir cerita cinta kita? Apakah kita ada jalan lain yang bisa kita tuju bersama?"


Hingga terdengar ketukan lagi di kamar Gibran. Gibran pun sudah tahu bahwa itu adalah ibunya.


Tok ... Tok ... Tokk ....


"Bran, Gibran ... jangan mengurung diri terus di kamar. Setidaknya bukakan pintu untuk ibu," suara Bu Rosa menggema dan meminta Gibran untuk membukakan pintu baginya.


Di luar kamar Bu Rosa jengah. Menurutnya sikap Gibran ini kekanak-kanakan. Hanya ditinggal istri pergi saja terus mengurung diri seperti ini.


"Jangan kekanak-kanakan, Gibran. Kamu itu pria. Seharusnya kamu menjadi sosok yang kuat, yang tangguh. Bukan ditinggal istri saja hanya mengurung diri di kamar. Harusnya kamu kuat. Kamu harus buktikan bahwa kamu bisa tanpa istrimu yang gak berguna itu."


Begitu mudahnya Bu Rosa mengatakan semua itu. Padahal betapa sakitnya Gibran sekarang, dia sendiri tak tahu. Namun, menurutnya apa yang Gibran lakukan tak berguna. Justru memang sudah seharusnya Gibran meninggalkan Giselle.


Mendengar suara ibunya dari luar kamarnya. Gibran memejamkan mata dan menutup telinganya sendiri. Pada kenyataannya Gibran kehilangan separuh dirinya ketika Giselle memilih pergi.


Dia memang bukan pria yang kuat. Bahkan sekarang sepenuh hatinya dilingkupi dengan duka. Patah hati terberat untuk Gibran.


"Terserah kamu, Bran. Cowok kok lembek. Harusnya bahagia ditinggal Giselle karena ada Nisa yang mau sama kamu!"


Usai mengatakan semua itu, Bu Rosa kemudian pergi. Dia kesal dengan Gibran yang menurutnya kekanak-kanakan. Namun, sakitnya orang patah hati hanya orang tersebut yang bisa merasakan. Ibarat kata terjatuh, terjungkal, hingga penuh luka. Menangis dan meratap sampai tidak ada yang tahu.

__ADS_1


"Gibran memang lemah, Bu. Gibran gak bisa hidup tanpa Giselle. Bukan maunya Gibran hingga berpisah dari Giselle seperti ini. Sebab, hati dan hidup Gibran sepenuhnya hanya milik Giselle. Tak akan menjadi milik yang lain. Sampai kapanpun hanya milik Giselle."


Sepenuhnya Gibran mengakui, pisah rumah dengan Giselle membuatnya tak berdaya. Bukan maunya menyudahi semua yang telah ada. Sepenuhnya hanya salah paham semata. Namun, semuanya menjadi runyam sekarang.


__ADS_2