
Sekarang sudah beberapa hari berlalu, Gibran memilih mengurungi diri di kamar. Bahkan Gibran menghindari sarapan karena ingin menutup telinganya dari suara ibunya. Dia memilih makan di kantor.
Di hari ketiga, barulah Gibran duduk bersama dengan ibunya di meja makan. Baru saja duduk dan menikmati makanan. Ternyata ibunya kembali berbicara.
"Sudah tiba hari berlalu, Bran," ucap Bu Rosa.
Memang sudah tiga hari berlalu sejak Giselle meninggalkan rumah. Baru kali ini, Gibran berhadap-hadapan dengan ibunya, setelah mengurung diri di kamar. Namun, sekarang Gibran diam dan tidak memberikan jawaban. Membiarkan saja dengan ucapan Ibunya itu.
"Gibran, mumpung kamu sudah keluar dari kamar. Lupakanlah Giselle, menikahlah dengan Annisa. Dia wanita yang baik. Sepadan dan serasi untukmu. Pilihan Ibu tidak mungkin salah," ucap Bu Rosa.
Sangat ironis. Baru tiga hari berlalu dan sekarang Gibran sudah dicerca untuk menikah lagi. Padahal, Gibran sudah memiliki suatu rencana dalam hatinya bahwa dia ingin mencari Giselle. Dia ingin hidup bersama Giselle. Tidak akan pernah menikah lagi.
"Lagipula, pria itu tidak akan bisa hidup sendiri. Kamu butuh pendamping. Kamu butuh seorang istri yang akan menemani kamu, memberanikanmu keturunan untuk melanjutkan hal waris dan nama belakang keluarga kita Winatha. Untuk apa menikah, bertahan karena cinta jika memang tidak bisa memberikan keturunan," ucap Bu Rosa lagi.
Di satu sisi Gibran masih diam. Membiarkan saja semua ocehan ibunya. Namun, setidaknya memang Gibran tahu bahwa Giselle bukan wanita yang diterima baik oleh ibunya. Wanita yang selalu dipandang kurangnya. Padahal, untuk Gibran, dia pernah berbicara kepada Giselle terkait dengan PCOS yang dialami Giselle, Gibran akan menerimanya. Memiliki keturunan atau tidak adalah nomor dua. Yang utama mereka bisa bersama, semua itu juga karena besarnya cinta Gibran untuk Giselle.
"Jangan diem saja, Gibran. Kamu benar-benar yah tidak menghargai Ibu. Untuk apa kamu keluar kamar dan menunjukkan wajahmu kalau di hadapan Ibu, kamu hanya diam. Orang tua berbicara sama sekali tak direspons."
Gibran yang cukup lama diam akhirnya menaruh sendok dan garpunya di sisi piring. Perlahan, pria itu menatap kepada sang ibu.
"Ibu, maafkan Gibran ... maafkan Gibran karena Gibran tidak akan pernah menikah lagi. Gibran akan berusaha untuk mencari Giselle. Gibran akan meminta maaf kepada Giselle dan menjelaskan semuanya bahwa apa yang Giselle lihat itu sama sekali tidak benar," ucapnya.
__ADS_1
Namun, Bu Rosa tentu sama sekali tidak menerima dengan apa yang diucapkan Gibran. Baginya, tidak ada untungnya mencari lagi istrinya. Letak kesalahan berada kepada Giselle yang memilih pergi dari rumah.
"Ibu tidak akan menerimanya lagi. Ibu menolaknya sebagai menantu!"
Pekikan keras Bu Rosa disertai dengan hentakan tangan di meja. Tanda bahwa Bu Rosa benar-benar geram sekarang. Dia sekarang sudah mengatakan dengan lugas bahwa dia menolak Giselle.
Sementara Gibran tersenyum sendu. Lagi-lagi diperhadapkan dengan kenyataan pahit bahwa ibunya tidak akan menerima Giselle. Oleh karena itu, Gibran menggelengkan kepala secara samar.
"Wanita yang menjadi pilihan hatinya Gibran hanya Giselle, Bu. Hidup dan mata, Gibran akan tetap memilih Giselle," balasnya lirih.
"Jangan-jangan wanita itu sudah mengguna-guna kamu sampai kamu gila kayak gini. Istighfar, Gibran. Banyak wanita yang mau bersamamu. Walau kamu duda!"
"Gibran masih menjadi suaminya Giselle dan selamanya akan menjadi suaminya Giselle," balasnya.
"Kalau begitu, Gibran pamit, Bu. Gibran akan mencari Giselle," pamitnya.
Walau ibunya mengomel-omel dan juga berbicara kasar kepada putranya, Gibran memilih untuk pergi. Dia sudah membulatkan tekadnya untuk mencari Giselle. Tiga hari tanpa Giselle, membuat Gibran tak bisa bernapas dengan leluasa. Oksigen yang dia hirup rasanya semakin menipis.
Keluar dari rumah, Gibran segera menginjak gas mobilnya. Dia juga tidak tahu harus mencari kemana. Dalam tiga hari ini, tidak ada pesan dari Giselle untuknya. Begitu juga semua pesan, semua telepon yang dia kirimkan tak tersampaikan. Hanya centang satu.
"Kamu di mana, Sayang? Aku harus mencarimu sekarang juga. Aku tidak bisa seperti ini. Kamu harus dengar semua kebenaranya, Sayang. Sebab, aku tidak melakukan apa-apa dengan Nisa. Semuanya salah paham. Apa yang kamu lihat tidak seperti dengan kenyataan yang sebenarnya. Faktanya aku selalu menjaga hati dan cintaku hanya untuk kamu, Sayang."
__ADS_1
Menyelusuri jalanan, tikungan, turunan, hingga jalan yang naik. Gibran seolah berlayar tanpa peta. Tak ada tempat yang dia tuju karena memang dia tidak tahu kemana Giselle sekarang.
"Oh, hati ... tunjukkanlah di mana Giselle berada. Dia yang sesungguhnya adalah pemilik hati. Rasanya ingin bersua dan memeluknya. Walau kata tak terucap, tapi semua akan terasa dalam pelukan hangat."
Sembari mengemudikan mobilnya, Gibran terus berkata dalam hatinya. Berharap sangat untuk bisa menemukan Giselle. Dia akan meminta maaf dan memeluk istrinya itu. Kerapuhan hatinya hanya bisa disembuhkan oleh Giselle saja, pemilik dari setiap sisi sebongkah hati yang sekarang terasa begitu nyeri.
***
Sementara itu di kostnya ....
Hampir setiap malam dalam tiga hari ini, wajah Giselle selalu sembab dan berlinang air mata. Setiap malam tiba, kerinduan kepada suaminya kian menjadi-jadi.
"Dalam tiga hari ini, apakah Mas Gibran memikirkan aku, mencariku, dan juga merindukanku? Aku di sini memeluk rindu. Sangat rindu kepada Mas Gibran. Namun, bagaimana lagi hubungan kita menyakitkan. Lebih sakit dari sekadar cinta yang tak direstui sebelum pernikahan. Menjadi menantu yang tak pernah diterima, membuat hari-hariku di pondok mertuaku berselimut lara."
Wanita itu kembali berderai air matanya. Menggenggam nestapa, memeluk lara. Namun, sakit di hatinya kian menjadi-jadi manakala mengingat penolakan dan setiap ujaran kebencian dari ibu mertuanya.
"Bagaimana ujungnya hubungan kita ini, Mas? Apakah akan menggantung saja tanpa pernah ada kepastian?"
Sungguh begitu dilema. Bahkan rasanya lebih terasa menyesakkan daripada sekadar patah hati ketika masih remaja. Hingga Giselle teringat dengan sebuah tempat di kota Bandung yang dulu pernah dia datangi bersama Gibran.
Rasanya hati menuntunnya ke sana. Giselle pun menyeka genangan air mata di sudut matanya. Kemudian merapikan rambutnya, dan mengambil kunci mobil. Aneh, tapi memang Giselle sangat ingin ke sana sekarang.
__ADS_1
"Andai masih bisa diperbaiki, apa rumah tangga akan menemukan kebahagiaan, Mas? Dengan kekurangan, dengan ketidakberdayaanku untuk memberikan keturunan bagimu."