
Cukup lama berdiri di depan Canary, rasanya beberapa orang sudah mulai mengamati Giselle di sana. Oleh karena itu, Giselle memilih untuk melangkahkan kakinya untuk segera pergi. Memori dan kenangan selamanya akan terukir hanya sebagai masa lalu yang dulu pernah dilewati. Sehingga, Giselle menekan hatinya sendiri dan mulai berjalan meninggalkan Canary.
Namun, baru tiga langkah dia ambil, dari belakang ada orang yang dengan tiba-tiba menautkan tangannya di tangan Giselle. Tentu saja, Giselle terkejut. Siapa yang menautkan tangan di tangannya sekarang?
"Giselle ... Sayang ...."
Suara pria khas bariton yang sangat familiar di telinga Giselle. Sekadar mendengar suaranya saja membuat dunia Giselle seakan berhenti berputar. Tepat seperti orang-orang yang berlalu-lalang di jalan Braga, dan hanya Giselle sendiri yang berhenti. Suara yang sudah selama tiga hari ini tidak menyapanya, tidak berkomunikasi dengannya. Apakah untuk ini, hati yang menuntun dan menggerakkannya ke tempat yang pernah menjadi masa lalu yang indah untuk keduanya?
Tak berani untuk menoleh karena Giselle teringat dengan sakit yang dia derita ketika melihat Gibran bersama dengan Annisa di dalam kamarnya. Kembali sakit dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh suaminya sendiri. Semua itu yang membuat Giselle untuk pergi.
Giselle berusaha untuk melepaskan tangan Gibran yang tertaut di tangannya itu. Rasanya, dia tidak bisa untuk menerima Gibran. Dua tahun menikah dengan Gibran, Giselle mengakui bahwa banyak air mata karena sikap ibu mertuanya. Bahkan awal-awal dulu, Gibran juga bersikap pasif. Hanya memintanya untuk bersabar.
Kondisi ekstremitas yang Giselle hadapi di dalam rumah mertuanya sendiri, perlahan menggerus ikatan pernikahan yang suci. Selain itu, kehadiran pihak ketiga juga membuat Giselle juga semakin terhimpit.
"Sayang ... kita sama-sama dipertemukan di sini bukan?"
Suara Gibran yang lirih kembali bersuara, hingga Giselle memejamkan matanya perlahan. Suara suaminya yang sering kali dia rindukan. Namun, sekarang ketika tak sengaja bersua, kenapa rasanya begitu berat untuk bersitatap netra satu sama lain.
Giselle akhirnya memilih melepaskan tangan suaminya. Wanita itu berjalan tanpa menoleh ke belakang. Berusaha keras untuk menahan air matanya sendiri. Langkah demi langkah dia ambil untuk bisa terlepas dari suaminya itu.
Gibran menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak, ketika Giselle melepaskan tautan tangannya. Namun, Gibran tak mau menyerah. Dia juga mengambil langkah demi langkah dan mengikuti Giselle. Ke mana pun tempat yang dituju oleh Giselle, Gibran akan menempuhnya.
"Aku akan mengikutimu, Sayang ... kita dipertemukan kembali. Bukankah ini adalah sebuah tanda bahwa kita memang ditakdirkan bersama?"
Gibran sangat yakin dengan hati dan cintanya. Dia begitu mencintai Giselle. Ketika berhasil bertemu dengan Giselle, Gibran akan meminta maaf dan juga tidak akan melepaskan Giselle lagi.
Berapa belas meter, Giselle terus melangkah. Hingga di sudut jalan yang lebih sepi, Gibran sedikit berlari kecil dan dia segera mendekap tubuh Giselle dengan begitu eratnya. Mendekap tubuh istrinya dari belakang.
__ADS_1
"Kali ini jangan lari lagi, Sayang. Aku akan mengikutimu. Tidak akan melepaskanmu," ucap Gibran.
Momen pertemuan yang sangat emosional. Hanya tiga hari, tapi hati yang didera rindu tak mau untuk mengerti. Namun, ada keengganan. Ada sakit dan luka mnyeruak di waktu yang bersamaan.
"Lepaskan aku, Mas," balas Giselle.
"Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu. Aku tidak akan pergi sebelum kamu memberikan maaf kepadaku dan juga mendengarkan semua penjelasanku," balas Gibran.
"Sudah tidak perlu lagi yang harus dijelaskan kan Mas? Kamu bersamanya di dalam kamar kita. Ingat, Mas ... kamar kita. Kedua tanganmu yang sekarang memelukku ini, memeluknya juga. Sudah jelas semuanya bukan? Ditambah lagi dengan Ibu yang pada kenyataannya tidak akan pernah merestui dan menerimaku. Jadi, kita sudahi saja semuanya," pinta Giselle.
Berat untuk berbicara seperti itu. Namun, bertahan dengan Gibran dan diam di rumah mertuanya, juga hanya membuatnya mendiami neraka saja. Mungkin keputusan Giselle sudah bulat bahwa dia tak ingin menghuni pondok mertua yang bagaikan pondok nestapa untuknya.
"Kamu salah, Sayang ... aku tidak akan membawamu kembali rumah Ibu lagi," ucap Gibran perlahan.
"Lepaskan pelukanmu dulu, Mas," pinta Giselle sekarang.
"Tidak, aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan memelukmu begitu aku berhasil mendapatkanmu," balas Gibran.
"Janji dulu, bahwa kamu tak akan lari dariku," balas Gibran.
Giselle masih diam. Dia masih kesal dengan Gibran. Namun, di saat yang sama, Gibran kian mengeratkan pelukannya. "Janji dulu, akau biarkanlah seperti ini adanya," ucap Gibran lagi.
"Baiklah," balas Giselle.
Dekapan Gibran di perut Giselle terlepas, tapi satu tangan Gibran segera menggenggam tangan Giselle. Ada ketakutan sendiri di dalam hati Gibran jika Giselle akhirnya memilih untuk pergi lagi. Untuk karena itulah, dia segera menggenggam tangan Giselle.
Mengambil langkah bersama, dengan tangan yang saling bertaut, tapi nyatanya tidak ada kata-kata yang terucap. Giselle memilih diam, begitu juga Gibran yang berusaha menenangkan hatinya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Sayang, kamu ingat enggak ... satu setengah tahun yang lalu, kamu ingin ke Braga dan aku akan memotretmu. Sekarang, lihatlah ... dalam satu setengah tahun, kamu sudah berubah. Kamu menjadi secantik ini. Semua lemak di tubuhmu sudah hilang, yang ada adalah Giselle Wardhani yang sangat cantik. Jadi, ingin dipotret tidak?" tanya Gibran lagi.
Giselle tak menduga bahwa kenangan yang baru saja dia ingat, diingat juga oleh suaminya. Rasanya, Giselle merasa terkejut. Dia tidak menyangka dengan apa yang pernah mereka ucapkan bersama satu setengah tahun lalu.
"Aku sudah tidak mengingatnya," balas Giselle. Tentu adalah ucapan yang bertolak belakang dengan suara hatinya. Giselle ingat semuanya, tapi dia memilih ingkar.
"Tidak mungkin ... aku sangat yakin. Kamu berhenti di depan Canary karena mengingatku bukan? Mau beli es krim dan kue Bagelen di sana?" tawar Gibran kepada Giselle.
Giselle menggelengkan kepalanya. Dia juga tidak menyangka, suaminya juga masih mengingat menu yang mereka pesan dulu. Andai saja, ibu mertua memberikan restu pastilah ikatan dua sejoli ini akan mesra dan harmonis. Namun, ujian rumah tangga itu tak pernah ada yang tahu. Beberapa di antaranya juga ada yang mendapatkan ujian dari ibu mertuanya sendiri.
"Walau gajiku tidak tinggi ... untuk membelikan es krim dan juga kue Bagelen masih bisa kok," ucap Gibran sekarang. Perkataan itu persis seperti yang Gibran katanya kepada Giselle dulu. Ya, walau gajinya tidak banyak, tidak sebesar Giselle, tapi jika hanya untuk membelikan es krim dan roti saja Gibran bisa dan mampu.
"Itu hanya masa lalu, Mas ... aku ingin pulang. Sebaiknya kita berpisah di sini," ucap Giselle kepada Gibran.
"Tidak, aku tidak ingin berpisah denganmu, Giselle. Izinkan aku untuk bermalam di tempatmu," balas Gibran.
Dengan cepat Giselle menggelengkan kepalanya. Tentu dia sangat tidak ingin jika Gibran sampai tahu tempatnya dan kemudian mengajaknya untuk kembali ke rumahnya. Secara mental dan psikis, Giselle belum siap untuk kembali pulang ke rumah mertuanya.
"Aku ingin bermalam di tempatmu. Terlebih sekarang hujan. Suami adalah rumah untuk istrinya bukan? Namun, sekarang suamimu ini akan menuju ke perhentiannya yang sebenarnya, yaitu istrinya. Kamu, Sayang ...."
"Tidak usah, Mas. Kita berpisah di sini saja," balas Giselle.
"Aku yang tidak ingin berpisah darimu. Biarkan aku pulang, berlabuh kepadamu," balas Gibran.
Giselle merasa bingung. Tempat kostnya adalah kost wanita, dan tidak tahu apakah diperkenankan untuk membawa pria bermalam di kost, walau itu adalah suaminya sendiri.
"Kostku khusus wanita, dan pria tidak diperbolehkan masuk," balas Giselle kemudian.
__ADS_1
Gibran menghela napas sesaat dan menatap Giselle. "Aku akan meminta izin kepada ibu kostmu," balasnya.
Gibran sudah sampai pada keputusannya bahwa dia tidak ingin berpisah dengan Giselle. Ketika sudah bertemu dengan Giselle dia akan benar-benar meminta maaf dan menjelaskan semuanya. Jika, berpisah di sini, sudah pasti tidak akan bisa melakukan rekonsiliasi dengan Giselle.