Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Ditenangkan Istri


__ADS_3

Langkah demi langkah yang Gibran ambil tentu saja adalah langkah yang berat. Hatinya kesal, bahkan bisa saja menjadi dongkol. Namun, juga semua itu Gibran tak tahu sejak kapan ibunya menjadi seperti itu. Setahunya dulu, Ibunya tidak materialistis seperti itu. Namun, bagaimana bisa sekarang ibunya justru seperti itu.


"Ada kalanya, Gibran justru kehilangan sosok Ibu. Di mana Ibu yang dulu begitu lembut, penyayang, dan juga tidak pernah memikirkan masalah uang. Gibran masih ingat ketika terjadi konflik di tahun 98, semuanya susah. Hidup kita waktu itu juga susah. Ayah yang juga kena PHK. Namun, kita bisa melewati masa sulit itu. Sekarang, kenapa Ibu bahkan menginginkan apa yang bukan milik Ibu?"


Suara hati Gibran menggema di kepalanya. Sangat menyayangkan dengan sikap ibunya. Gibran masih ingat sekali sewaktu kerusuhan Mei 1998 dulu. Semua orang mengalami dampaknya. Termasuk keluarga Gibran. Kala itu, Ayahnya yang bekerja di orang Tionghoa merasakan tempat bekerjanya dibakar oleh warga pribumi. Gejolak politik yang berimbas juga kepada ekonomi masyarakat.


Ya, kala itu banyak masyarakat yang selama ini bekerja kepada orang non pribumi harus kehilangan kerjaannya. Yang terbiasa mendapatkan uang atau gaji, tiba-tiba menjadi pengangguran. Hampir sebulan Ayahnya menganggur di rumah. Barulah setelahnya, Ayahnya mendapatkan pekerjaan lagi.


Bagi Gibran itu adalah memori yang cukup pahit dalam hidupnya. Makan hanya seadanya. Tak jarang telur didadar dengan begitu lebar dan tipis, setelah itu dipotong-potong dan juga digunakan untuk lauk sehari. Gibran yang sekarang berusia 28 tahun, kala itu memang masih kecil. Namun, memori itu ada karena mengingat cerita Ayahnya tentang bagaimana susahnya hidup di tahun itu.


Bahkan masih bisa Gibran ingat bahwa keluarga perlahan bisa menjadi seperti ini karena ibunya yang pandai menyimpan uang. Pelan-pelan, ekonomi mereka menjadi stabil. Memang tidak kaya raya seperti keluarga Wardhana, tapi keluarga Winatha berhasil untuk terus bertahan.


"Apa yang membuat Ibu berubah seperti ini? Kenapa Ibu berubah. Gibran masih menyayangkannya," balasnya.


Hingga akhirnya, Gibran sudah sampai di rumahnya. Baru saja di depan rumah dan membuka gerbang sudah ada Giselle yang menyambutnya. Gibran pun tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala istrinya itu.


"Sudah pulang Mas? Kok cepat?" tanya Giselle.


Gibran menganggukkan kepalanya. "Ya, kan cuma nengokin saja, Sayang. Beda cerita kalau tinggal di sana. Kamu ini juga aneh-aneh saja," balas Gibran dengan tersenyum.


Seperti biasa Gibran berusaha untuk menyembunyikan kekesalan hatinya. Berusaha mengatasi sendiri. Namun, sayangnya Giselle tahu bahwa sekarang memang suami sedang kepikiran sesuatu.


"Pasti Ibu marah yah?" tanya Giselle perlahan.

__ADS_1


Sudah bisa terdeskripsikan dari wajah Gibran. Dari sorot matanya, atau dari suaranya.


"Sudah biasa kan, Sayang?" tanya Gibran dengan dengan menatap istrinya.


Giselle kemudian memegang tangan suaminya, sedikit memberikan pijatan di lengan suaminya. Sedikit memberikan refleksi, supaya suaminya itu lebih rileks. Tidak terlalu kepikiran. Walau sudah berbeda rumah, tapi jelas terasa bahwa masih ada pikiran tentang Ibunya.


"Minum ya Mas ... aku buatkan?" tawar Giselle sekarang kepada suaminya.


Gibran kemudian menganggukkan kepalanya. "Boleh ... buatin jus ya, Sayang. Mau?"


Giselle kemudian menuju ke dapur. Segera membuatkan Jus yang diminta oleh suaminya. Kebetulan di lemari es ada mangga, sehingga sekarang Giselle membuatkan jus mangga untuk suaminya. Ditambah dengan susu dan juga es batu. Tidak butuh waktu lama, Giselle kembali ke ruang tamu dan memberikan segelas jus mangga dingin kepada suaminya.


"Jusnya sudah jadi, Mas," ucap Giselle.


"Iya, biar kamu bahagia. Diminum yah ... dihabisin. Mau aku pijit sedikit kepala dan keningnya. Pasti bagian saraf di sini kenceng banget," ucap Giselle.


Gibran yang usai minum terkekeh perlahan. "Kamu bisa saja. Uhm, tapi aku senang sih, Sayang. Kamu di rumah Ibu dulu ketika kamu menangis, kita tidak bisa menenangkan seperti ini. Yang ada cuma di dalam kamar saja, palingan memberikan pelukan. Setelah di rumah sendiri. Bisa kamu bikinin jus. Kamu tawarin untuk pijat. Duh, bahagianya," balas Gibran.


Giselle tersenyum perlahan. "Kan kita sudah berjanji untuk berbagi kesedihan. Sedihmu adalah sedihku. Begitu juga sebaliknya. Jadi, kita bagi bersama. Kita lewati semuanya bersama," balas Giselle.


Gibran kemudian merangkul istrinya. Sangat senang dengan ucapan positif dari istrinya itu. Kemudian Gibran menatap Giselle perlahan.


"Yang, aku pengen kamu tenangin dengan cara yang lain. Nanti malam yah?" pinta Gibran kepada istrinya.

__ADS_1


Sebagai istri, Giselle tahu apa yang diminta oleh suaminya. Hingga, dia mencubit pinggang suaminya itu. "Tuh, pasti modus deh," balasnya.


"Sudah tiga hari enggak, Yang ... terus belum beberapa hari yang lalu. Diakumulasi, dua minggu ada loh. Mau enggak?" tanya Gibran yang kelihatan mengiba sekarang.


"Malam saja ya, Mas. Ini masih terlalu sore. Mandi-mandi dulu nanti biar seger," balasnya.


Baru saja, mereka berbicara hal yang lebih privasi ada suara tamu yang datang. Rupanya pengantar dari toko perabotan rumah yang tadi mereka beli bersama. Oleh karena itu, keduanya sekalian menata perabotan yang mereka beli. Bahkan ada teknisi yang memasang televisi besar yang baru saja mereka beli. Gibran memilih memasangnya di dalam kamarnya. Katanya biar kamarnya lebih menyenangkan dan bisa melihat film atau siaran televisi favorit sembari rebahan di dalam kamar.


Selain itu, juga Giselle menata beberapa perabotan di dapur. Senang bisa memiliki dapur yang sesuai keinginannya. Dengan beberapa perabotan yang cukup saja. Lemari juga sudah dimasukkan ke kamar sebelah. Tepat kamar kosong yang ada di sebelah kamar. Vas bunga beserta bunga yang hanya hiasan juga Giselle tempatkan di meja tamu, di dalam kamar, dan meja makan. Hanya ingin membuat suasana rumah lebih menyenangkan untuk ditempati.


"Sudah tidak begitu kosong ya Mas? Lebih nyaman untuk ditempati," ucap Giselle.


"Iya, Sayang ... lebih menyenangkan bukan? Banyak berdoa yah, rumah ini banyak berkah dan salah satunya berkah keturunan. Iya kan, Sayang?"


Rupanya, Gibran juga menyematkan doa yang baik. Ingin juga rumah yang mereka tempati juga memberikan berkah, dan salah satunya adalah berkah keturunan. Harapan yang baik dan tulus dari dalam hatinya semoga saja didengarkan oleh Tuhan.


"Amin, Mas. Semoga ya, Mas," balas Giselle.


"Nanti malam yah, habis ini mandi dulu. Sudah lama suamimu ini berpuasa," balas Gibran.


Lagi-lagi Giselle hanya tersenyum sembari menatap suaminya. "Jangan gigit leher ya, Mas. Jadikan ucapan Ibu dulu sebagai ultimatum. Gak perlu dilihat orang lain juga kan?" tanyanya.


"Ya sudah, gigit yang lain," balas Gibran dengan begitu gampangnya.

__ADS_1


Giselle hanya geleng kepala saja mendengarkan jawaban suaminya yang begitu enteng itu. Giselle hanya tidak ingin nanti menyebabkan orang lain tahu dengan apa yang baru saja mereka lakukan. Walau sudah menjadi suami istri, tetap saja harus menjaga dan tidak membuat orang di sekitar menjadi risih dan memikirkan yang tidak-tidak.


__ADS_2