Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Rekonsiliasi


__ADS_3

Bu Rosa masih ingat dengan nasihat dari Rani, adiknya. Bahwa dia harus meminta maaf kepada Giselle mumpung Allah masih memberikannya waktu untuk meminta maaf. Namun, Bu Rosa masih menunggu. Dia akan meminta maaf ketika sudah tiba di rumahnya nanti.


Sepenuhnya Bu Rosa sudah memahami bahwa sikapnya selama ini salah. Dia harusnya lebih bersyukur. Jika memiliki menantu seperti Amel, sudah pasti ada lonjakan tekanan darah yang membuat Bu Rosa terkena stroke mungkin. Namun, lantaran kurang bersyukur, dia hanya mencari-cari kesalahan Giselle saja.


"Ibu, mau mampir sesuatu? Sekalian untuk beli makan siang?" tawar Gibran kepada ibunya sekarang.


"Giselle tidak masak to hari ini?" tanya Bu Rosa.


Giselle ingin menjawab, tapi dia menjadi begitu takut ketika Bu Rosa nanti marah. Namun, Giselle akhirnya juga berani untuk memberikan jawaban.


"Maaf, Bu. Tadi Giselle hanya membuat nasi goreng untuk sarapan dengan Mas Gibran. Usai itu, Giselle bersiap dan menjemput Ibu. Maaf," balasnya.


Jika Bu Rosa biasanya marah-marah dan menuding Giselle tidak becus. Sekarang Bu Rosa justru terenyuh hatinya ketika Giselle menjawab dengan mengucapkan maaf terlebih dahulu. Selain itu, ucapan Giselle juga begitu lembut.


"Tidak apa-apa, Selle," balas Bu Rosa.


Ya Tuhan, Giselle pun menjadi kaget dibuatnya. Biasanya mertuanya akan memarahinya ketika dia tidak memasak. Sekarang, justru Bu Rosa bisa memakluminya. Sampai Giselle melirik ke Gibran yang tengah menyetir. Seakan tak percaya dengan jawaban yang diberikan ibu mertuanya.


Di satu sisi Gibran melirik sekilas ke Giselle, ada anggukan samar dari pria itu. Menginstruksikan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Giselle juga kembali fokus melihat pemandangan yang bergerak dari kaca mobilnya.


Berkendara kurang lebih dua puluh menit, sekarang Gibran sudah tiba di kediaman ibunya lagi. Gibran yang mengeluarkan setiap koper, sementara Giselle berinisiatif untuk membantu mertuanya.


"Giselle bantu yah, Bu," katanya dengan berjalan di sisi Bu Rosa.


"Iya," jawab Bu Rosa.


Maka, Giselle membantu Bu Rosa untuk berjalan memasuki rumah. Kemudian membantu Bu Rosa untuk duduk di ruang tamu terlebih dahulu. Sementara Gibran bertanggung jawab untuk setiap koper yang berisikan pakaian ibunya.

__ADS_1


"Apa mau minum, Bu? Biar Giselle buatkan," tanya Giselle kepada ibunya.


"Boleh, air putih saja yah, Selle," jawabnya.


Giselle segera menuju ke dapur dan juga mengambilkan air putih untuk Bu Rosa. Sampai di detik ini, Giselle merasa bahwa Bu Rosa berbeda. Tidak judes kepadanya. Padahal biasanya setiap kata yang keluar pastilah kata-kata yang pedas.


"Silakan, Ibu," ucap Giselle dengan menyodorkan segelas air putih.


"Makasih yah," balas Bu Rosa lagi.


Kemudian Bu Rosa meminum air putih itu sedikit. Begitu Gibran sudah duduk di sofa yang ada di ruang tamu, terlihat Bu Rosa ingin berbicara kepada Giselle dan Gibran.


"Gibran dan Giselle, boleh Ibu berbicara," ucap Bu Rosa.


Keduanya sama-sama menganggukkan kepalanya. Siap untuk mendengarkan apa yang hendak disampaikan oleh ibunya.


"Hm, begini ... Ibu berbicara kepada kalian yang pertama karena Ibu ingin meminta maaf kepada kalian berdua. Selama ini, Ibu memperlakukan kalian berdua dengan tidak pantas. Terutama, kepada kamu, Giselle. Maafkan Ibu karena selama ini, Ibu sering mengatakan ucapan yang tidak benar, ucapan yang kasar kepadamu. Ibu menyadari bahwa apa yang Ibu lakukan salah," ucap Bu Rosa.


"Selama tinggal di rumah Rani, Ibu banyak berintrospeksi. Tantemu mengatakan tidak semua orang dianugerahi menantu yang baik, menantu rasa anak. Ibu terlalu jahat dan menilai Giselle hanya dari sisi negatifnya saja. Giselle, maafkan Ibu ya, Selle. Maafkan kata-kata dan sikap Ibu yang kasar. Maafkan Ibu karena selama ini tidak bisa menjadi sosok mertua yang baik untukmu," ucap Bu Rosa lagi.


Giselle yang sedari tadi duduk di sisi suaminya, akhirnya beranjak di mengambil posisi berlutut di depan Ibu mertuanya. Dia menggenggam satu tangan Ibu mertuanya.


"Ibu, Giselle minta maaf juga yah. Giselle juga sering tersakiti dengan ucapan Ibu. Namun, Giselle tidak pernah benci Ibu. Giselle selalu sayang Ibu. Maafkan Giselle juga kalau banyak salah yah," balas Giselle.


Lantas menantu dan mertua itu berpelukan. Saling menangis. Proses rekonsiliasi yang berlinang air mata. Dari beberapa peristiwa yang terjadi, sampai akhirnya Bu Rosa bisa menyadari salahnya. Giselle juga tidak marah, dia selalu sayang Ibu mertuanya.


Gibran yang melihat pemandangan haru di depan matanya, sampai menitikkan air matanya. Sebagai suami dan sebagai anak, dia senang tembok yang seakan berdiri di antara Ibu dan istrinya sudah runtuh hari ini. Ada proses rekonsiliasi. Ada maaf yang terucap.

__ADS_1


Akhirnya, Gibran menyusul dan mengambil tempat di sisi Ibunya. Gibran juga membantu Giselle untuk berdiri dan duduk di sampingnya. Lantas Gibran merangkul Ibu dan istrinya.


"Gibran seneng banget. Gibran berharap Ibu dan Giselle bisa saling rukun dan saling sayang. Ibu, Gibran bisa menjamin bahwa Giselle selalu sayang kepada Ibu," ucap Gibran.


Bu Rosa terisak dan menganggukkan kepalanya. "Maafkan Ibu yah, Bran," balasnya.


"Iya, Bu. Ah, Gibran lega rasanya. Ibu, juga akan menjadi Nenek loh. Kebahagiaan keluarga kita akan bertambah," kata Gibran


"Iya, Bran ... iya," balas Bu Rosa.


Lega sudah rasanya. Semoga saja proses rekonsiliasi adalah titik awal bagi Bu Rosa dan Giselle untuk memiliki hubungan yang lebih baik. Setelahnya, keduanya juga memiliki hubungan yang benar-benar baik.


"Baiklah, sudah siang. Ibu mau makan apa?" tawar Gibran sekarang kepada Ibunya.


"Ibu pengen bakso, Bran," jawabnya.


Seketika Gibran tersenyum dan melirik istrinya. Dia tahu bahwa ketika hamil, Giselle tidak suka dengan Bakso. Aroma Bakso saja bisa membuatnya mual.


"Bu, apa Ibu mau makan di luar dengan Gibran saja?" tawar Gibran lagi.


Bu Rosa menjadi bertanya-tanya, "Kenapa Bran? Giselle gak ikut makan?" tanya Bu Rosa.


Gibran menggelengkan kepalanya. "Hamil ini, Giselle tidak suka Bakso, Bu. Kalau mencium aroma Bakso, Giselle jadi mual. Maaf, Bu," jawab Gibran.


"Oh, kamu mencium aroma Bakso mual yah, Selle?" tanya Bu Rosa.


"Iya itu, Bu. Kalau Ibu mau makan Bakso dengan Mas Gibran saja yah, Bu. Maaf, bukannya Giselle tidak sopan. Namun, memang mual kalau mencium aroma Bakso," balas Giselle.

__ADS_1


Bu Rosa menganggukkan kepalanya. "Oalah, kok kayak Ibu dulu waktu hamil Gibran. Sampai tujuh bulan itu, mualnya tidak hilang," balas Bu Rosa.


Bahkan dia detik ini, Bu Rosa tidak marah. Dia justru menceritakan bahwa itu sangat mirip ketika dia hamil Gibran dulu. Sampai usia 7 bulan nyatanya masih mual dan tidak tahan mencium aroma Bakso.


__ADS_2