
Hanya beberapa jam saja Gibran dan Giselle tertidur bersama. Itu semua karena pagi sudah menjelang. Gibran kemudian terbangun, dia tersenyum mengamati wajah cantik istrinya yang masih terlelap. Wajah cantik itu begitu teduh, Pemandangan yang selama tiga hari hilang dari sisinya. Sekarang, Gibran benar-benar menikmati pemandangan indah itu. Sayangnya, wajah cantik itu sering kali tidak berseri. Wajah cantik itu sering kali berurai dengan air mata. Rasanya, Gibran ingin terus melihat wajah Giselle tersenyum kembali dan berseri-seri.
"Sungguh, kamu memang cantik, Sayang. Semoga dengan tinggal hanya berdua saja, kita akan banyak mengukir cerita indah bersama. Di dalam satu atap hanya ada kita berdua. Walau sederhana, tapi di dalam rumah kita akan ada banyak cinta, itu harapanku."
Suara dari dalam hati yang hanya Gibran suarakan dan dengar seorang diri. Hingga, akhirnya Gibran membelai lembut sisi wajah istrinya itu. Pria itu tersenyum, ketika Giselle terusik tidurnya dan mulai membuka mata.
"Sayang," suara lirih Gibran yang berusaha untuk membangunkan Giselle.
"Hm, iya, Mas .... sudah bangun?" tanya Giselle kepada suaminya itu.
"Iya, beberapa saat yang lalu. Aku akan pulang dulu, Sayang," pamit Gibran kepada istrinya itu.
Giselle kemudian menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Mas ... aku berharap semuanya baik. Mas juga tidak mendapatkan amarah dan amukan dari Ibu karena tidak pulang semalaman," balas Giselle.
Jujur saja, Giselle merasa kasihan apalagi pagi-pagi suaminya pulang dan mendapatkan ucapan pedas dari ibunya membuat Giselle juga khawatir dan kasihan. Namun, bagaimana lagi memang konsekuensinya seperti itu.
"Tenang saja, Sayang. Yang penting, aku sudah lega , bisa bertemu denganmu. Aku siap merajut rumah tangga berdua. Jadi, aku pamit pulang dulu yah?"
Giselle pun menganggukkan kepalanya. "Iya, Mas. Ayo, aku antar turun ke bawah," balasnya.
Akhirnya, Giselle mengantar suaminya itu untuk turun ke bawah. Sebelum berpisah, Gibran memeluk Giselle dengan begitu eratnya. Dia berjanji untuk kembali sore nanti dan akan menjemput Giselle seusai bekerja.
"Hati-hati ya, Mas," ucap Giselle.
"Pasti, Sayang ... aku pamit yah. Assalamualaikum," balas Gibran.
"Waalaikumsalam, Mas Gibran."
__ADS_1
Gibran melajukan mobilnya perlahan dan mulai meninggalkan kost tempat Giselle. Sementara, Giselle masih berada di depan kost, mengamati sampai mobil suaminya itu menghilang. Sembari terus berdoa di dalam hati semoga semuanya baik adanya.
Dua puluh menit kemudian, Gibran sudah tiba di rumah. Pria itu banyak berdoa dan berharap kepada Allah semoga saja, semoga Ibunya tidak marah. Walau kemungkinan besar, Ibunya tetap akan marah.
"Assalamualaikum, Ibu," salam dari Gibran begitu memasuki rumah.
Ternyata Ibunya sudah berada di ruang tamu, seolah menunggu Gibran untuk pulang. Entah, Ibunya yang memang sudah bangun, atau memang terjaga semalaman menunggu Gibran untuk pulang. Yang pasti, Ibunya sudah duduk di ruang tamu. Sorotan matanya kepada Gibran begitu tajam dan melihat anak tunggalnya itu.
"Sekalian saja tidak usah pulang, semakin bertambah usia, semakin dewasa, justru semakin hilang arah. Gak bener kamu itu, Bran!"
Tepat seperti kemungkinan Gibran bahwa Ibunya pastilah marah. Bahkan di mata Bu Rosa, Gibran yang semakin bertambah usia semakin tidak tahu jalan yang benar. Semua itu tentunya karena Gibran yang semalaman tidak pulang.
"Maafkan, Gibran, Bu," sahut Gibran dengan lirih.
"Percuma saja selalu minta maaf, tapi kamu selalu saja begitu. Apa ada, anak gak pulang semalaman? Dulu, kamu tidak pernah melakukannya, sekarang kamu bahkan gak pulang ke rumah, bercinta dengan istri dengan membuat tanda merah di leher. Kamu menjijikkan, Gibran! Pasangan yang buruk, berimbas buruk juga ke kamu!"
"Kamu kalau memang tidak bisa diberitahu oleh Ibu, kamu pergi saja dari sini, Bran! Sekalian biar Ibu tinggal sendiri, daripada tinggal bersama anak sendiri bahwa malahan banyak dosa karena sering marah-marah," balas Bu Rosa.
"Bu, begini ... Gibran bukan pergi untuk senang-senang atau melakukan hal yang negatif. Bagaimana pun didikan dari Ibu dan almarhum Bapak akan selalu Gibran ingat dan lakukan. Gibran tidak pulang semalam karena mencari istri, Bu ... Gibran mencari Giselle. Alhamdulillah, Gibran berhasil untuk menemukan Giselle."
"Kamu masih mencari dia? Buka mata kamu, Bran! Dia wanita yang menyusahkan. Wanita pembawa musibah. Ceraikan dia! Tidak ada untungnya sama sekali. Ceraikan dia! Ibu gak sudi memiliki menantu seperti Giselle!"
Lagi dan lagi, selalu ada penolakan dari Bu Rosa kepada Giselle. Bahkan Bu Rosa meminta Gibran untuk menceraikan Giselle. Dia sudah tidak mau memiliki menantu seperti Giselle. Menantu yang hanya membawa musibah untuk keluarganya.
Gibran dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak, Bu ... Gibran selamanya tidak akan menceraikan Giselle. Justru, Gibran akan meninggalkan rumah ini. Gibran akan membina rumah tangga berdua dengan Giselle. Kami bisa mandiri dan membina rumah tangga kami berdua," balas Gibran.
"Oh, jadi benar tebakan Ibu. Kamu lebih memilih dia daripada Ibu?"
__ADS_1
Seketika Bu Rosa menggelengkan kepalanya. Kesal ketika Gibran berkata demikian. Dia merasa bahwa anaknya itu lebih memilih untuk istrinya, daripada dirinya sendiri yang adalah seorang ibu yang sudah melahirkan Gibran.
"Percuma Ibu mengandung kamu selama sembilan bulan, melahirkan kamu bertaruh nyawa, hingga membesarkan kamu. Namun, sekarang ... kamu lebih memilih istrimu daripada Ibu yang sudah melahirkanmu. Bagus! Bagus, Gibran. Seolah-olah air susu kamu balas dengan air tubah!"
Bu Rosa kembali berbicara dengan berderai air matanya. Hatinya terluka ketika putra satu-satunya memilih untuk meninggalkan rumah dan juga hendak membina rumah tangga berdua. Dia merasa Gibran sudah membalas air susu dengan air tubah. Dikecewakan oleh putra tunggalnya.
Sementara Gibran merasa bahwa memang dia harus melakukan itu. Toh, rumah yang diambil tidak terlalu jauh. Hanya berjarak tiga blok saja. Dengan demikian, dia bisa mencintai istrinya sembari merawat Ibunya. Semua sudah Gibran pikirkan dengan matang dan penuh pertimbangan.
"Ibu, Gibran mengambil rumah tidak jauh dari sini. Gibran bisa mengunjungi Ibu setiap hari," balasnya.
"Kalau sudah keluar dari rumah ini, untuk apa kembali ke sini dan mengunjungi Ibumu ini? Biarkan saja, Ibu ini sebatang kara di rumah. Tidak usah kembali ke sini lagi!"
Gibran memejamkan matanya. Ketika Giselle sudah mau untuk mengerti dirinya, giliran Ibunya yang menekannya. Bukannya tidak menyayangi Ibunya. Namun, ketika anak sudah memutuskan untuk menikah dan berumah tangga, dia juga memiliki hak dan kewajiban yang harus dia penuhi kepada istrinya?
Menyeimbangkan antara keluarga dan istri sendiri ternyata sangat sukar. Bersyukurlah jika memiliki pasangan dan mertua yang bisa berjalan selaras dan seimbang. Sebab, pada kenyataannya tidak banyak orang yang memiliki pasangan dan mertua yang baik. Ada himpitan dari salah satu pihak. Tak jarang juga hubungan dengan mertua dan ipar juga tidak berjalan dengan baik karena entah itu nyinyiran, salah paham, atau pemikiran konservatif (kuno) yang berbenturan dengan pemikiran kita. Hal ini, sepenuhnya Gibran rasakan. Dia merasa sekarang Giselle sudah memberikan pengertian, mau mengalah, dan mengerti kondisinya. Sementara, Ibu menuntut anaknya untuk bisa merawat ibunya. Jika sampai keluar dari rumah, justru diminta untuk tidak kembali.
"Beri kesempatan juga kepada Gibran untuk menyelamatkan rumah tangga Gibran, Bu," pintanya.
"Kalau Ibu tidak setuju dan menolak, apa kamu akan menjadi anak durhaka dan melawan perintah Ibu?" tanya Bu Rosa sekarang.
Mendengar semua ucapan ibunya, Gibran sampai tak bisa lagi berkata-kata. Dia nyaris saja menangis di hadapan Ibunya.
"Mohon, Ibu ... Gibran berjuang untuk rumah tangga. Wanita yang dicintai Gibran dengan utuh dan penuh hanyalah Giselle," balasnya.
"Sudah, sana! Anak gak tahu diri. Dilahirkan, dibesarkan, sekolah tinggi-tinggi cuma buta karena cinta. Ibu menyesal sama kamu!"
Gibran akhirnya memilih untuk undur diri dari hadapan Ibunya. Dia perlu menenangkan diri lagi. Sangat berat. Namun, Gibran tak akan mundur lagi. Sebagai suami, dia pun berdosa jika abai kepada istrinya.
__ADS_1