
Walau sudah meminta maaf, kepada ibunya. Agaknya, Bu Rosa sendiri masih enggan untuk memberikan maaf kepada Gibran dan Giselle. Yang ada sekarang, justru hatinya sekarang begitu mengeras. Semakin sebal dengan Gibran dan Giselle.
Oleh karena itu juga, sudah beberapa hari agaknya Bu Rosa enggan untuk mengajak Giselle dan Gibran berbicara. Ketika disapa di pagi hari atau di sore hari ketika keduanya pulang kerja bersamaan, yang ada justru Bu Rosa memilih diam. Seolah terjadi perang dingin antara dua kubu.
"Bu, besok Gibran libur. Ibu ingin diajak jalan-jalan ke mana? Gibran dan Giselle akan mengajak Ibu jalan-jalan," tanya Gibran sekarang kepada ibunya.
Akan tetapi, Bu Rosa sama sekali tidak memberikan jawaban. Hanya diam dan tidak memberikan jawaban sama sekali. Gibran menghela napas panjang.
"Ya Allah, besarkan hati Gibran. Panjangkan kesabaran untuk Gibran. Semoga Gibran bisa tetap berlaku sabar kepada Ibu. Semoga Allah melunakkan hatinya Ibu."
Gibran hanya bisa berharap dalam hati bahwa memohon kepada Allah untuk sabar kepada ibunya. Menjadi dan memilih sabar itu tidak mudah. Ada saja pemicu yang membuat seseorang seolah lepas kendali dan juga menjadi emosi. Oleh karena itu, Gibran diam dan memohon Allah yang panjang sabar memberikannya kesabaran juga.
Tak menyerah sampai di situ, Gibran juga kemudian mengajak ibunya berbicara lagi. "Bu, kalau besok Gibran mau ke Jakarta boleh?"
Sekarang, Bu Rosa pun tidak menjawab. Gibran sampai bingung. Apa sebenarnya yang membuat ibunya sampai diam begini. 28 tahun hidupnya dan mengenal sosok sang ibu, belum pernah sebelumnya ibunya diam sampai berhari-hari.
Tidak mendapatkan jawaban, Gibran kemudian memilih menaiki kamarnya. "Sayang," panggil Gibran kepada istrinya yang tengah berada di kamar.
"Hm, ya Mas ... kenapa?" tanya Giselle kemudian.
"Ibu masih marah dan tidak mau berbicara," ceritanya sekarang kepada istrinya.
Giselle tampak menatap suaminya itu. Kasihan juga dengan kondisi suaminya yang seperti ini. Hingga akhirnya, Giselle berbicara kepada suaminya.
"Puncak dari kemarahan biasanya diam, Mas. Padahal diam tidak menyelesaikan masalah, tapi menambah masalah. Semua gara-gara aku ya Mas? Jadi perang dingin kayak gini," balas Giselle.
__ADS_1
Sepenuhnya Giselle tahu semua terjadi karena dirinya yang memilih kembali ke pondok mertuanya. Sejak saat itu, Bu Rosa yang marah memilih untuk diam dan tidak berbicara sama sekali. Giselle pun juga tahu diri.
"Tidak kok. Bukan salahmu," balas Gibran.
Giselle lantas menatap suaminya lagi. "Mas, kalau memang aku hanya menjadi wanita yang membuat hubunganmu dan ibu menjadi rusak, lebih baik bebaskan aku dari hubungan ini," ucap Giselle.
Secinta apa pun Giselle dengan Gibran, tapi jika dia membuat seorang anak kehilangan cinta ibunya, membuat Giselle merasa bersalah. Bahkan Giselle rela jika pada akhirnya, Gibran membebaskannya dalam pernikahan ini.
"Tidak begitu juga, Sayang," balas Gibran.
"Aku tahu, walau sebesar apa pun cinta kita. Namun, pada hakikatnya kita tidak mendapatkan restu dari ibumu. Jadi, aku yang pergi. Aku ikhlas," balas Giselle.
Di saat yang sama, Gibran menggelengkan kepalanya. "Jangan, jangan pernah pergi dari sisiku," ucap Gibran.
"Daripada situasi di rumah seolah terbagi dua kubu. Blok Barat dan Blok Timur. Terjadi perang dingin. Jadi, biar aku yang mengalah," balas Giselle.
Usai mengatakan itu, Gibran memilih merebahkan dirinya di atas ranjang. Sekarang Gibran laksana menjadi dinding pembatas yang di mana dia sendiri terhimpit. Berada di antara ibu dan istrinya sendiri. Dua wanita yang sama berharganya untuk Gibran. Dua wanita yang jikalau bisa ingin Gibran pertahankan dan memberikan perhatian sesuai dengan porsinya.
***
Selang Beberapa Hari ....
Walau diam, sebenarnya Giselle adalah seorang yang sensitif. Dia tahu di mana hati dan pikiran suaminya sekarang ini. Yang pasti itu adalah pikiran dan hati yang sedang terbagi. Bukan dengan wanita lain, melainkan memikirkan dirinya dan ibunya.
Bu Rosa juga masih diam. Sejak Giselle kembali ke rumah, sarapan juga dimasak oleh Giselle. Apa yang dimasak di pagi hari akan disimpan dan dihangatkan untuk makan nanti malam. Jika tidak, terkadang sore hari Giselle memasak lagi untuk makan malam.
__ADS_1
Tiga orang berada di dalam satu rumah, tapi tidak ada yang berbicara. Sementara Giselle berbicara dengan Gibran juga hanya saat di kamar saja. Selebihnya juga banyak diam.
"Jadi, wanita masak enggak becus. Bikin Oseng Kangkung aja asinnya kayak gini," suara Bu Rosa akhirnya menggema di meja makan.
Saat itu mereka bertiga sedang makan malam. Giselle membuat Oseng Kangkung dan Ayam Goreng. Yang simpel saja, karena Giselle baru bisa memasak sore hari. Terdengar Bu Rosa menaruh piring begitu keras di meja makan, sampai Giselle terkaget karenanya.
"Maaf, Bu," balas Giselle.
Usai itu tidak ada jawaban lagi dari Bu Rosa. Gibran yang duduk di sana menghela napas, menatap ibu dan istrinya bergantian. Wajah ibunya sudah begitu masam, sementara Giselle hanya bisa menundukkan wajahnya.
Usain itu suasana di meja makan menjadi sangat tidak enak. Gibran lagi-lagi terhimpit. Membela istri, pasti ibunya yang tidak terima. Jika berbicara kepada ibunya, dan itu menyakiti Giselle.
"Sudah Ibu bilang, wanita gak cakap apa-apa. Bikin Oseng Kangkung yang mudah aja keasinan. Kangkungnya masih keras. Anak orang kaya bisa apa!"
Lagi Giselle mendengarkan suara pedas ibu mertuanya. Seolah-olah apa yang dilakukan Giselle tetap saja salah. Ibarat kata maju atau mundur pun kena. Selalu saja dia disalahkan, dan selalu saja latar belakangnya sebagai anak orang kaya juga dibawa-bawa.
"Maafkan Giselle, Bu," balas Giselle lagi.
Di sana Giselle berusaha keras untuk menahan air matanya sudah tidak jatuh. Walau hatinya sendiri sangat nyeri sekarang. Bahkan untuk kesalahan yang sebenarnya hanya dicari-cari, Giselle pun mau untuk meminta maaf.
Mungkin juga ini adalah akhir dari perang dingin karena ibunya sudah kembali mengomel. Akan tetapi, tetap saja semua emosi dan kemarahan itu dilampiaskan kepada Giselle.
"Bu, ini tidak begitu asin dan bisa dimakan kok," balas Gibran.
Sebagai suami jika Gibran hanya diam saja rasanya juga salah. Oleh karena itu, dia berbicara demikian. Memang Oseng Kangkung yang dibuat oleh Giselle tidak begitu asin, masih bisa untuk dimakan.
__ADS_1
"Bela terus aja istrimu! Karena kamu yang selalu membela jadinya dia tidak pernah belajar. Pernikahan sudah dua tahun, masih saja bikin masakan saja tidak becus!"
Pedihnya hati Giselle. Sangat tidak enak menjadi menantu yang selalu dicari-cari kesalahannya. Namun, perlakuan ini juga sudah Giselle terima selalu dua tahun.