
Selang satu hari berlalu, Giselle akan kembali memeriksakan kandungannya sore ini. Untuk itu, dia mengingatkan suaminya untuk bisa mengantarkannya menuju ke Klinik Dokter Nuri untuk bisa memeriksakan kandungannya. Tidak lupa, Giselle berangkat kerja juga sudah membuka Buku pemeriksaan kandungannya.
"Mas, nanti sore temenin ke Klinik Dokter Nuri yah. Sudah waktunya periksa kondisi Dedek Bayi lagi loh," kata Giselle kepada suaminya itu.
"Sore hari ini ya, Sayang? Aku hampir kelupaan," balas Gibran.
"Sampai lupa, mikirin apa sih Mas?" tanya Giselle dengan melirik suaminya itu.
Gibran pun tersenyum dan menggeleng perlahan. "Engak apa-apa. Mikirin kamu, yang makin hari makin cantik. Sumpah, Sayang. Kenapa kamu hamil ini makin cantik sih?"
"Berarti kalau gak hamil gak cantik?" tanya Giselle.
"Bukan begitu, cantik juga. Kamu itu selalu cantik. Cuma sekarang, menjadi lebih cantik," puji Gibran.
Itu adalah pujian yang tulus dari dalam hatinya. Bukan bualan semata. Menurut Gibran, memang saat hamil ini kecantikan Giselle kian bertambah. Sampai Gibran kian terpesona dan mengagumi kecantikan istrinya itu.
"Udah, berangkat yuk. Nanti dipuji terus, kepalaku makin besar loh," canda Giselle kepada suaminya.
Gibran pun akhirnya mengemudikan mobilnya dan mengantar Giselle menuju ke kantornya. Ketika kehamilan Giselle kian bertambah, Gibran juga berhati-hati mengemudikan mobilnya. Semua itu, supaya tidak terjadi guncangan di perutnya.
"Aku bekerja dulu ya, Mas ...."
"Iya, Sayang. Nanti sore aku jemput dan kita periksakan kondisi Dedek Bayi yah," balas Gibran.
__ADS_1
Akhirnya, dalam sehari Giselle fokus dengan pekerjaannya terlebih dahulu. Menjelang waktunya pulang, Giselle mencuci mukanya terlebih dahulu, dan merapikan rambutnya. Setelah itu, mulailah Giselle berjalan keluar dari kantornya, dia menunggu saat suaminya datang menjemput. Rupanya, tidak berselang beberapa lama, Gibran sudah datang dan menjemput Giselle.
"Lama menunggu gak, Yang?" tanya Gibran.
"Enggak kok, Mas. Baru saja keluar," balas Giselle.
"Ya sudah, kita ke Klinik sekarang yah. Tadi, aku sudah daftarkan kamu juga, Sayang. Jadi, semoga nanti tidak menunggu terlalu lama," balas Gibran.
Sekarang, mereka segera menuju ke klinik Dokter Nuri. Berharap memang tidak menunggu terlalu lama, supaya bisa segera pulang ke rumah. Selain itu, Giselle juga sekarang lebih cepat mengantuk, sehingga inginnya segera tiba di rumah dan juga bisa segera istirahat.
Akhirnya, sekarang Gibran melajukan mobilnya menuju ke klinik. Hanya kurang lebih lima belas menit perjalanan dan sekarang, mereka sudah tiba di klinik. Giselle mendaftar lagi dengan menyerahkan buku pemeriksaannya. Melakukan pendataan dan sekarang, Giselle diminta untuk menunggu, nanti Giselle akan dipanggil lagi.
"Sudah banyak ya datang ya, Mas ...."
"Iya, semoga saja kita menunggunya tidak terlalu lama yah. Aku takutnya kamu kecapekan," balas Gibran.
Namun, ketika sudah mendaftar siang hari, ada nomor antrian yang terlebih dahulu. Sehingga sudah hampir 45 menit dan nama Giselle belum dipanggil. Padahal, Bumil itu sudah menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Sesekali Giselle juga menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri karena pegal. Tepat, setelah menunggu satu jam, barulah nama Giselle dipanggil.
"Silakan Bu Giselle," panggil seorang perawat.
Maka, Giselle diperiksa tekanan darah dan berat badannya terlebih dahulu. Setelahnya, barulah dia dipersilakan masuk menemui Dokter Nuri. Wanita itu masih berusaha semangat, walau sudah mulai mengantuk dan kelelahan sekarang.
"Selamat malam, Bu Giselle," sapa Dokter Nuri dengan begitu ramah.
__ADS_1
"Malam, Dokter," balas Giselle.
"Bagaimana, Bu ... sehat?" tanya Dokter Nuri.
"Alhamdulillah, Dokter. Setelah kemarin mual dan muntah sampai dilarikan ke Rumah Sakit. Sekarang, sudah berkurang banyak sih, Dokter. Cuma untuk aroma bakso masih belum bisa nahan. Masih mual," cerita Giselle.
Dokter Nuri pun terkekeh mendengar cerita Giselle. "Mungkin baby nya yang tidak suka itu, Bu," balasnya.
Setelah mengobrol sesaat, kemudian Giselle dipersilakan untuk berbaring di brankar dan kemudian perawat menyingkap kemeja Giselle, dan memberikan USG gell di perutnya. Gell yang terasa dingin itu.
"Kehamilan Bu Giselle sekarang sudah di usia 18-19 minggu yah ... dengan berat janinnya itu seperti buah lemon. Panjangnya dari kepala hingga kakinya kurang lebih 15 centimeter. Berat badannya sekitar 240 gram. Di usia 19 minggu kehamilan ini juga terjadi perkembangan yang signifikan pada panca indera janin. Beberapa saraf, seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan sentuhan telah berkembang di otak janin. "
Dokter Nuri menjelaskan semuanya dengan begitu detail dan Giselle serta Gibran mendengarkan dengan penuh perhatian. Kemudian, Dokter Nuri kembali berbicara kepada mereka.
"Bapak dan Ibu ingin melihat jenis kelaminnya tidak?"
"Ya, mau Dokter," balas Gibran.
Akhirnya Dokter Nuri menggerakkan transducer di tangannya dan mulai menunjukkan jenis kelamin bayi yang bisa ditangkap oleh ultra sonografi. Kemudian menjelaskannya kepada Giselle dan Gibran.
"Jenis kelamin babynya, cewek ya, Bu Giselle dan Bapak. Ini terlihat di sini, tidak ada monasnsya. Kalau ada monasnya, itu cowok," jelasnya.
Sekarang Giselle dan Gibran tersenyum. Mereka tidak menarget sama sekali untuk jenis kelamin bayinya. Namun, ketika Tuhan menganugerahkan seorang bayi perempuan, Giselle dan Gibran pun merasa senang. Tetap bersyukur untuk anugerahnya yang memberikan bayi perempuan untuknya.
__ADS_1