Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Sudah Membaik


__ADS_3

Satu hari mendapatkan perawatan di Rumah Sakit, kondisi Giselle menjadi lebih baik. Selain itu, wajah wanita hamil itu tidak begitu pucat. Juga, sedikit-sedikit Giselle bisa makan. Walau memang, Gibran juga begitu telaten untuk menjaga dan merawat Giselle.


"Semoga semakin membaik ya, Sayang. Aku perlu melakukan apa supaya kamu tidak begitu mual dan muntah?" tanya Gibran.


Namun, Giselle sekarang menggelengkan kepalanya. Itu semua juga karena Giselle tidak tahu. Dorongan untuk mual dan muntah itu hadir begitu saja. Gibran sampai kasihan dengan Giselle, terlebih ketika kemarin Dokter mengatakan bahwa Giselle kehilangan beberapa kilogram berat badannya.


"Iya Mas ... doakan juga aku sehat, baby juga sehat. Dari 40 minggu, baru terlampaui 13 minggu. Semoga saja, aku bisa sehat dan bertahan sampai persalinan nanti ya, Mas," balas Giselle.


"Iya, harus semangat, Sayang. Kamu memberitahu Papa dan Mama tidak mengenai sakitnya kamu ini enggak, Sayang?" tanya Gibran.


Namun, Giselle menggelengkan kepalanya. Menurutnya tidak penting bagi Mama dan Papanya tahu mengenai dirinya yang masuk Rumah Sakit. Kemudian, Giselle memberikan jawaban kepada suaminya.


"Tidak usah, Mas. Kan cuma mual dan muntah saja. Bukan kondisi yang serius kok," balas Giselle.


"Ya, sudah ... yang penting kamu istirahat saja dulu," balas Gibran.


"Kapan aku boleh pulang, Mas?" tanya Giselle kemudian kepada suaminya.


Kapan Giselle boleh pulang, Gibran sendiri juga tidak tahu. Hanya saja, Gibran juga khawatir jika Giselle kembali mual dan muntah ketika berada di rumah. Selain itu, Dokter juga belum mengizinkan untuk pulang. Jadi, memang harus berada di Rumah Sakit dulu.


"Belum ada informasi dari Dokter, Sayang. Istirahat di Rumah Sakit dulu tidak apa-apa. Memulihkan kesehatan kamu dulu," balas Gibran.


Giselle menghela napas panjang. Jujur saja, dia tidak suka berada di Rumah Sakit. Lebih nyaman berada di rumahnya. Apalagi rumahnya sekarang, yang tidak ada mertua yang julid itu lebih baik.


"Kangen pulang padahal. Besok juga hari Senin, Mas ... waktunya bekerja. Masak aku harus libur?" tanya Giselle sekarang kepada suaminya.


"Libur dulu tidak apa-apa. Kan juga baru kurang sehat," jawab Gibran.


"Kamu sendiri bagaimana Mas?" tanya Giselle.

__ADS_1


"Aku juga akan libur dulu. Memprioritaskan untuk menjaga istriku. Bagaimana pun, kamu dan baby kita adalah prioritasku, Sayang."


Gibran berbicara dengan jujur. Dia memilih untuk memprioritaskan Giselle. Terus berdoa semoga Giselle segera membaik dan tidak lama kemudian mereka diperbolehkan untuk pulang.


***


Keesokan harinya ...


Setelah dua hari di Rumah Sakit, barulah Giselle diperbolehkan untuk pulang. Namun, sebelumnya ada saran dari Dokter Nuri terlebih dahulu.


"Jadi, sudah boleh pulang ya, Bu Giselle. Usahakan untuk lebih berhati-hati. Makan itu tidak harus makan berat. Karbohidrat bisa diganti dengan gandum atau roti. Makan dalam porsi kecil, tapi lebih sering. Kalau mual, beri afirmasi positif ke diri sendiri dan bayinya. Mengenakan masker juga tidak apa-apa, Bu. Semoga saja nanti lama-lama akan lebih membaik yah," ucap Dokter Nuri.


"Iya Dokter, semoga setelah ini saya bisa lebih sehat," balas Giselle.


"Harus lebih semangat ya, Bu Giselle. Pemeriksaan kandungan selanjutnya bulan depan yah," balas Dokter Nuri.


"Aku kurus banget. Memang aku ingin kurus, tapi bukan kurus seperti ini juga. Kalau sampai mual dan muntah terus-menerus, bisa-bisa janin dalam kandunganku yang berbahaya," gumam Giselle.


Giselle menenangkan dirinya sendiri. Dia harus mulai berpikir positif, memberikan afirmasi positif untuk dirinya sendiri dan juga untuk bayinya. Semoga saja ketika menanamkan pikiran yang positif akan mendapatkan hasil yang lebih baik.


"Kamu harus sehat, Giselle. Harus kuat untuk bayimu. Harus bahagia juga. Semoga saja, usai ini setiap hari akan lebih baik ke depannya."


Sesaat kemudian, Gibran datang dengan membawa kantong plastik yang berisikan obat-obatan milik Giselle yang masih harus diminum untuk beberapa hari ke depan. Pria itu tersenyum menatap Giselle yang duduk di tepian brankarnya.


"Nunggu lama, Sayang?" tanyanya.


"Enggak kok, Mas. Kan tadi barusan visitasi Dokter Nuri. Aman kok," balasnya.


Gibran menganggukkan kepalanya. "Baiklah, kita pulang?"

__ADS_1


"Iya, kita pulang. Sudah kangen dengan kamar kita," balas Giselle.


Gibran kemudian memasukkan obat ke dalam tas jinjingnya dan membawa tas jinjingnya yang berisi pakaian kotor itu. Tangannya yang lain menggandeng tangan Giselle sekarang. Dia berjalan perlahan karena menjaga Giselle.


"Mau mampir ke suatu tempat enggak?" tanya Gibran kemudian.


"Enggak, pulang saja. Istirahat di rumah, tapi aku besok sudah harus masuk bekerja ya, Mas," balas Giselle.


Gibran pun menganggukkan kepalanya. "Iya, kalau sehat dan tidak lemes ya boleh kembali bekerja. Kalau masih lemes, ya di rumah dulu," balasnya.


"Semoga sudah jauh lebih baik, Mas. Aku harus lebih kuat, sehat, dan bahagia," balas Giselle.


Gibran menganggukkan kepalanya. Dia setuju dengan apa yang baru saja diucapkan Giselle barusan. Memang Giselle juga harus lebih bahagia. Semoga saja, dengan menanamkan kebahagiaan diri sendiri, kondisi Giselle bisa lebih membaik.


"Harus, Sayang. Makanya jangan semuanya dipikirkan. Termasuk Ibuku, tidak usah dipikirkan. Fokus dulu ke kamu sendiri dan baby kita. Bukannya abai, hanya saja perlu memilah-milah saja. Namun, jangan berhenti berdoa. Usaha kita juga harus dibarengi dengan doa. Siapa tahu Allah akan tunjukkan hidayah kepada Ibu," balas Gibran.


Kali ini Gibran kembali memberitahukan kepada Giselle, jika memang harus tidak memikirkan ibu mertuanya tidak apa-apa. Namun, tetap mendoakan. Usaha yang dibarengi doa, nikmatnya sungguh luar biasa.


Memang membutuhkan proses, tapi ketika semua doa dijabah oleh Allah, kita seperti hambanya yang bersorak dan bersyukur untuk Maha Besarnya Allah. Oleh karena itulah, Gibran menekankan pentingnya berdoa.


"Iya, Mas. Terima kasih sudah membimbingku. Nanti malam kita sholat bersama ya Mas? Jika semua pintu tertutup, maka Allah bisa membukakan pintu yang lain," balas Giselle.


"Iya, Sayang. Kita Tahajud bersama. Doa di sepertiga malam," balas Gibran.


"Insyaallah, usaha jalur langit mendatangkan berkah ya, Mas," balas Giselle.


"Amin. Insyaallah, Sayangku."


Jika dua pasangan memiliki niat hati yang sama, maka semoga Allah segerakan niat hati mereka. Memberikan jawaban di setiap doa yang dipanjatkan. Memberikan hidayah di setiap sujud yang tercipta. Jika, semua pintu sudah tertutup, Allah bisa membuka atau bahkan membuatkan pintu yang lain. Semua itu karena tidak ada yang mustahil bagi Allah.

__ADS_1


__ADS_2