Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Memupuk Kerinduan


__ADS_3

Menjelang sore Giselle dan Gibran baru tiba di rumah. Kala itu bertepatan dengan gerimis yang turun. Gibran tersenyum sembari membuntuti Giselle untuk masuk ke dalam kamarnya. Tanpa kata, pria itu segera memeluk istrinya dari belakang. Tangannya melingkari tubuh sang istri, dengan berkali-kali, Gibran mendaratkan kecupan di tulang selangka dan tulang belikat istrinya. Masih tersisa aroma parfum yang begitu harum di sana.


"Hmm, kangen banget sama kamu, Sayang," kata Gibran sekarang.


Mendengar pengakuan suaminya, Giselle pun menganggukkan kepalanya. Dia kemudian tersenyum dan mengangguk perlahan. Sekarang, telapak tangan wanita itu mengusapi sisi wajah suaminya yang ada di satu bahunya.


"Sama, Mas. Aku juga. Namun, kita harus fokus dulu untuk Ibu. Anaknya kan cuma kita, jadi ketika Ibu sakit ya harus kita berdua yang memberikan perhatian terlebih dahulu untuk Ibu," balas Giselle.


Mendengar apa yang Giselle sampaikan, Gibran menganggukkan kepalanya. Dia memang tahu dengan jalan pikiran istrinya itu.


"Aku tahu, Sayang. Sekarang sudah kembali ke rumah lagi. Aku rindu. Kamu ingat enggak dengan apa yang aku minta tiga hari yang lalu. Saat itu, sedang hujan malam hari di Kota Bandung kan?" tanya Gibran.


"Aku lupa, Mas. Sudah tiga hari. Maaf, Bumil banyak lupanya," balas Giselle.


Itu sebenarnya Giselle masih ingat. Akan tetapi, dia memilih beralibi seperti itu saja. Hanya ingin melihat reaksi dari suaminya saja.


"Ya sudah, mandi dulu aja, Sayang. Nanti beli makan malam aja, yah. Kamu juga pasti capek," balas Gibran.


Akhirnya keduanya memilih untuk bergantian untuk mandi. Membersihkan dirinya terlebih dahulu. Setelah selesai, Gibran yang mandi belakangan memang terkejut melihat istrinya yang kini hanya mengenakan pakaian tidur dari kain silk satin yang lembut dengan talinya yang kecil di bahu. Dengan penampilan Giselle sekarang, rasanya tak bisa tidak bagi Gibran untuk mendekati istrinya itu.


Tanpa banyak bicara, Gibran kembali memeluk sang istri dari belakang. Bisa Gibran cium aroma sang istri yang sangat harum, permukaan epidermis kulitnya yang sangat lembut. Oh, melihat Giselle dengan mengenakan pakaian itu saja sudah membuat Gibran mendamba. Sebab, biasanya Giselle hanya mengenakan piyama rumahan saja kala di rumah.


"Cantik banget, Sayang."


Pujian pun keluar begitu saja dari bibir Gibran. Terlebih dengan tiga hari yang sangat hectic, benar-benar lelah rasanya. Namun, di satu sisi sebagai pria hasratnya juga seketika naik melihat istrinya seperti ini.


"Aku cuma mencobanya aja, Mas. Aku beli online kemarin, kelihatannya gak cocok deh, mau ganti," balas Giselle.


Lagi-lagi wanita itu berkilah. Sejujurnya memang Giselle sengaja memakai pakaian tidur yang berbeda. Sedikit terbuka, bagaimana pun Giselle ingat dengan permintaan suaminya tiga hari yang lalu. Bukankah seorang istri yang membahagiakan suami akan diganjar dengan pahala? Itu yang Giselle pikirkan sekarang.


Lantas Gibran dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Gak usah ganti. Pakai ini saja kok. Cantik banget. Sexy. Kamu hamil justru tambah cantik loh, Sayang," puji Gibran.


"Bukannya aku malahan kurus banget ya, Mas. Habis mual kemarin, belum naik lagi berat badannya," balas Giselle.

__ADS_1


"Ya, pelan-pelan. Memakai ini saja yah. Aku lapar, Sayang ... pengen kamu," balas Gibran.


"Kunci pintu depan dan matikan lampu depan dulu, Mas. Ini baru jam tujuh loh," balas Giselle.


"Gak apa-apa. Jam tujuh pagi, juga tidak masalah. Ini kan rumah kita sendiri."


Gibran keluar dari kamar dengan menutup pintu depan dan sekaligus menguncinya. Selain itu, juga mematikan lampu depan. Seolah-olah pemilik rumah sedang pergi atau sudah tidur. Sementara Giselle di dalam kamar juga mematikan lampu utamanya, menggantinya dengan lampu tidur yang lebih temaram.


"Kamu sengaja memakai ini yah?" tanya Gibran kemudian.


"Sengaja menggoda suamiku, supaya mendapat pahala," balas Giselle sekarang dengan jujur.


Gibran tersenyum. Tentu dia justru sudah tergoda. Kali pertama melihat Giselle saja, dia sudah tergoda. Terlebih sekarang. Giselle mendekat dan memeluk suaminya.


"Aku masih ingat kok dengan permintaan kamu tiga hari yang lalu. Bahkan sekarang, seolah-olah hujan turun. Pertanda apakah ini?" tanya Giselle dengan menyadarkan kepalanya di dada suaminya.


"Di rumah sakit hampir tiap malam turun hujan. Aku gelisah, Sayang. Aku ingin memeluk kamu. Sayangnya, harus pupus karena kepentingan yang lain. Sorry," balas Gibran.


"Tidak perlu meminta maaf, yang kita lakukan sudah benar kan Mas?" tanya Giselle.


Usai mengatakan semua itu, Gibran mengecup kening Giselle untuk beberapa saat lamanya. Dia sangat rindu dengan istrinya itu. Terlebih dalam tiga hari ada kepentingan yang lebih mendesak.


"Boleh aku meminta hakku kali ini?" tanya Gibran.


"Silakan, Mas. Hati-hati yah ... buah hati kamu, semakin bertumbuh di sini," balas Giselle dengan menyentuh perutnya dengan sedikit sembulan di sana. Seakan mengingatkan Gibran untuk tetap berhati-hati.


Gibran menganggukkan kepalanya, dia kemudian membawa Giselle untuk duduk di tepian ranjang. Lantas, Gibran memangkas jarak sekian inci dari wajahnya dengan wajah istrinya. Dengan hati-hati pria itu mengecup bibir Giselle yang ranum. Sensasi hangat, seketika bisa Gibran rasakan. Disertai dengan dorongan untuk membuat pagutan di bibir istrinya. Maka, tidak ada yang Gibran tunggu. Pria itu menggerakkan bibirnya seirama. Dia kecup dengan lembut bibir Giselle. Merasakan hangatnya, merasakan manisnya. Pria itu perlahan memejamkan matanya, dengan satu tangannya yang menyentuh sisi wajah Giselle.


Setitik usapan dari lidah Giselle di lipatan bawah bibirnya membuat Giselle melenguh. Wanita itu pun bak bola lampu pijar yang memejamkan matanya. Merasakan dan menikmati sapaan hangat dan basah dari sang suami di bibirnya. Begitu rindu rasanya. Dua bibir bertemu, saling berpagut. Dua lidah saling mengusap dalam sapaan yang intens. Dua insan hanyut dalam kerinduan yang menyita waktu, tenaga, bahkan pikiran mereka.


"Hh, Sayang," pekik Gibran dengan membawa tangannya mengusap lembut leher Giselle yang jenjang.


Agaknya, Gibran sudah tak tahan lagi. Mungkin lantaran sudah menahan sekian hari, sekarang Gibran merasakan percikan api yang laksana tertiup angin. Menghasilkan api yang semakin besar, semakin membara, bahkan menyulut dirinya dalam rasa panas yang tak terkira.

__ADS_1


Terlebih ketika Gibran merasakan sentuhan tangan Giselle di bahunya, perlahan turun ke dadanya yang bidang, membuat Gibran tak lagi bisa menahan. Gibran mengurai sejenak ciumannya, lantas dia menarik ke atas kaos yang sekarang dia kenakan. Tampil shirtless di hadapan yang istri.


Gibran membuang kaosnya dengan asal, lantas dia kembali mengecup bibir Giselle. Pria itu bak kumbang yang akan benar-benar menghisap madu, diiringi dengan gerakan tangan yang mengusap perlahan leher Giselle hingga tengkuknya. Menghantarkan remangan di diri Giselle. Tidak mau menunggu lama Gibran lantas membawa tangannya mengusap perlahan, memberikan remasan di dada istrinya yang lebih berisi sekarang. Bulatan indah itu kini sudah diremasnya beberapa kali, dengan dua bibir yang masih bertaut.


Lantas Gibran menyudahi ciumannya, kedua pasang mata sudah berkabut sekarang. Oleh karena itu, dia memposisikan Giselle dalam posisi yang benar. Tanpa melepas satin slik yang menempel di tubuh Giselle, Gibran memilih menginvansi lembah yang ada di bawah. Bibir dan lidahnya tak ragu untuk memberikan sapuan dan usapan, tak ragu melihat Giselle yang beberapa kali mende-sah dan menggigit bibirnya sendiri.


"Mas Gibran ... Mas!"


Ya Tuhan, Gibran diam-diam menikmati semua. Istrinya yang merasakan percikan candu dengan mata terpejam rapat. Sungguh, Giselle kian cantik saja di matanya. Lebih dari itu, Gibran mengombinasikan dengan remasan di bulatan indah sang istri. Luar biasa, Giselle merasakan dahsyatnya sensasi itu. Napasnya terengah-engah. Sekarang hanya bisa menyerah dan pasrah kepada suaminya.


Gibran sangat puas melihat istrinya yang memekik dan merasakan kepuasan. Hingga pria itu melucuti busananya tampil dalam kepolosan mutlak di hadapan Giselle. Dia menerima ketika Giselle bergantian memujanya. Memberikan usapan dalam kesan hangat di pusakanya. Kali ini Gibran tak menutup mata, dia ingin mengingat momen ini dalam pikirannya. Mengingat bagaimana keduanya memupuk cinta dan kerinduan.


Beralih posisi. Gibran duduk bersandar di head board, lantas dia memberikan instruksi kepada istrinya.


"Duduk di pangkuanku, Sayang."


Giselle taat dengan apa yang diminta suaminya. Namun, Giselle juga tahu bahwa itu bukan sekadar duduk di pangkuan. Melainkan ada tusukan pusaka sang suaminya yang kini memenuhi dirinya. Giselle mende-sah dengan kedua tangan mencengkeram bahu suaminya. Sungguh luar biasa.


"Mas ... Hh!"


"Ya, Sayang ...."


Dengan perlahan Giselle pun bergerak di pangkuan suaminya. Suara-suara erotis memenuhi kamar keduanya. Diiringi dentingan hujan yang membuat suasana kian syahdu.


Giselle lepas kendali kala suaminya menurunkan tali-tali kecil di bahunya, memperlihatkan bulatan indahnya, dan Gibran membuang wadah penangkup di sana. Tak segan, Gibran memberikan hisapan dan Gigitan di bulatan indah sang istri. Oh, sangat indah. Gerakan peristaltik hisapan layaknya bayi yang menghisap ASI itu membuat Giselle melayang.


Berkali-kali gerakan Giselle semakin kacau, dengan suaminya yang terus membuainya. Membuat Giselle benar-benar basah. Entah berapa kali, Giselle merasakan pelepasan yang indah di pangkuan suaminya.


Pada batas akhir, Gibran kembali mengubah posisi. Membaringkan Giselle dan sekarang benar-benar membuat Giselle polos mutlak. Pria itu menempatkan dirinya dan langsung menghujamkan pusakanya. Hujaman demi hujaman. Semangatnya melecut untuk melakukan gerakan keluar dan masuk berkali-kali.


Gibran menggeram merasakan cengkeraman cawan surgawi sang istri di pusakanya. Hingga sampai batas, Gibran tidak bisa lagi bertahan. Sekian detik berikutnya pria itu benar-benar terperas habis, meledak, dan memenuhi cawan surgawi sang istri dengan bagian dari dirinya.


"I Love U, Sayang. Wow, luar biasa," kata Gibran dengan tubuhnya yang bergetar dan peluh yang membasahi dirinya.

__ADS_1


Sementara Giselle masih memejam mata, memeluk erat suaminya itu. "Love U too, Mas!"


Suara lembut nan lirih Giselle memberi jawaban. Itu adalah sejenak relaksasi setelah tiga hari fokus dengan ibunya. Memberikan waktu bagi tubuh melepaskan hormon oksitosin yang bisa menurunkan stress pada diri. Merasakan gemericiknya cinta yang perlahan memenuhi bahkan menenggelamkan keduanya.


__ADS_2