
Selang beberapa hari berlalu, entah apa yang terjadi. Yang pasti hari ini adalah sesuatu yang membuat Giselle tak bisa lagi berkata-kata. Kejadian dimulai saat Giselle izin kepada suaminya untuk ke mini market terlebih dahulu. Dia hanya sekadar ingin membeli jus buah dan roti gandum.
Tentu Gibran memberikan izin, tetapi Gibran menunggu saja di rumah. Sehingga, Giselle pergi seorang diri. Di mini market rupanya Giselle tidak langsung membeli apa yang dia mau. Sebagai wanita wajar saja jika dia melihat-lihat dulu apa yang menarik dan sekiranya diskon di mini market. Hingga akhirnya, ketika hendak membayar pun di bagian Kasir juga antri sehingga Giselle juga harus mengantri lama dan panjang.
Hingga akhirnya, hampir setengah jam barulah Giselle selesai berbelanja di mini market. Wanita itu memang berjalan kaki ke mini market karena memang jaraknya tidak begitu jauh. Sembari sedikit olahraga.
Begitu kagetnya, Giselle karena di depan rumahnya ada mobil kuning milik Annisa. Setelah ada waktu dua pekan, wanita itu tidak ke rumah mertuanya. Ternyata sekarang wanita itu kembali menyambangi rumah mertuanya.
Tidak seperti biasanya, sekarang hati Giselle mendadak sangat tidak enak. Sehingga, Giselle tidak berpikir panjang untuk segera masuk ke dalam rumah. Begitu memasuki pintu rumah, tapi tidak ada ibu mertuanya dan Annisa. Biasanya, keduanya selalu mengobrol di ruang tamu.
Makin menjadi-jadilah kepanikan hati Giselle. Dia masih berusaha berpikiran positif dengan berpikir bahwa mungkin saja Annisa sedang keluar dengan ibu mertuanya. Namun, ketika menapaki satu demi satu anak tangga. Samar-samar dia mendengar suara dari kamarnya.
"Ah, Aa .... "
"Hentikan, Nisa. Jangan lakukan!"
"Please, A ... Aa Gibran."
Sebagai seorang wanita dan sebagai seorang istri, Giselle sudah menerka ada sesuatu yang tidak beres di dalam kamarnya. Tanpa mengetuk pintu, Giselle membuka pintu kamarnya. Ketika pintu dibuka rupanya ada Gibran dan Annisa di sana. Dengan tangan Gibran yang berada di pinggang Annisa. Sementara kedua tangan Annisa melingkari leher Gibran.
"Sayang," ucap Gibran dengan melepaskan tangannya di pinggang Nisa.
Giselle diam. Apa yang dia lihat sekarang. Dia ingin seudzon terlebih dahulu. Namun, apa yang terjadi di depan mata dengan begitu mudahnya membuat Giselle berspekulasi yang tidak-tidak.
Di saat yang bersamaan hadir Bu Rosa, dia juga kaget melihat Gibran dan Annisa berduaan di dalam kamar. "Bran, kamu ngapain sama Annisa?"
__ADS_1
Gibran hendak memberikan jawaban, tapi Annisa yang terlebih dahulu berbicara. "Aa Gibran memaksa Nisa, Bu. Katanya ingin menaburkan benih ke rahim Nisa. Bahkan dia memaksa Nisa," ucapnya.
Sekarang dengan mudahnya Annisa menangis. Gibran menggeleng kepala. "Itu tidak benar. Kamu bohong, Nisa," balas Gibran.
Usai itu Gibran mendekat kepada Giselle berusaha meraih kedua tangan Giselle dan menyentuhnya, tapi Giselle menolak.
"Sayang, dengarkan aku dulu. Semua ini tidak benar," balas Gibran.
"Lalu, untuk apa Mas berada di dalam kamar dengan wanita ini?" tanya Giselle.
"Ini hanya salah paham, Sayang," balas Gibran dengan cepat.
Bu Rosa menghela napas panjang dan menatap Gibran. "Ketika Ibu memintamu menikah lagi dan mengambil Nisa sebagai istri kamu tidak tahu. Ketika istrimu pergi, justru kamu membawa masuk Nisa ke dalam kamar. Almarhum Bapak dan Ibumu tidak pernah mengajari kamu hal seperti itu, Gibran."
Keadaan Gibran pun terpojok sekarang. Giselle sudah kehilangan kepercayaan dengannya, begitu juga dengan ibunya. Gibran mengusapi wajahnya dengan kasar. Emosi sebenarnya.
Bu Rosa berbicara dan itu tentulah tamparan keras untuk Giselle. Yang pasti dia juga tidak tahu manakah yang benar karena tadi Giselle juga sedang berada di luar. Annisa juga masih menangis di sana.
"Tidak, Gibran tidak akan menikahinya karena semua ini hanya tipu-tipunya Nisa saja," balas Gibran.
"Tipu-tipu apa, A? Aa yang sudah memaksaku," balas Annisa.
"Sayang, jangan dengarkan dia. Dengarkan aku, semua ini tidak benar. Aku berani bersumpah," balas Gibran.
Giselle menggeleng lemah. "Lepaskan aku dari pernikahan ini, Mas," balas Giselle.
__ADS_1
Bu Rosa akhirnya memilih mengajak Annisa untuk turun, sementara Giselle memilih mengambil kopernya. Sekarang, setelah suaminya berlaku seperti ini agaknya Giselle tidak bisa mempercayai suaminya lagi. Entah itu tipu-tipu atau apa pun, yang pasti Giselle sudah kecewa dengan apa yang dia lihat.
"Kamu mau kemana Sayang?" tanya Gibran sekarang.
"Pergi. Jangan mengejarku, Mas. Kali ini, aku tidak akan kembali," balas Giselle.
Tanpa pamit, Giselle memilih untuk meneguhkan hatinya sendiri dan kemudian pergi dari rumah itu. Bahkan tatapan dari ibu mertuanya dan Annisa di ruang tamu tidak Giselle pedulikan. Yang ada di hati dan pikiran Giselle sekarang, dia hanya ingin pergi. Tak ingin berada di rumah dengan mertua yang tak menerimanya, dan dengan suaminya yang bermain bara api.
Cinta butuh pembuktian. Lagipula, Giselle melihat sendiri bagaimana tangan Gibran berada di pinggang Annisa. Itu sudah menjadi bukti bahwa suaminya sudah bermain api sendiri.
Yang ada di pikiran Giselle sekarang adalah dia harus tinggal. Menyelesaikan pekerjaan dan usai itu, Giselle akan pulang saja ke Jakarta. Ke rumah Mama dan Papanya. Bagi Giselle sudah tidak ada masa depan dengan pernikahannya. Dua tahun yang penuh luka.
Sementara itu di rumah, Gibran sekarang benar-benar emosi. Kepergian Giselle membuatnya lemah. Pria itu memilih mengunci pintu kamarnya dari dalam. Tak menghiraukan ketukan pintu dari luar dan suara ibunya yang meminta supaya pintu dibuka.
"Gibran, buka pintunya. Jangan mengurung diri seperti ini. Semua bisa diselesaikan. Jika memang Giselle memilih pergi biarkan saja. Seharusnya tempatnya memang bukan di sini. Dia sama sekali tak layak untukmu."
Bukan menenangkan, Bu Rosa justru menambah angin untuk memperbesar api. Seharusnya dia menenangkan Gibran, bukan malahan menjelek-jelekkan Giselle. Yang dilakukannya sama sekali tidak benar.
"Buka pintunya dulu, kamu juga harus bertanggung jawab kepada Annisa. Apa yang kamu lakukan kepada Annisa, harus kamu pertanggungjawabkan," ucap Bu Rosa.
Berkali-kali mengetuk pintu dan berharap Gibran akan membukakan pintu, ternyata sia-sia. Sebab, Gibran juga tidak bergeming. Pria itu duduk beralaskan lantai. Matanya memerah dan juga mengusapi wajah hingga rambutnya sendiri.
"Aa, buka pintunya dulu. Jangan seperti ini," suara Annisa yang berusaha membuat Gibran untuk membuka pintu.
Namun, tetap saja Gibran tidak bersuara. Pintu juga tidak dibuka. Tak ada yang bisa membuat Gibran bisa membuka pintu. Menurut hati Gibran yang bisa meluluhkan hati Gibran sekarang adalah Giselle, tapi istrinya pada akhirnya memilih pergi.
__ADS_1
"Aa Gibran ... mengurung diri di kamar tidak akan menyelesaikan masalah," ucap Annisa lagi.
Namun, Gibran menutup telinganya. Sejak saat itu, kehidupan Gibran tak lagi sama. Gibran merasa gagal menjadi suami yang baik dan menjaga hati istrinya. Tanpa sengaja, justru dia sendiri yang membuat istrinya untuk pergi jauh darinya. Kini hanya bisa menyesali dan berharap bahwa Giselle akan kembali lagi kepadanya.