
Sepeninggal Gibran berangkat ke kantor, Giselle yang berada di dalam kamar rawat inap. Sepanjang hari ini, Giselle yang akan merawat ibu mertuanya. Giselle sudah bertekad untuk terus bersabar. Dia akan mengingat nasihat dari suaminya untuk tidak memasukkan perkataan pedas ibu mertuanya ke dalam hati.
Lantaran hubungan juga tidak begitu baik, Giselle memilih untuk duduk di sofa. Wanita itu sembari membawa tablet, karena jika ada saham yang harus dianalisa, maka Giselle bisa mengerjakannya di sela-sela menunggu ibu mertuanya. Kendati demikian, Giselle juga tak abai. Dia akan selalu siap untuk sang mertua. Giselle juga sangat tahu bahwa ibu mertuanya sedang sakit, jika bukan anak yang merawatnya, maka siapa lagi?
Beberapa saat kemudian, perawat datang dan memberikan menu sarapan untuk Bu Rosa. Ada tiga jenis obat lagi yang harus diminum usai makan. Giselle mendekat dan sekarang duduk di kursi yang ada di dekat brankar.
"Makan sarapan dulu ya, Bu ... biar Giselle yang suapin," ucap Giselle.
Bu Rosa bersikap acuh tak acuh. Namun, Giselle tidak masalah. Tujuannya adalah merawat sang ibu mertua. Giselle pun mengatur brankar sedemikian rupa supaya Bu Rosa berada di posisi yang nyaman.
"Giselle yang suapin ya, Bu," ucapnya dengan mendekatkan satu sendok ke mulut ibu mertuanya.
Benar-benar tanpa kata, Bu Rosa menerima suapan dari Giselle. Jika, merasakan sakit hati tentu saja sakit hati, tapi biarkan saja. Daripada mendengar kata-kata yang menyakiti hatinya.
Dengan telaten Giselle menyuapi ibu mertuanya. Satu sendok demi satu sendok, hingga satu mangkok bubur dari Rumah Sakit itu dimakan hingga tandas. Benar-benar tak ada yang tersisa.
"Alhamdulillah, Ibu mau makan, ya Allah ... walau beliau hanya diam, tapi hamba bersyukur, setidaknya beliau mau makan," gumam Giselle dalam hati.
__ADS_1
Melihat ibunya yang mau membuka mulut dan mau memakan sarapannya saja, Giselle sudah merasa lega. Setelahnya, Giselle juga membantu ibu mertuanya untuk minum. Benar-benar melayani sang ibu mertua.
Memberi sela kurang lebih lima hingga sepuluh menit, sekarang Giselle membantu ibu mertuanya untuk meminum obat. Sekali lagi, Bu Rosa hanya diam. Menerima saja.
"Ibu, ini Giselle sambil bekerja. Kalau butuh sesuatu, panggil Giselle saja, Bu," ucapnya.
"Hm," balas Ibunya.
Setidaknya sekarang ada suara yang memberikan jawaban berupa suara. Sepanjang jam dihiraukan, akhirnya Bu Rosa sekarang bertanya kepada Giselle.
"Selle, bisa antar Ibu ke kamar mandi?" tanyanya.
"Perlu Giselle tunggu tidak Bu?" tanya Giselle sekarang.
"Tidak perlu, tunggu di luar saja," balas Bu Rosa.
Oleh karena itu, Giselle segera menutup pintu dan kemudian mulai menunggu di depan pintu kamar mandi. Tidak terburu-buru, dengan maksud supaya ibu mertuanya menyelesaikan urusannya di dalam kamar mandi
__ADS_1
Ada kurang lebih sepuluh menit, dan setelah itu ada suara Bu Rosa yang memanggilnya.
"Selle, sudah ... ibu sudah selesai," balasnya.
Giselle pun segera membuka pintu dan kemudian mulai membantu ibu mertuanya lagi untuk kembali ke brankar. Walau membantu, tak ada ucapan terima kasih, Giselle juga tidak memasukkannya ke dalam hati. Lebih memilih melakukan semuanya dengan ikhlas, dan mendamaikan hatinya sendiri.
"Dengan tangan kayak gini, Ibu mandinya gimana, Selle?" tanya Bu Rosa kemudian.
"Coba nanti, Giselle tanya ke perawat ya, Bu ... mungkin mandi dan tangan yang di gips tidak dikenain air dulu, Bu," balas Giselle dengan sopan.
Tampak Bu Rosa menghela napas kasar. Dia sebenarnya merasa tidak apa-apa, tanpa dipasang pen. Sebab, dengan tangan yang dipasangi gips seperti ini tentu sangat mengganggu. Terlebih gips itu masih harus dia kenakan selama dua hingga tiga pekan.
"Sebenarnya, gak pasang pen pun tidak apa-apa," gumam Bu Rosa.
Benar itu hanya gumaman, tapi Giselle bisa mendengarkan suara ibu mertuanya itu. Memang, jika hanya melihat bagaimana susahnya, tentu akan susah. Akan tetapi, ketika tulang yang patah sudah tersambung kembali, tidak ada kendala beraktivitas yang merasakan baiknya juga ibu mertuanya sendiri.
"Sabar ya, Bu ... hanya dua hingga tiga pekan. Setelah itu, bisa beraktivitas. Terus pennya dilepas setelah tiga bulan. Insyaallah, nanti Ibu bisa beraktivitas lagi," balas Giselle.
__ADS_1
Bu Rosa memilih diam sekarang. Tidak menyahut apa pun. Sementara Giselle juga berusaha memberikan pengertian kepada Ibu mertuanya bahwa nanti jika sudah sembuh tidak akan kendala beraktivitas lagi untuk ibu mertuanya.