Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Anak dan Menantu Tante Rani


__ADS_3

Di tempat yang berbeda ....


Tepatnya di kediaman Tante Rani, sekarang Bu Rosa bertemu dengan keponakannya yang bernama Shandy. Ya, Tante Rani hanya memiliki satu orang anak yang dia beri nama Shanya Wibowo yang kini berusia 26 tahun. Kendati demikian, Shandy sudah menikah dengan wanita pilihannya sendiri yang bernama Amel.


Shandy hampir seperti Gibran waktu dulu, ketika menikah dan memilih membawa istrinya untuk tinggal di kediaman orang tuanya. Pertimbangannya pun sama, yaitu karena Tante Rani sudah menjanda. Kasihan bila harus tinggal sendiri. Oleh karena itu, Shandy memilih mengajak Amel untuk tinggal di rumahnya.


"Shandy, beri salam itu ada Ibunya Aa Gibran datang," ucap Tante Rani yang meminta Shandy untuk menyapa Saudara Mamanya itu. Shandy juga kenal dengan Aa Gibran, karena sepupu dari pihak mamanya juga hanya saja yaitu Gibran.


"Tante Rosa ... apa kabar?" sapa Shandy kepada Bu Rosa.


"Baik, Shan ... kamu apa kabar? Istrinya mana?" tanya Bu Rosa.


Bu Rosa bertanya demikian juga karena belum melihat menantu adiknya yang bernama Amel. Sekarang, yang terlihat hanya Shandy saja. Oleh karena itulah, Bu Rosa menanyai kemana istrinya Shandy.


"Masih bekerja, Tante. Maklum, Amel bekerja di perhotelan. Jadi kadang shift pagi, kadang juga shift malam walau tidak sering," balas Shandy.


Mendengar jawaban Shandy bahwa istrinya bekerja di perhotelan membuat Bu Rosa yang memang berpikiran negatif itu kian menjadi-jadi. Dia sangat tidak setuju ketika wanita bekerja sampai malam, apalagi sampai larut malam, sampai shift malam dan pulang pagi. Namun, Bu Rosa memilih diam dan tidak berkomentar.


"Sudah dapat momongan? Kalau Tante tidak salah ingat, kamu menikah kan sudah satu tahun," tanya Bu Rosa lagi.


"Belum, Tante. Satu tahun mah masih pengantin baru, Tante. Menikmati masa berdua dulu," balas Shandy.


Di sana Tante Rani turut angkat suara. Memang pernikahan Shandy dan Amel baru satu tahun. Terbilang masih baru. Selain itu, Shandy dan Amel memang tidak menarget. Lebih memilih menjalani semuanya dengan pelan-pelan.


"Benar, Teh. Baru satu tahun. Masih muda juga. Nanti kalau Allah sudah memberikan momongan, pasti juga Amel akan hamil," balas Tante Rina.

__ADS_1


Usai itu Shandy berpamitan untuk masuk ke dalam kamarnya. Ingin beristirahat setelah seharian bekerja. Lagi-lagi, dalam benaknya Bu Rosa tidak terima. Dia memiliki pandangan bahwa ketika menikah memang seharusnya akan memiliki anak. Tidak perlu menunggu terlalu lama. Toh, anak kan memang yang dinantikan pasangan ketika sudah menikah.


***


Keesokan Harinya ....


Kurang lebih jam 07.00, Amel baru pulang dari hotel tempatnya bekerja. Sebagai pegawai perhotelan memang Amel mengenakan seragam yang mencetak letuk tubuhnya, rok selutut, dan kaki jenjangnya terekspos. Make up pun harus terlihat jelas. Dengan rambut yang ditata sedemikian rupa.


Kali pertama melihat Amel, Bu Rosa mengelus dada. Dia dengan pemikirannya yang kontemporer tidak bisa menerima penampilan wanita yang seperti ini. Terlalu terbuka dan ketat.


"Itu Amel ya, Ran?" tanya Bu Rosa kepada Tante Rani, adiknya.


"Iya, Teh. Seragamnya dari hotel ya itu," jawab Tante Rani.


"Itu pakaiannya gak terlalu ketat ya, Ran? Duh, wanita auratnya diumbar kemana-mana. Gitu, Shandy gak marah?"


Bu Rosa tidak bisa memahami jalan pikiran Shandy dan adik kandungnya itu. Bagaimana bisa membiarkan seorang wanita keluar dari rumah dengan pakaian ketat dan roknya yang pendek. Jika itu adalah menantunya pasti Bu Rosa sudah mengomel sekian jam lamanya. Tidak akan membolehkan bekerja dengan seragam seperti itu. Bu Rosa menjadi teringat, Giselle yang ada kalanya lembur dan pulang malam aja, dia marah. Sekarang justru ada yang pulang pagi karena shift malam. Benar-benar tidak bisa diterima.


"Tuntutan pekerjaan itu macam-macam, Teh. Kebetulan aja, Amel memang bekerjanya di hotel dengan sistem shift. Daripada menganggur. Dengan begitu hasil kuliahnya dulu di perhotelan juga terpakai," balas Tante Rani.


Sekarang Bu Rosa terdiam. Semua itu juga karena bukan ranahnya untuk ikut campur walau sebenarnya Bu Rosa terganggu dengan situasi di rumah adiknya. Terlebih pagi hari itu, Rani yang menyiapkan semua makanan untuk sarapan sendiri. Menantunya tidak keluar dari kamar, dan tidak membantu untuk menyiapkan sarapannya.


Satu jam kemudian, kurang lebih jam 08.00 waktunya sarapan. Keluarga itu duduk bersama di meja makan dengan Shandy dan juga Amel. Di sana Amel juga menyapa Bu Rosa.


"Pagi, Tante Rosa ...."

__ADS_1


"Hmm, ya ... pagi."


Bu Rosa memberikan jawaban tanpa menatap Amel. Semua itu juga karena baju dengan kerah rendah yang dikenakan Amel dinilai Bu Rosa terlalu terbuka. Tidak sopan mengenakan pakaian dengan potongan yang rendah seperti itu.


"Mama, hanya masak ini ya Ma? Tidak ada sup?" tanya Amel kepada Tante Rani.


"Tidak ada sup, Amel. Besok Mama masakan sup kesukaan kamu yah," balas Tante Rani.


Tampak Amel berdecak kesal. Seharusnya dia ingin menikmati sup yang hangat, dengan potongan sayur. Bisa menghangatkan badannya setelah semalaman bekerja. Akan tetapi, sekarang di meja makan tidak ada Sup hangat kesukaannya.


"Ck, padahal pagi hari sedingin ini, Ma. Enaknya makan sup," balas Amel.


Dalam diam, lagi Bu Rosa permintaan Amel itu tidak sopan kenapa tadi dia tidak bangun dan membuat sup sendiri. Tidak perlu meminta kepada Mama mertuanya. Lagipula Mama mertua itu harus dihormati bukan dijadikan tukang memasak di rumah.


"Besok Mama buatkan yah," balas Tante Rani dengan sabar.


Shandy pun yang menganggukkan kepalanya. "Sebisanya Mama aja lah, Ma. Tidak usah dipaksakan juga," sahut Shandy.


Merasa menu sarapan pagi itu tidak sesuai dengan seleranya, Amel memilih undur diri.


"Sarapan pagi ini, tidak ada yang Amel suka. Lebih baik Amel tidur saja deh di kamar," ucapnya dengan meninggalkan meja makan.


Kekesalan Bu Rosa bertambah. Adiknya sudah memasak sedemikian rupa untuk sarapan, tanpa bantuan menantunya justru menantunya meninggalkan meja makan dengan dalih tidak sesuai dengan seleranya. Di rumahnya saja tidak pernah Giselle berani seperti ini. Padahal Bu Rosa sangat yakin bahwa Amel itu tidak sekaya Giselle. Akan tetapi, Giselle, menantunya tidak pernah sekali-kali meninggalkan meja makan dengan alasan tidak selera dengan masakan yang ada. Yang ada justru Giselle mau bangun lebih pagi dan membantu memasak. Walau masakannya tidak begitu enak, tapi Giselle pun masih bersikap sopan.


"Menantu gak sopan banget. Kalau dia menantuku udah aku omelin setiap hari. Gak sopan!"

__ADS_1


Bu Rosa bergumam dalam hatinya sendiri dan sangat tidak senang dengan Amel, sikapnya dinilai tidak sopan. Ada perasaan bahwa yang dilakukan Giselle jauh lebih sopan. Jauh lebih baik daripada menantu adiknya itu.


__ADS_2