
Sebagai pasangan muda dan tinggal di rumah yang ukurannya tidak terlalu luas, selang sepan berlalu, di akhir pekan dimanfaatkan untuk membersihkan rumah bersama. Sekadar menyapu, mengepel, membersihkan kamar mandi, mengganti sprei, mencuci, dan menjemur pakaian. Keduanya memang terlihat begitu kompak untuk urusan rumah tangga. Jika Giselle menyapu, maka Gibran yang akan mengepel lantai. Jika Giselle mengganti sprei tempat tidur mereka, maka Gibran yang akan menaruh semua cucian kotor dalam mesin cuci sekaligus mencucinya. Semua dilakukan bersama. Sangat berbeda dengan dulu ketika masih menjadi satu dengan Ibu mertuanya.
Seorang suami layaknya dewa yang tidak boleh memegang pekerjaan rumah tangga. Seakan suami memiliki strata sosial yang lebih tinggi. Tidak boleh membantu kerjaan rumah tangga, sebisa mungkin tidak menghuni dapur, dan beberapa larangan lainnya. Akan tetapi, di dalam rumah mereka, semuanya dikerjakan bersama. Pernah, Giselle menolak dan ingin melakukan semua seorang diri. Akan tetapi, Gibran menolak. Menurut Gibran, tidak ada salahnya jika seorang suami memilih untuk turut membantu istrinya.
Akan tetapi, akhir pekan ini Giselle justru seolah mager, dan tidak ingin beranjak dari tempat tidurnya. Sepanjang pagi, hingga menjelang siang wanita itu justru asyik bergelung dengan selimutnya yang bermotif bunga-bunga itu.
“Ayo Sayang, kita bersih-bersih rumah enggak pagi ini? Sudah hampir siang loh,” ucap Gibran sembari mengambil duduk di samping istrinya itu.
Namun, dengan cepat Giselle menggelengkan kepalanya, “Hari ini libur dulu bersih-bersihnya boleh enggak sih Mas? Aku rasanya kok malas ngapa-ngapain, mager banget akunya,” ucapnya sembari berguling ke kanan dan ke kiri, seolah merasa begitu nyaman dengan tempat tidurnya itu.
Gibran pun tertawa, “Tumben … biasanya kamu rajin. Tumben sih mager? Jangan-jangan kamu mau masuk periode palang merah Sayang.” Pria itu menebak bahwa mungkin saja istrinya itu akan memasuki periode haid-nya. Sebab beberapa wanita memang memiliki kebiasaan tersendiri yang berbeda menjelang masa periodenya.
Giselle pun menggeleng, “Enggak tahu, cuma aku males banget ini Mas. Badanku juga rasanya kedinginan gitu, ngantuk terus deh rasanya,” ucapnya sembari beberapa kali menguap hingga matanya terasa berair.
Melihat istrinya yang mungkin saja dalam masa periode haid dan juga mungkin kecapean dengan pekerjaannya, Gibran pun mendekat dan menarik selimut guna menyelimuti badan istrinya yang mengeluh kedinginan itu. “Ya sudah, kamu tidur dulu aja, aku biar bersihin rumah kita ini. Kalau hanya mengepel lantai dan membersihkan kamar mandi, aku bisa kok. Banyakin istirahat aja, biar badan kamu lebih enak,” ucapnya kemudian ditutup dengan mendaratkan kecupan sayang di kening Giselle.
Setelahnya, Gibran pun memilih untuk menyapu lantai di rumahnya. Dari ruang tamu, tiap kamar, hingga sampai ke dapur semuanya disapu Gibran hingga benar-benar bersih. Setelahnya, Gibran juga menggunakan vacuum cleaner untuk menyedot debu di karpet dan sofa. Lantai rumah pun dia pel dengan menggunakan pewangi beraroma sere. Setelah itu, pria itu yang memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci, begitu selesai dia juga yang langsung menjemurnya. Tidak terasa, matahari pun semakin meninggi, sudah nyari tengah hari Gibran membersihkan rumahnya.
__ADS_1
Sepanjang waktu bersih-bersih tentu membuat pria itu lapar, menyadari bahwa Giselle mungkin saja masih tidur, maka pria itu memilih untuk memesan makanan dan es cendol durian. Keliatannya memang di panas yang terik dan menikmati es cendol dengan durian terasa enak.
Setelah makanan yang dipesan pun tiba, Gibran lantas membawa makanan itu dan juga membawa satu piring yang sudah berisi nasi, lengkap dengan lauknya dan masuk ke dalam kamarnya. Dengan sabar pria itu membangunkan istrinya, “Ayo Sayang bangun dulu … makan dulu yuk, kamu belum makan. Masak mau tidur terus sih? Ini saja bahkan sudah sangat siang,” ucapnya sembari menggoyang tubuh istrinya supaya bisa segera bangun.
Perlahan Giselle pun mengerjap, mengucek sejenak dua matanya, dan perlahan kelopak matanya terbuka perlahan-lahan, dia tersenyum menatap suaminya yang sudah ada di sampingnya. “Tidurku lama ya Mas?” tanyanya begitu bangun.
Gibran pun mengangguk, “Iya … nyaris setengah hari kamu tidur. Makan dulu yuk,” ucapnya sembari membawa satu piring dengan aneka sayur dan lauk itu.
“Sampai dibawain ke sini? Padahal makan di meja makan pun gak apa-apa loh Mas,” ucapnya sembari menerima satu piring itu dan menaruh di atas pahanya.
Menerima piring itu, kemudian Gibran membuka es cendol durian yang berada dalam wadah gelas cup itu. Entah mengapa, bagi Giselle aroma cendol durian itu terasa menyengat. Tiba-tiba saja, perutnya bergejolak dan dia menaruh piring berisi makanan itu di atas tempat tidur begitu saja dan berlari ke kamar mandi.
“Kamu kenapa? Kita periksa ke Rumah Sakit yuk?” Ajaknya kepada istrinya itu.
Giselle menggeleng, “Enggak … aku cuma kecapean atau mungkin masuk angin aja sih Mas,” akunya yang mengira mungkin sedang masuk angin.
“Kamu mau ke mana sekarang? Aku bantu,” tanya Gibran yang tampak khawatir begitu istrinya itu hendak berjalan.
__ADS_1
“Aku mau ke dapur, ambil air putih hangat Mas,” ucapnya.
Dengan sigap, Gibran mengangkat badan Giselle, menggendongnya ala bridal style dan mendudukkannya di kursi yang berada di dekat meja makan. Pria itu yang mengambil sebuah gelas dan mengisinya dengan air putih hangat, lantas menyerahkannya kepada Giselle, “Ini … diminum dulu,” ucapnya.
Akan tetapi, saat indera penciumannya mencium bau dari aroma Sere yang menurutnya tidak enak itu, Giselle segera berlari dan menutup mulutnya dengan tangan. Wanita itu kembali berlari menuju kamar mandinya dan lagi-lagi mengeluarkan cairan dari perutnya. Entah, rasanya perutnya bergejolak dengan hebat. Lagi-lagi Gibran pun berlari untuk mengejar istrinya itu. Puas mengeluarkan semua cairan dari perutnya, kedua kaki Giselle begitu lemas. Wanita itu pun luruh begitu saja dan terduduk di lantai kamar mandi. Kini dia benar-benar menangis dan memegangi lututnya yang terasa lemas.
Gibran pun berjongkok di depan istrinya itu, “Kamu kenapa? Kalau tidak sehat, kita ke Rumah Sakit saja yuk.” Ajaknya lagi kepada istrinya.
Giselle hanya menggeleng dan terus menangis, “Enggak … aku ngerasanya kok di sekitar dapur baunya menyengat banget sih Mas? Aroma Citronella (Sere) ya Mas? Biasanya kan aromanya apel,” protesnya yang merasa lantai di dapur baunya berbeda.
Gibran pun mengangguk, “ Iya … yang apel habis, jadi aku pakai seadanya. Kamu kok aneh sih Sayang? Enggak tahan dengan bau menyengat ya? Jangan-jangan kamu …” ucap pria itu menggantung begitu saja.
Perlahan pria itu mengusap punggung Giselle, “Kita cek ke Dokter Kandungan yuk? Mau ya? Atau aku belikan test pack, besok pagi kamu cek ya,” ucapnya yang meminta istrinya itu untuk mengecek terlebih dahulu. Dari arah pembicaraan Gibran, pria itu menduga bahwa mungkin saja kehidupan baru sedang tumbuh dalam rahim istrinya itu. Jikalau benar, maka Gibran akan begitu bersyukur karena akhirnya Allah kabulkan keinginannya.
Namun dengan cepat Giselle menyanggahnya, “Enggak lah Mas … mungkin mau memasuki periode dan aku mungkin masuk angin,” sahutnya yang masih memegangi perutnya.
Seolah tak ingin berdebat, Gibran pun mengangguk. “Ya sudah, penting kamunya segera sembuh. Namun, aku nanti keluar sebentar ya. Aku belikan test pack. Test dulu aja. Hasilnya apa pun tidak masalah buatku, itu juga bantu supaya kamu tidak sembarangan minum obat. Okay?” pinta pria itu kepada Giselle.
__ADS_1
Mengurangi risiko jika saja salah diagnosis, dan membuat istrinya itu tidak sembarangan minum obat. Sedang jika dugaannya benar, maka memang istrinya harus mendapatkan obat yang benar dan tepat, juga tidak diperbolehkan sembarangan mengonsumsi obat.
Rasanya sekarang Gibran begitu yakin bahwa Giselle tidak sekadar masuk angin atau masuk periode palang merah. Sebab, tidak biasanya Giselle mual-mual hingga muntah seperti ini. Sudah dua tahun hidup bersama Giselle. Sehingga, Gibran sudah sangat tahu bagaimana istrinya itu. Andai saja, benar adanya berjalan tahun ketiga pernikahannya ini akan menjadi tahun yang benar-benar indah.