
Secara diam-diam, Bu Rosa memilih untuk menyusul Rani ke dalam kamarnya. Hatinya sebagai seorang kakak kandung benar-benar iba melihat Rani yang diperlakukan seperti ini oleh menantunya sendiri. Rasanya, tidak ada rasa hormat dari Amel sebagai menantu kepada Tante Rani, sebagai mertuanya.
"Ran, boleh aku masuk?" tanya Bu Rosa kepada adiknya itu. Sekarang Bu Rosa masih berdiri di depan pintu. Tadi melihat adiknya menangis dan masuk ke dalam kamar, rasanya Bu Rosa ingin segera menyusul adiknya itu.
"Masuk saja, Teh," balas Tante Rani.
Memasuki kamar tidur adiknya, kemudian Bu Rosa duduk di pinggiran ranjang, tepat di samping adiknya yang masih menangis itu. Dia kemudian berbicara dengan lirih kepada Rani di sana.
"Maaf, Ran ... bukannya aku ikut campur. Akan tetapi, apa yang tadi kamu alami itu sama sekali tidak benar," balas Bu Rosa.
Masih dengan terisak-isak, Tante Rosa menyeka buliran bening yang membasahi pipinya. Jujur, dia merasa malu ketika kakaknya melihat bagaimana kemelut terjadi di rumahnya. Selama ini, Tante Rani berusaha menyembunyikan air matanya dari siapa pun. Akan tetapi, sekarang kakaknya sendiri melihat bagaimana rumah tangganya yang jauh dari kata harmonis. Terlebih ketika kakaknya sudah berasumsi, rasanya itu membuatnya malu.
"Tidak apa-apa, Teh," balas Rani dengan berusaha untuk tenang.
"Aku memiliki menantu perempuan juga, Ran ... tidak pernah dia berbicara kasar kepadaku. Tidak pernah dia meminta dimasakkan sesuatu," balas Bu Rosa.
Sekarang Bu Rosa membuka suara dan membandingkan Giselle dengan Amel. Dia dan Rani, adiknya sama-sama meminta putra tunggal dan memiliki seorang menantu perempuan. Namun, menantunya tidak pernah berbicara kasar kepadanya. Tidak pernah juga minta masakan sesuatu. Sampai-sampai sudah dua tahun lebih berlalu, mana Bu Rosa tahu makanan kesukaan Giselle. Saking diam dan menerimanya Giselle, semua makanan yang dia masak, pastilah Giselle makan.
"Ya, rumah tangga itu punya banyak cerita, Teh. Ada menantunya yang kurang ajar, ada juga mertuanya yang judes dan membuat menantunya tidak betah tinggal di rumahnya. Ya, begini lagi," balasnya.
"Ya, bener. Namun, anak-anak dan menantu harus hormat ke orang tua," balas Bu Rosa lagi.
Tante Rani menghela napas kasar. Telapak tangannya sesekali mengelus dadanya sendiri, isyarat supaya dia bisa lebih sabar. Bisa menerima keadaan dan juga tidak mudah marah ketika seatap dengan menantunya. Usai itu, barulah Tante Rani membalas kakaknya itu.
__ADS_1
"Aku sudah berusaha menjadi mertua yang baik, Teh ... aku selalu bangun pagi, memasak untuk anak dan menantuku, aku yang mencuci baju mereka, sampai ********** saja aku yang cucikan. Kurang apa, Teh? Yah, mungkin memang aku yang tidak memiliki nasib baik. Kalau bisa ya maunya memiliki menantu yang baik, lembut, cantik, dan berpendidikan tinggi kayak Neng Giselle. Namun, takdir orang sendiri-sendiri kan?"
Terus terang Tante Rani menilai bahwa Giselle aadalah sosok menantu yang baik. Walau minim interaksi, tapi Tante Rani tahu bahwa Giselle adalah menantu yang baik, sangat kontrakdiktif dengan Amel. Sayangnya, dia mendapatkan menantu yang bertolak belakang seperti karakter Giselle. Andai, memiliki menantu seperti Giselle, pastilah Tante Rani merasa sneang.
"Cuci dalam nya juga? Keterlaluan sekali," balas Bu Rosa dengan kesal.
"Ya, begitulah Teh. Walau dimasukkan ke mesin cuci, yang menjemurnya siapa? Aku juga kan?"
Apa yang dialami Tante Rani pun ada realitanya. Tak jarang, anak menantu justru bersikap ngelunjak dan memperlakukan mertuanya sendiri seperti pembantu. Diminta memasak, mencuci, menjemur, sampai mensetrika baju. Belum nanti ketika sudah ada anak, para mertua yang harus mengurus cucu, sementara menantunya bekerja. Sama seperti Tante Rani, pagi hari ketika Amel dan Shandy masih berpelukan hangat di ranjang, dia sudah bangun. Bagaimana dapur sudah mengepul, mesin cuci sudah menggiling pakaian kotor, menyapu rumah. Itu adalah rutinitasnya setiap hari.
"Astagfirullah ... durhaka sekali menantumu itu. Gibran dan Giselle menggunakan hari libur untuk cuci baju mereka sendiri. Mana pernah nyusahin orang tua," balas Bu Rosa.
"Gibran dan Giselle mah baik, Teh ... berbeda dengan anak-anak. Bersyukur Teteh memiliki anak yang baik, menantu juga baik. Neng Giselle itu justru tidak kayak menantu loh, rasa anak malahan. Dia kelihatan sayang sama Teteh," balas Tante Rani.
"Apa iya?" tanya Bu Rosa.
Tante Rani pun menganggukkan kepalanya. "Di balik diamnya dia, dia memiliki hati yang lembut. Rani udah ketemu orang banyak, bisa menilai orang. Giselle itu baik. Teteh beruntung dan bersyukur memiliki menantu yang seperti anak sendiri. Sekarang jarang Teh, ada menantu seperti itu. Coba lihat dan rasakan saja. Ya, kalau tidak menantunya yang kurang aja, dan mertuanya yang sebaliknya," balas Tante Rani.
Di dalam hatinya Bu Rosa masih bertanya-tanya. Dia masih merasa Giselle itu tidak benar. Wanita dari kalangan berada, sangat kaya malahan, tapi tidak suka bergantung dengan kekayaan orang tuanya. Gibran pun harus bekerja keras. Andai saja, Giselle mau membuat Papanya memberi satu posisi strategis di perusahaan, pasti kehidupan ekonomi Gibran akan lebih baik.
"Sikap Amel begitu karena dia dari keluarga berada, sementara Shandy hanya putra seorang janda. Dia jauh lebih berada. Penghasilannya juga tinggi. Pantas Amel begitu, karena uang sebulan untuk masak juga sebagian dari dia. Ya, aku yang salah," balas Tante Rani.
"Giselle tiap bulan ngasih banyak juga. Mana pernah Giselle bentak-bentak aku. Berani bentak, aku sobek mulutnya," balas Bu Rosa dengan geram.
__ADS_1
"Neng Giselle gak akan pernah melakukan itu, Teh. Percaya saja. Zaman sekarang istri yang berpenghasilan tinggi maunya begitu, suaminya menjadi pelayannya, apa-apa maunya dilayani. Udah lumrah," balas Tante Rani.
"Ya, enggak ... istri setinggi apa pun pangkat, derajat, dan penghasilannya harus tunduk ke suaminya. Suami itu kepala rumah tangga, harus taat sama suami," balas Bu Rosa.
"Emang masih ada, Teh?" tanya Tante Rani lagi.
"Giselle."
Jawaban itu keluar dengan sendirinya. Ya, Giselle adalah wanita dari keluarga kaya raya, penghasilan tinggi, lulusan luar negeri, tapi mana pernah Giselle bersikap semena-mena dengan Gibran. Yang ada, Giselle selalu mengikuti keputusan Gibran. Itu sudah Giselle lakukan selama ini.
"Makanya, Rani mah pengen punya menantu kayak Neng Giselle," balasnya dengan tersenyum getir.
Sejenak berandai-andai, kalau saja memiliki menantu seperti Giselle pastilah rumah tangga akan damai. Tidak ada bentakan menantu. Tidak ada mertua rasa pembantu di rumahnya sendiri. Selalu menjunjungi tinggi toleransi di antara mertua dan menantu.
"Tapi ... dia ...."
Bu Rosa hendak menjawab lagi, tapi jawaban itu putus di tengah jalan karena Rani segera menyahutnya.
"Dia sempurna, Teh. Apa mau tukeran menantu seminggu?" tawar Tante Rani dengan tertawa. Tentu itu hanya sebatas bercanda.
"Enggak, aku bisa mati berdiri," jawab Bu Rosa dengan cepat.
Hingga akhirnya Tante Rani terkekeh perlahan. "Ya, gitu. Bersyukur Teh ... Teteh punya putra yang baik, menantu yang baik, dan tidak lama lagi akan dikaruniai cucu. Nikmat mana lagi yang Teteh dustakan? Keluarga sejahtera dan bahagia adalah berkah utama untuk orang tua," balasnya.
__ADS_1
Bu Rosa terdiam dan menganggukkan kepalanya. Kalau saja dia lebih bisa menerima Giselle, mungkin sekarang rumahnya masih ramai dengan Gibran dan Giselle. Selain itu, ada tangisan bayi yang akan menyempurnakan pondoknya. Sayangnya, semua terlanjur terjadi. Benarkah dia yang kurang bersyukur hingga tidak bisa permata di antara tumpukan jerami?