Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Semua Akan Indah Pada Waktunya


__ADS_3

Jika menilik kisah hidup Giselle dan Gibran dulu, siapa sangka seorang pria tampan akan mau menikahi gadis dengan big size dan dari sisi penampilan tak menarik. Kepribadian Giselle yang pendiam dan introvert kian membuat sosok Giselle tak menarik sama sekali. Akan tetapi, ada Gibran yang bisa mengerti dan melihat bahwa kecantikan seorang wanita bukan apa yang terpancar di wajahnya, tapi kebaikan dan kecantikan yang terpancar dari hati.


Kecantikan fisik itu bisa diusahakan. Rambut keriting bisa direbonding atau smoothing, bekas jerawat bisa melakukan serangkaian perawatan, atau mengurangi berat badan bisa dengan cara instans. Namun, kecantikan dari hati itu tidak bisa dibuat-buat. Gibran bisa melihat itu. Selain itu, Gibran juga menikahi Giselle semata-mata karena cinta, bukan karena harta kekayaan orang tuanya.


Sekarang, rasanya kebahagian Gibran dan Giselle benar-benar bertambah nyata. Pernikahan dengan konflik antara mertua dan menantu yang menahun, akhirnya membaik. PCOS yang divoniskan kepada Giselle juga akhirnya luruh, ketika Giselle berhasil hamil dan melahirkan baby Gina.


"Kebahagiaan ini sangat indah ya Mas Gibran," kata Giselle kepada suaminya itu.


"Iya, sangat indah, Yang. Dalam tiga tahun pernikahan kita Allah izinkan kita mencecap aneka rasa. Dari manis, asam, bahkan pahit. Sekarang sangat indah dengan hadirnya Gina," balas Gibran.


Ada anggukan samar dari kepala Giselle. Wanita itu tersenyum dengan menggendong Gina, memberikan ASI untuk bayinya itu.


"Kalau aku ingat-ingat, dua tahun pernikahan kita sangat tidak mudah. Penuh air mata. Ada datangnya mantan kamu, ketidaksukaan Ibu, sukarnya mendapatkan keturunan, bahkan kehidupan percintaan yang terkesan monoton. Dalam waktu sepuluh bulan, semuanya membaik. Bahkan, di rumah ini seperti istana, memberiku banyak kebahagiaan," balas Giselle.

__ADS_1


"Memang banyak chapter dalam hidup kita, Sayang. Chapter demi chapter sudah kita lalui. Ketidakberdayaanku hingga terhimpit di antara hubungan kamu dan Ibuku. Lihatlah, sekarang ... dengan bersabar semua akan menjadi indah pada waktunya."


Gibran mengatakan itu. Ya, itu adalah hal terbesar yang bisa Gibran rasakan. Itu adalah rasa yang berbalut dengan ucapan syukur. Dalam setiap proses, banyak hal yang Gibran syukuri, tentunya juga dengan bersabar.


"Dulu, tinggal satu atap dengan mertua, benar-benar tak indah untukku. Sekarang, aku bersyukur dengan semakin berjalannya waktu, hubunganku dan Ibu semakin baik dan hangat. Untuk memiliki hubungan baik, tidak harus mengharuskan kita tinggal satu rumah. Justru, terkadang hubungan baik terjadi ketika berpisah dan berbeda rumah. Iya kan Mas?" tanya Giselle.


"Iya, Sayang. Jangan lupakan Allah juga yang membuat semuanya menjadi lebih indah. Allah yang memperbaiki semuanya, memulihkan hubungan."


Giselle menganggukkan kepala. Benar bahwa dibalik semua, sang Khalik lah yang memperbaiki semuanya. Doa yang kita panjatkan tak akan pernah sia-sia. Justru, dalam setiap doa yang terucap, dalam setiap sujud yang bertelut, Allah melihat kesungguhan hati manusia dan menjawab doa.


"Iya, Tuhan sudah membuat semua indah pada waktu-Nya. Pada ketetapannya. Sekarang, kita menunaikan lagi tugas mulai dari Tuhan untuk membesarkan Gina bersama-sama. Kita sudah berbagi semua momen, dan sekarang kita akan terus berbagi, saling mengisi, dan melanjutkan kisah kita bersama Gina. Yang cukup dan harus kamu tahu, kita adalah rumah kita, pondok kita, istana cinta. Di dalam rumah inilah kita akan melimpah semua cinta. Aku selalu cinta kamu, Sayang!"


Gibran mendekat. Pria itu merangkul istrinya, wajahnya mendekat dan mengecup kening istrinya."Kita akan selalu bersama?"

__ADS_1


"Ya, akan selalu bersama," balas Giselle.


"Memenuhi rumah kita dengan cinta? Membuat pondok kita menjadi indah?" tanya Gibran.


"Ya, kita usahakan bersama," jawab Giselle.


Ada senyuman yang timbul di wajah Gibran. Lantas pria itu menundukkan wajahnya dan mengecup kening putrinya.


"Kita wujudkan kebahagiaan kita bersama yah. Papa dan Mama selalu sayang Gina."


Inilah akhir kisah ketiganya. Pelik dan pasang surut kehidupan berumahtangga berhasil mereka lewati. Dengan sabar dan ikhlas menjalani cobaan, menghasilkan madu yang indah. Ketika pondok mertua serasa tak indah, keluarlah ... bangun pondok sendiri dan terus sematkan doa untuk memperbaiki setiap hubungan. Terima kasih untuk dukungannya.


...****************...

__ADS_1


...TAMAT...


__ADS_2