Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Recharge Terbaik


__ADS_3

Malam hari pun tiba, Giselle seakan benar-benar mandi dan menyegarkan dirinya. Dia rupanya sudah bersiap untuk menikmati buka puasa termanis dengan istrinya. Terlebih melakukannya di rumah baru, seakan menjadi pengalaman yang menyenangkan untuk mereka berdua.


Sementara Giselle yang sudah mandi terlebih dahulu, sekarang bersantai di dalam kamar dan melihat siaran televisi. Sesekali bersantai dan menikmati hidup. Sembari menunggu suaminya yang masih mandi. Memang terasa perbedaannya. Berada di rumah sendiri lebih santai dan fleksibel itu yang dirasakan Giselle.


Hampir dua puluh menit berlalu, barulah suaminya keluar dari kamar mandi. Pria tampan itu sekarang jauh lebih segar dengan rambut yang masih setengah basah. Giselle melirik sekilas kepada suaminya yang tengah menata rambutnya dengan sisir dan menyemprotkan minyak wangi di tubuhnya. Begitu parfum disemprotkan, aroma maskulin campuran Woody dan Citrus seakan memenuhi kamar mereka.


Lantas, Gibran menaiki ranjang dan mengambil duduk di sisi istrinya. "Bersantai, Nyonya?"


Giselle terkekeh perlahan. "Hmm, iya ... kapan lagi bisa bersantai kayak gini. Aku baru ingat, selama dua tahun terakhir, kita gak pernah lihat televisi ya, Mas?" tanyanya.


Di dalam kamar Gibran dulu sebelumnya juga tidak ada televisi. Itu juga karena larangan dari orang tuanya bahwa kamar itu untuk tidur. Bukan untuk menonton televisi. Televisi ditempatkan di ruang keluarga. Sehingga, ketika ingin menonton ya harus ke ruang keluarga. Begitu selesai, mereka akan masuk ke dalam kamar dan beristirahat.


Sementara Giselle yang sibuk dengan pekerjaan dan juga stress berlebih, sudah tidak lagi memiliki waktu untuk menikmati hidup, bersantai, dan menonton televisi. Hampir setiap hari saja dadanya sesak bak kesulitan bernapas dan juga ucapan dari ibu mertuanya yang selalu saja membuatnya kesakitan setiap hari.


"Iya, banyak yang terlewatkan selama dua tahun ini ya, Sayang," ucap Gibran perlahan.


"Iya," balas Giselle singkat.


Gibran mengikis duduknya, lebih dekat dengan Giselle kemudian dia bertanya lirih kepada istrinya. "Jadi, enggak Sayang? Boleh enggak?" tanyanya.

__ADS_1


"Hmm, iya ... boleh. Pintu depan udah dikunci, Mas?" tanyanya kepada suaminya.


"Sudah, bahkan lampu depan sudah aku matikan juga," balas Gibran.


Giselle pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Respons yang diberikan oleh Giselle benar-benar membuat Gibran begitu senang, pria itu kini membelai sisi wajah Giselle, tanpa banyak berbicara, Gibran pun mengikis jarak wajahnya, dan kemudian melabuhkan bibirnya di atas bibir Giselle. Dengan hati-hati, Gibran mengecup bibir yang merekah layaknya kelopak bunga itu. Menghisapnya dengan penuh kelembutan, seolah pria itu menemukan nektar yang tersembunyi di antara dua belah lipatan bibir itu.


Sebab, tidak ada lagi rasa selain ingin mencium istrinya. Gibran sangat bersyukur dengan istrinya yang begitu pengertian kepadanya. Istri yang mau berbagi kesedihan, mau hidup dalam keserdahaan bersama dengannya. Semoga ini akan bertahan untuk selamanya, rumah tangganya dengan Giselle juga akan berlangsung untuk jangka waktu yang lama. Sepanjang hayat.


Gibran menenglengkan wajahnya, lantas pria itu memberikan usapan dengan lidahnya. Begitu merasai bibir itu rasanya Gibran tidak bisa berhenti, ingin selalu mengecup, memagut, bahkan melu-mat dua belah lipatan bibir itu. Pergerakan bibir Gibran di atas bibir Giselle pun mulai terasa ada tekanan di sana, ada lidah yang terus memberikan usapan seolah tengah menggoda, ada tangan Gibran yang memberikan belaian di sisi wajah Giselle, dan juga mengusapi tengkuknya perlahan.


“Mas,” suara Giselle dengan menghela nafas sepenuh dada.


Gibran seolah memilih untuk abai. Dia lebih memilih untuk terus menyapa bibir dan kedalaman rongga mulut Giselle yang hangat. Menghisap lipatan bibir atas dan bawah Giselle dengan bergantian. Sungguh, sejak terjadi banyak masalah dalam rumah tangga mereka, dalam kurung waktu hampir dua minggu baru kali ini Gibran bisa kembali mencium istrinya dengan ciuman yang seintens ini. Ini adalah ciuman yang begitu dalam, ciuman yang lembut, dan juga panas di saat yang bersamaan. Ciuman yang seolah Gibran pun men-charge ulang dayanya.


Sama halnya dengan Gibran, yang seolah membimbing satu tangan istrinya untuk melingkar di lehernya. Sedangkan tangannya sendiri, memegang dengan erat pinggang istrinya sembari mengusap dengan begitu lembut punggung istrinya. Usapan yang justru kian membangkitkan hasrat keduanya untuk semakin memperdalam ciumannya. Pria itu lantas melepas sesaat ciumannya, menyisakan sejengkal jarak di antara wajah mereka.


“Boleh malam ini Sayang?” tanyanya lagi yang terlebih dahulu meminta izin kepada istrinya.


Giselle pun kemudian mengangguk, “Boleh …,” ucapnya sembari menunduk, masih ada perasaan malu setiap kali dia memberikan lampu hijau kepada suaminya itu. Terlebih ini akan menjadi penyatuan keduanya setelah banyak kerikil tajam dalam kehidupan rumah tangganya. Dua minggu yang banyak masalah demi masalah datang dan menerpa keduanya.

__ADS_1


Menerima sinyal yang diberikan oleh istrinya, Gibran lantas kembali mencium bibir istrinya itu. Kali ini ciuman yang begitu dalam dengan lebih menggebu. Merasai rasa rindu yang seolah terus-menerus berdiam di dalam dada, tanpa mampu untuk diredakan barang untuk sejenak. Merasai manisnya bibir yang sudah seperti cotton candy yang menjadi candunya, dan juga merasakan rongga mulut yang seolah memberinya kehangatan untuk terus menari-nari di dalam rongga mulut istrinya.


Diikuti oleh pergerakan tangannya yang membelai setiap sisi telinga istrinya yang justru kian membuat wanitanya itu meremang, dan semakin memejamkan matanya. Keduanya, Gibran sedikit membuka matanya dan membaringkan tubuh istrinya, pria itu mengungkungnya dengan menahan bobot tubuhnya sendiri dengan kedua siku tangannya.


Setelah merasa istrinya dalam posisi nyaman, mulailah pria itu melabuhkan kecupan-kecupan di pipi, hidung, bibir, leher, dan tangannya bergerak untuk melepaskan kemeja yang dikenakan oleh istrinya hingga menampakkan kain berwarna biru muda yang begitu lembut dan terbungkus indah di sana. Sayangnya, pria itu kian gelap mata untuk mengecup dan merasakan lembut dan manisnya buah persik nan begitu ranum, sehingga tangannya bergerak di punggung istrinya untuk melepaskan pengait di sana. Setelah dua buah persik itu terpampang nyata, tidak menunggu waktu lama, pria itu segera menyapanya dan memberikan kecupan-kecupan di area itu.


Penjelajahannya tidak berhenti di sana, karena bibir pria itu kian bergerak turun dan mengecup perut istrinya. Bahkan hanya butuh waktu sekian detik, pria itu benar-benar meloloskan semua pakaian yang menempel pada tubuh istrinya, bertingkah sedikit nakal dengan menatap istrinya dalam keadaan polos mutlak.


“Kamu cantik Sayang …,” ucapnya lagi sembari meloloskan setiap pakaiannya.


Kemudian pria itu membuka sedikit kaki istrinya, dan menyatukan dirinya dengan istrinya. Melakukan invansi dengan begitu lembut, hujaman dan hentakan yang dia lakukan pun sepenuh hati. Bermuara bersama. Layaknya perahu yang berlayar di samudera lepas. Tak takut dengan terpaan badai dahsyat atau gelombang, karena keduanya sudah bersatu dan begitu padu.


“Astaga Sayang …” gumamnya lagi diikuti dengan geraman yang membuat pria itu terus melakukan gerakan seduktif sembari memejamkan matanya.


Sementara Giselle sendiri, mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya dan beberapa kali tangan itu luruh dengan mencengkram punggung suaminya.


“Mas Gibran …” dipanggilnyalah suaminya itu dengan beberapa kali tampak mendesis dan napas yang terengah-engah. Serasa dirinya sendiri kepayahan untuk bernapas.


Akan tetapi, suaminya justru kian bergerak dan terus melakukan invansinya tanpa henti. Kendati gerakannya lembut, justru itu begitu keduanya sama-sama memejamkan matanya dengan dramatis disertai peluh yang kian basah pada diri keduanya.

__ADS_1


Hingga akhirnya, pria itu pun menggeram dengan tubuh yang bergetar dan mencerukkan kepalanya di dada istrinya. Keduanya melebur menjadi satu, berbagi indahnya taman cinta yang baru saja mereka kunjungi bersama. Disertai napas yang masih menderu, keduanya sama-sama terengah-engah dan memejamkan matanya. Menstabilkan terlebih dahulu diri mereka sendiri.


Kemudian pria itu mengangkat kembali wajahnya, dan melabuhkan kecupan di kening istrinya, “Terima kasih Sayang … I Love U So Much.,” ucapnya sembari menyeka sisa-sisa keringat di kening istrinya.


__ADS_2