
Masih berada di kediaman Tante Rani, Gibran dan Giselle ditahan oleh Tantenya. Masih diajak mengobrol. Semua itu juga karena sudah lama mereka tak berjumpa, lebih tepatnya usai pernikahan Giselle dan Gibran. Sehingga Tante Rani masih ingin mengobrol bersama.
"Luar biasa yah, setelah dua tahunan akhirnya hamil juga," ucap Tante Rani.
Memang dari karakter dan pembawaan Tante Rani terlihat lebih bersahabat dan juga lebih ramah. Berbeda jauh dengan ibu mertuanya yang judes dan selalu berbicara pedas. Namun, memang begitu adanya. Saudara kandung saja selalu berbeda. Seperti perumpamaan telor ayam yang dierami sang induk. Semua telor memiliki bulatan yang sama, kulit cangkang yang sama, ketika dipecahkan juga akan memiliki putih telor dan kuning telor. Akan tetapi, setelah 21 hari dierami, telor itu akan menetas dan menghasilkan anak-anak ayam dengan berbagai rupa. Ada yang berbulu putih, loreng, dan hitam. Sungguh ajaib. Begitu juga dengan saudara sekandung, dilahirkan dari ayah dan ibu yang sama, tapi juga memiliki perbedaan baik fisik dan karakter atau kepribadian.
"Benar Tante," balas Giselle.
Setelah itu, Bu Rosa minta diantarkan untuk beristirahat di kamar tamu. Oleh karena itu, Tante Rani mengantar kakaknya ke kamar terlebih dahulu. Setelahnya, kembali ke ruang tamu menemui Giselle dan Gibran.
"Tante, apakah tidak merepotkan jika ibu di sini?" tanya Gibran sekarang.
"Tidak, tidak repot sama sekali, Gibran. Tidak apa-apa. Dulu, waktu Tante kecil juga pernah ikut Ibu dan Bapak kamu. Sekarang gantian, lagian cuma semingguan saja," balas Tante Rani.
"Namun, Ibu sedang sakit, Tante. Takutnya merepotkan apalagi Shandy dan Amel di sini juga. Gibran takut merepotkan," balas Gibran.
"Jangan begitu, Bran. Kita saudara, keluarga. Tidak apa-apa. Lagian kamu dan Giselle juga bekerja, jadi tidak apa-apa," balas Tante Rani.
Gibran akhirnya menganggukkan kepalanya. Kemudian, Gibran memberikan obat-obatan dari Rumah Sakit kepada Tante Rani.
"Tante, ini adalah obat-obatan dari rumah sakit. Masih harus diminum untuk lima hari ke depan. Tolong ya Tante," ucap Gibran.
"Pasti. Jangan sungkan kepada Tante. Kamu juga istirahat dulu, Giselle juga. Jangan sampai kelelahan apalagi masih hamil muda," balas Tante Rani.
Mendengar apa yang dikatakan Tante Rani jujur saja, Giselle merasakan bentuk perhatian. Andai saja yang memperhatikannya adalah ibu mertuanya sendiri, pastilah Giselle akan senang sekali. Namun, dia tidak pernah mendapatkan perhatian dari ibu mertuanya. Yang ada justru ibu mertuanya selalu mengatainya yang pedas.
__ADS_1
"Kalian makan dulu yah ... Tante masak Bakso tuh, dengan daging sapi," ucap Tante Rani.
"Hm, maaf Tante. Bukannya Giselle tidak sopan. Namun, Giselle mual kalau mencium aroma Bakso. Bawaan bayinya. Maaf sekali, Tante," ucap Giselle sekarang.
Tidak enak saat menolak. Namun, Giselle berkata jujur bahwa mencium aroma Bakso saja dia masih mual dan pening. Untuk yang lain tidak seberapa, tapi kalau aroma Bakso tidak bisa ditolerir.
"Oalah, mual kalau mencium aroma Bakso. Tante pikir tadi Bandung sedang musim hujan, Bakso dengan kuah hangat cocok untuk Ibu kamu juga. Ya sudah, tidak apa-apa. Kehamilan kan selalu punya cerita. Yang penting dinikmati saja. Nanti kalau sudah lahiran, bakalan kangen dengan masa-masa saat hamil," balas Tante Rani.
Ah, Giselle merasa lega. Dia pikir Tante Rani bisa tersinggung dan bisa marah kepadanya karena menolak untuk memakan bakso. Ternyata lain cerita, semua itu karena Tante Rani lebih bisa memahami kondisi Giselle yang sedang hamil.
"Dulu sebelum hamil tidak apa-apa, Tante. Sekarang ini yang rasanya tidak bisa. Maaf kan Giselle ya, Tante," balas Giselle.
"Duh, tidak apa-apa. Namanya juga orang hamil. Tidak apa-apa, Selle. Tante tahu kan Tante juga pernah hamil. Dulu, juga Tante mual-mual. Jadi, bisa memahami kamu juga."
"Kami pamit saja, Tante. Sebelum petang, takut kena macet dan hujan juga nanti," balas Gibran.
"Baiklah," balas Tante Rina.
Gibran dan Giselle menemui ibunya dulu di kamar tamu dan berpamitan. Gibran dan Giselle bergantian bersalaman takzim kepada ibunya.
"Ibu, kalau butuh apa-apa, kabarin Gibran atau Giselle aja. Tidak apa-apa. Nanti Gibran akan berikan," balasnya.
Tanpa malu, Bu Rosa meminta sesuatu kepada putranya itu, "Bran, tinggalin Ibu uang. Setidaknya untuk membantu memasak Tantemu," pintanya.
Sebenarnya, tanpa meminta saja Gibran sudah memikirkannya. Terlihat Gibran sudah mengantongi amplop putih yang di dalamnya ada sejumlah uang. Tidak banyak. Maksudnya tidak sebanyak Giselle yang memberikan uang bulanan untuk Ibu mertuanya. Namun, itu sudah Gibran pikirkan untuk membantu Tantenya juga.
__ADS_1
"Gibran sudah menyiapkannya, Bu. Ini buat Ibu. Bantu Tante Rina juga ya, Bu," balas Gibran.
Mendapatkan apa yang dia mau, Bu Rosa menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berpesan lagi kepada Gibran.
"Titip rumah ya, Bran. Kalau malam lampunya dinyalakan. Sayuran di lemari es tolong dibuang saja," pintanya lagi.
"Ya, Bu ... Gibran dan Giselle nanti akan membersihkan rumah juga. Kebetulan esok akhir pekan, kami bisa membersihkan rumah. Minggu depan Gibran jemput dan kita melepas gips nya di Rumah Sakit yah, Bu," balasnya.
Usai berpamitan, Gibran dan Giselle juga berpamitan dengan Tante Rani. Meminta maaf juga kalau merepotkan. Sebab, Gibran juga sungkan sebenarnya.
"Sudah, tidak apa-apa Gibran. Ibu kamu aman dan baik-baik saja di sini. Kamu fokus menjaga Giselle. Kasihan ibu hamil kalau kecapekan dan banyak pikiran," balas Tante Rani.
"Makasih banyak ya, Tante. Kami pamit dulu, titip Ibu ya Tante."
Setelahnya Gibran dan Giselle masuk ke dalam mobil. Keduanya hendak kembali ke rumah. Walau tetap kepikiran dengan ibunya, tapi berharap dekat dengan adiknya, dengan orang yang cocok dengannya akan membuat Bu Rosa lebih cepat sembuh.
"Mau mampir enggak, Yang?" tawar Gibran.
"Langsung pulang aja, Mas. Agak capek. Tiga hari ini benar-benar bolak-balik ke Rumah Sakit. Nanti bisa istirahat di rumah," balas Giselle.
Yang dikatakan Giselle memang benar. Dalam tiga hari ini, keduanya bolak-balik rumah, kantor, dan Rumah sakit. Sangat lelah. Butuh waktu untuk mengistirahatkan badan. Butuh waktu tidur yang lebih berkualitas.
"Benar, kamu kecapekan banget yah pasti. Makasih Sayang, untuk semuanya," ucap Gibran dengan menautkan satu tangannya di tangan Giselle. Lantas pria itu membawa tangan Giselle, menempatkannya di pahanya.
Jika tidak harus menggunakan dua tangan kala mengemudi, Gibran akan menggenggam tangan Giselle. Namun, jika harus mengganti pedal dan ada tikungan, Gibran membawa tangan Giselle berada di pahanya. Butuh waktu juga untuk membangun kembali kerekatan suami istri usai tiga hari yang sangat melelahkan ini.
__ADS_1