Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Membersihkan Rumah Mertua


__ADS_3

Sementara itu di kediaman Gibran, pasangan yang bangun kesiangan itu saling melempar senyuman. Sepanjang mereka menikah, baru kali ini mereka bangun begitu siang. Sebelumnya pagi keduanya bangun begitu pagi. Semua itu juga karena Gibran yang masih ingin bercinta dengan Giselle sampai dua ronde.


"Kecapekan, Sayang?" tanya Gibran kepada istrinya.


"Capek sih, Mas. Tulangku kalau terlepas deh sendi-sendinya," balas Giselle.


Gibran terkekeh, kemudian dia mulai memeluk Giselle yang kala itu sedang duduk. "Habis, kangen banget. Mana semalam ujan, jadinya suasananya nikmat banget, Sayang."


"Iya, Mas ... tidak apa-apa kok. Asal kamu seneng, aku juga seneng," balas Giselle.


Kemudian Gibran mengusapi puncak kepala istrinya itu. "Kandungan kamu aman enggak, Yang? Aku takut kalau sampai melukainya," balas Gibran.


Gibran memang khawatir dengan kandungan Giselle. Kemarin pun setiap pergerakannya penuh dengan kehati-hatian. Berusaha untuk tidak menyakiti Giselle.


"Dedek bayi tidak apa-apa kok, Mas," balas Giselle.


"Syukurlah, aku takut menyakitinya," balas Gibran.


Kemudian Gibran membawa tangannya dan mengusapi perut Giselle. Dia berharap dedek bayi yang berada di dalam kandungan Giselle tetap sehat. Sebab, Gibran sangat menyayangi babynya dan berharap bisa bertemu ketika waktunya sudah cukup dan genap nanti.


"Semoga Dedek Bayi sehat selalu yah. Papa akan menunggu kamu, sampai hari kelahiranmu nanti. Papa sayang banget sama kamu," ucap Gibran yang tengah melakukan sounding dengan calon baby nya.


"Iya, Papa ... Dedek bayi baik-baik dan selalu sehat," balas Giselle menirukan suara anak kecil.


Kemudian keduanya terkekeh bersama. Rasanya tidak sabar menunggu buah hatinya lahir nanti. Selain itu, juga mengharapkan bahwa kebahagiaan mereka akan semakin lengkap dengan hadirnya bayi mereka nanti.

__ADS_1


"Bulan depan waktu pemeriksaan sudah bisa lihat jenis kelaminnya, Sayang. Kamu pengen cewek atau cowok?" tanya Gibran.


"Sedikasihnya Allah saja, Mas. Cewek atau cowok tidak masalah kok. Mas Gibran maunya apa?" balas Giselle.


"Sama seperti kamu aja sih, sedikasihnya Allah. Kan ya, aku penting punya baby dulu satu. Lain waktu pengen lagi ya program lagi. Yang penting satu saja dulu. Satu saja menunggunya lama. Dua tahun," jawab Gibran.


Sekali lagi memang enak ketika sudah menikah tidak berselang lama segera hamil. Akan tetapi, sangat berbeda cerita ketika harus menunggu dan meminum obat sampai satu tahun penuh. Usaha dan perjuangan Giselle pun perlu diacungi jempol. Dia melakukan diet, olahraga, meminum obat setiap hari untuk bisa mendapatkan keturunan.


"Ya, sudah ... aku mau ke rumahnya Ibu dulu ya, Yang. Kan kemarin Ibu ngasih perintah supaya rumah dibersihkan dan sisa sayuran di lemari es dibuang. Kamu di rumah saja, istirahat. Aku gak akan lama-lama kok," ucap Gibran.


"Aku ikut aja, Mas. Boleh enggak? Kangen gak mau jauh-jauh," Aku Giselle dengan jujur.


Mendengar ucapan Giselle, Gibran justru tertawa. Dia kemudian menganggukkan kepalanya. Senang malahan ketika istrinya ingin ikut dengannya. Oleh karena itu, sekarang keduanya sama-sama keluar dari rumah mereka dan berjalan kaki ke rumah ibunya yang jaraknya hanya beberapa langkah dari rumah.


"Kamu duduk aja, Sayang. Aku akan bersihkan kamar mandi sekalian," kata Gibran kepada istrinya.


"Baiklah, aku duduk di depan rumah aja, ya Mas. Gerah di dalam boleh kan?"


"Tentu boleh, penting jangan jauh-jauh nanti aku bisa bingung kalau aku terlalu jauh," jawab Gibran.


Akhirnya, Gibran membersihkan kamar mandi. Sementara Giselle memilih duduk di kursi kayu yang ada di depan rumah. Sembari merasakan angin yang berhembus sepoi-sepoi, sehingga tidak terlalu gerah. Sebenarnya, rumah mertuanya ini asri. Dengan banyak tanaman yang ditanam dengan Media pot. Akan tetapi, atmosfer di dalam rumah yang panas. Sehingga membuat Giselle tertekan setiap harinya.


Namun, semua sudah berlalu ketika Gibran menunjukkan keseriusannya dan mengambil Kredit Perumahan Rakyat yang tidak jauh dari rumah ibunya. Walau jaraknya hanya beberapa langkah, sudah cukup mendamaikan kehidupan pernikahan mereka yang semula penuh dengan prahara dan konflik batin.


Sembari menunggu suaminya, Giselle menyirami tanaman yang ada di depan rumah. Bagaimana pun supaya tanaman di sana juga menjadi lebih asri. Tidak kering selama ibu mertuanya pergi. Rupanya ketika Giselle menyirami tanaman ada Bu Harti yang lewat dan menyapa Giselle.

__ADS_1


"Teh Giselle ... siram-siram yah?" tanyanya.


"Iya, Bu. Supaya tidak kering, ya walau sebenarnya juga musim hujan sih," balas Giselle.


"Lah, Ibunya di mana? Ibu-ibu dari PKK mau mengunjungi Bu Rosa loh," ucap Bu Harti.


Memang perkumpulan PKK di kediaman Bu Rosa memiliki kegiatan rutin untuk mengunjungi tetangga dalam lingkup satu RT yang sakit. Sehingga, para Ibu PKK juga berniat untuk mengunjungi Bu Rosa juga.


"Ibu untuk seminggu ini pulang ke rumah Tante, Bu. Mau di sana dulu sampai nanti lepas gips," balas Giselle.


Bu Harti menganggukkan kepalanya. Akan tetapi, Bu Harti masih bertanya lagi kepada Giselle. "Kenapa enggak di rumah aja, Teh Giselle? Kan dekat dengan anak dan menantu juga," tanya Bu Harti.


"Kemauan Giselle juga begitu, Bu. Nanti Giselle akan sewa perawat supaya ada yang menjaga Ibu. Namun, Ibu yang tidak mau katanya tidak ada yang menjaga," balasnya.


Sekarang Bu Harti tahu masalah yang sebenarnya kenapa Bu Rosa tak mau di rumah. Padahal menurut Bu Harti sendiri Bu Rosa itu beruntung memiliki anak satu, tapi begitu taat. Memiliki menantu juga sangat baik.


"Itu karena Aa Gibran dan Teh Giselle bekerja. Sebenarnya kalau menyewa perawat tidak apa-apa. Jadi, ada yang menjaga dan memandikan selama tangan masih digips yah. Wah, Teh Giselle ini baik, Ibu saja pengen nanti kalau punya menantu yang cantik dan baik kayak Teh Giselle ini. Punya adik kandung enggak Teh Giselle? Sapa tahu bisa dikenalkan kepada anaknya Ibu, Andi."


"Giselle anak bungsu, Bu. Tidak memiliki adik," jawabnya.


"Intinya yang sabar yah Teh Giselle. Memang orang tua ketika bertambah usia, bertambah tua, nanti akan kembali seperti anak-anak. Anak dan menantunya yang sabar. Nanti kalau Bu Rosa udah pulang, kabar-kabar yah. Biar para ibu PKK bisa menjenguk," ucap Bu Harti.


"Ya, Bu. Terima kasih," balas Giselle.


Usai itu, Bu Harti melanjutkan jalannya kembali ke rumah, sementara Giselle melanjutkan untuk menyirami tanaman. Setidak rumah ibunya sudah bersih. Nanti jika ibu mertuanya sudah akan pulang, Giselle juga berniat untuk membersihkan rumah lagi.

__ADS_1


__ADS_2