
Satu bulan kemudian ....
Dalam satu bulan belakangan, Shandy sebenarnya menaruh curiga kepada istrinya. Semua itu juga karena Amel yang sangat berubah kepadanya. Bahkan sejak satu bulan belakangan, Amel menolak untuk memberikan service terbaik untuknya. Entah itu halangan karena menstruasi dan sebagainya.
Sampai Shandy juga merasa bahwa semakin bertambahnya hari, Direktur istrinya yang bernama Pak Davin itu begitu sering menghubungi Amel. Bukan hanya sekali, tapi sekarang sangat sering pria bernama Davin itu menghubungi istrinya. Sampai Shandy secara perlahan-lahan merasakan ada sesuatu yang tidak benar. Didukung dengan sikap Amel yang berubah, sehingga membuat Shandy begitu geram dan mulai berpikiran yang tidak-tidak.
"Sayang, menurutku apakah dalam satu bulan belakangan ini, kamu terlalu banyak masuk shift malam sih?" tanya Shandy.
Bukan sekadar bertanya, tapi menurut Shandy bahwa istrinya itu sudah lebih dari tiga pekan selalu shift malam. Tidak hanya itu, ketika pagi pulang, istrinya juga terlihat begitu lelah. Sampai Shandy berpikir apa yang sebenarnya dilakukan oleh istrinya itu. Sampai sering shift malam.
"Iya, Aa. Ada karyawan yang baru melahirkan, sehingga dia cuti besar dan harus ada yang menggantikan. Sementara aku dianggap belum hamil dan tidak memiliki bayi, katanya bisa shift malam," balas Amel.
Akan tetapi, jawaban yang diberikan oleh Amel bukan jawaban yang jujur. Melainkan itu hanya sekadar alibi. Semua itu karena malamnya sekarang berganti untuk menghangatkan ranjang direkturnya.
...*** ...
Beberapa pekan yang lalu ....
Kala mendapatkan panggilan telepon dari Pak Davin, ada rasa bersalah dalam diri Amel. Itu juga karena dia sudah merasa bersalah dengan Shandy. Hasratnya tidak ingin menerima panggilan telepon dari Pak Davin, tapi Shandy justru yang menyahut handphone milik Amel merasa Amel harus menemui Direkturnya itu. Bagaimana pun seorang Direktur adalah atasan, sementara Amel hanya staf biasa.
Oleh karena itu, sore harinya Amel pun berangkat bekerja. Tidak ada yang istimewa dari penampilan Amel. Wanita itu hanya mengenakan seragam perhotel miliknya saja. Namun, dia memang berangkat lebih awal, karena diminta untuk menemui Pak Davin ke ruangannya. Maka, Amel menguatkan dirinya sendiri. Dia kemudian menuju ke dalam ruangan direkturnya itu begitu sudah tiba di hotel tempatnya bekerja.
"Permisi Pak Davin," suara Amel dan dibarengi dengan ketukan di pintu sang Direktur itu.
"Ya, masuk," sahut suara dari dalam.
Akhirnya, Amel pun membuka pintu itu perlahan-lahan dan memasuki ruangan sang direktur. Jujur, ini adalah kali pertama bagi Amel untuk memasuki ruangan direktur yang tidak banyak barang, tapi begitu dingin. Mungkin juga karena Pak Davin menyukai dingin, sehingga AC di sana disetel sedemikian rupa sampai ruangannya benar-benar dingin.
__ADS_1
"Kunci pintunya," perintah dari Davin.
Ketika Pak Davin memintanya untuk mengunci pintunya, Amel merasakan sesuatu yang tidak enak. Rasanya, tidak mungkin jika memang ingin menyampaikan sesuatu sampai harus mengunci pintu. Namun, Amel juga tidak membantah. Dia lebih menuruti apa kemauan atasannya itu.
"Apa yang ingin Pak Davin sampaikan?" tanya Amel.
Tidak ada jawaban. Pak Davin menegakkan punggungnya, dia berdiri dan sedikit bersandar di meja, dengan satu tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana panjangnya. Walau tak berbicasra apa pun, Davin mengamati penampilan Amel dari atas sampai ke bawah. Dengan pakaian seragam yang mencetak lekuk tubuhnya, dan rok yang berada di atas lutut. Sungguh, dengan seragam itu di mata Davin justru begitu sexy.
"Sebaiknya segera sampaikan Pak Davin. Waktu saya tidak banyak, usai ini saya harus kembali be ...."
Ucapan Amel terhenti begitu saja, itu karena Davin dengan cepat mengambil langkah dan mulai menyumpal bibir Amel dengan bibirnya sendiri. Astaga, Amel sampai sesak napas karenanya. Bibir Davin benar-benar mengeksplorasi bibirnya, bukan sekadar mencium, menghisap, dan melu-mat, tapi ada gigitan yang Davin berikan di lipatan bibirnya.
"Pak Davin ... tolong, Pak!"
Amel memberontak dan mendorong atasannya lagi kali ini. Tepat seperti peristiwa semalam di mana Amel meronta dan mendorong dada bidang direkturnya itu. Didorong oleh Amel, ciuman Davin pun terurai begitu saja.
Suara pria itu terdengar begitu mengintimidasi. Seakan ada ancaman dalam suaranya. Amel segera menggelengkan kepalanya.
"Tidak ... bukankah saya sudah berkata kepada Pak Davin untuk melupakan semua?"
"Bagaimana bisa aku melupakannya kalau kamu senikmat itu," balas Davin.
Amel lantas beranjak dan hendak keluar dari ruangan direkturnya itu. Sia-sia rasanya memberikan pengertian kepada Davin. Bahkan, Amel berencana untuk resign saja dari pekerjaannya. Namun, ketika Amel berbalik dan hendak keluar dari ruangan sang direktur, ada video yang diputar Davin dari handphonenya. Video pergulatan mereka berdua di ranjang. Dengan suara-suara de-sahan yang tentu Amel tahu bahwa itu suaranya.
"Pak Davin?"
Amel berbalik dan menatap Direkturnya itu. Sangat kesal sekali dengan tingkah Davin. Apakah itu berarti semalam, Davin berusaha untuk merekamnya. Jika iya, kenapa demikian? Lantas, untuk apa?
__ADS_1
"Aku sudah bilang Amelia, dari semalam kamu adalah milikku. Kalau kamu menolakku sekarang, maka video ini akan meluncur kepada suamimu. Setelah itu, aku pastikan bahwa suamimu akan menceraikanmu," ancam Davin dengan tersenyum miring.
"Jangan lakukan itu, Pak," balas Amel.
"Syaratnya mudah. Hangatkan ranjangku, tiap kali aku membutuhkanmu," kata Davin.
"Itu tidak mungkin, aku adalah seorang istri dari seorang pria," balas Amel.
Davin dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Apa bedanya? Bercinta dengan istri orang justru menantang," jawabnya.
Amel menghela napas panjang, kenapa direkturnya itu layaknya pria gila yang justru berburu istri orang untuk ditiduri. Bahkan, kalau Davin mau, dengan uang dan hartanya, dia bisa mendapatkan mojang yang masih single dan tidak menjadi istri seorang pria. Tidak terikat dalam pernikahan.
"Anda gila," balas Amel.
"Ya, memang," sahut Davin dengan cepat.
Mulai saat itu, berawal dari keterpaksaan. Lambat laun, hubungan Amel dan Davin sudah berkembang. Bahkan ruangan direktur yang di dalamnya ada tempat tidurnya itu kerap kali menjadi tempat berpacu untuk menuntaskan hasrat masing-masing. Bukan hanya itu, Davin bukan sekadar menyetubuhi Amel, tapi secara khusus pria itu mengucurkan sejumlah uang ke rekening pribadi Amel. Dalam sebulan ini, sudah belasan juta yang dia transferkan untuk Amel.
...***...
Sekarang ....
"Aku merasa kamu mulai berubah, Sayang ... entah hanya perasaanku saja, atau ini benar adanya?" gumam Shandy dalam hatinya.
Hanya seorang diri di rumah membuat Shandy banyak berpikir. Selain itu, ada aroma parfum pria yang menempel di seragam istrinya. Shandy sangat yakin bahwa parfum itu bukan miliknya. Ada aroma Sandal Wood yang begitu kuat. Itu Shandy dapati kala memasukkan cucian kotor ke dalam mesin cuci.
Toh, aroma parfumnya bukan Sandal Wood. Sehingga, Shandy sangat yakin bahwa parfum maskulin yang mewah itu bukan miliknya. Semakin hari kecurigaannya semakin menjadi. Shandy harus mencari cara untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi dengan istrinya.
__ADS_1