
Pada akhir pekannya, Giselle mendapatkan kabar bahwa temannya dari Singapura akan datang ke Bandung. Untuk itu, Giselle meminta izin kepada suaminya untuk menemui temannya. Sebenarnya, Gibran juga kenal dengan temannya Giselle ini, mereka dulu satu kampus saat di Singapura.
"Mas, hari ini Lana, temenku dulu waktu di Singapura datang ke Bandung. Apakah aku boleh menemuinya?" tanya Giselle.
"Lana yang mana?" tanya Gibran karena dia lupa-lupa ingat. Yang dia ingat sekarang hanya istrinya saja.
"Alana, yang dulu kuliah manajemen juga di Singapura. Dia pulang ke Bandung hanya sepekan. Dia kan kirim pesan ke aku, katanya ingin bertemu," balas Giselle.
Gibran akhirnya menganggukkan kepalanya. "Oke boleh, aku anterin ... sekalian aku ikut yah, Sayang. Gak bisa jauh-jauh dari kamu. Nanti kita sekalian beli perlengkapan untuk si Baby," balas Gibran.
"Kan obrolan cewek, Mas ... enggak kikuk tuh?" balas Giselle.
"Enggak, kan biasa saja. Yang penting kan aku nempelin kamu saja," balas Gibran.
Agaknya memang Gibran sendiri tidak bisa jauh-jauh dari Giselle. Terutama dengan usia kehamilan Giselle yang sudah semakin membesar membuat Gibran harus waspada dan selalu ada untuk istrinya. Sebisa mungkin, Gibran akan berusaha untuk menemani Giselle.
"Bucin deh," balas Giselle.
"Iya, memang ... bucin sama Bumilku yang cantik ini. Gak bisa jauh-jauh. Aku terlalu khawatir sama kamu dan baby girl kita, Sayang," balas Gibran.
"Ya sudah deh, terkesan Mas Gibran saja. Palingan aku dan Lana juga cuma ngobrol saja kok, Mas," balas Giselle.
Akhirnya, Giselle dan Gibran bersiap dengan mengganti pakaian mereka. Selain itu, Giselle juga sedikit berias, supaya wajahnya tidak terlalu pucat. Gibran pun setia menunggu istrinya itu. Tidak menginterupsi sama sekali. Melainkan, Gibran diam-diam tersenyum saja menatap Giselle yang justru semakin mempesona selama kehamilannya.
Setelahnya, mereka menuju ke kafe yang sudah didatangi Lana. Sekadar ingin menyapa temannya itu. Lagian sudah beberapa tahun berlalu, sejak Giselle menyelesaikan S2 di Singapura. Sehingga, ketika ada teman yang datang dan singgah ke Bandung, mereka pun seolah ingin bertemu kangen.
"Sudah datang si Lana?" tanya Gibran.
__ADS_1
"Sudah, Mas. Katanya dia sudah datang, coba kita cari saja ke dalam," balas Giselle.
Akhirnya dua sejoli itu mendatangi kafe itu, dan mengedarkan pandangannya, mencari di mana keberadaan Alana, temannya dari Singapura itu. Dari jarak sekian meter, ada sosok yang melambaikan tangan ke arah Giselle.
"Hei, Selle ... Giselle. Aku di sini," panggil Alana.
"Oh, hai," balas Giselle yang turut melambaikan tangannya dan berjalan ke tempat di mana Alana duduk sekarang.
"Wah, kalian serasi banget sih. Sejak di Singapura sampai sekarang. Kamu hamil, Selle?" tanya Alana yang kala itu memeluk sahabatnya itu.
"Iya, sudah tujuh bulan lebih. Mau launching babynya," balas Giselle.
"Senengnya ... aku turut berbahagia. Halo, Gibran," sapa Alana kepada Gibran, keduanya pun bersalaman.
Kemudian Gibran dan Giselle memesan minuman. Di sana Gibran sudah mewanti-wanti kepada Giselle untuk tidak memesan kopi. Itu karena Bumil diminta untuk mengurangi jumlah kafein yang dia minum setiap harinya.
"Ya, sudah ... manut deh sama Papa," balas Giselle.
Alana yang ada di sana tersenyum mengamati kebersamaan Giselle dan Gibran. Keduanya memang sudah berpacaran saat sama-sama kuliah S2 di Singapura dulu. Bahkan Alana juga tahu bagaimana obesitasnya Giselle dulu. Siapa sangka, sekarang Giselle berubah menjadi sosok yang sangat cantik. Bahkan hamil pun, berat badan Giselle tidak kelihatan gemuk. Biasa saja. Justru makin cantik rasanya.
"Enak yah ada suami ... kan diperhatikan gitu," celetuk Alana tiba-tiba.
"Jangan gitu, kamu kan sudah bersuami juga. Di mana nih? Kok sendirian saja," tanya Giselle kemudian.
Terlibat pembicaraan, akhirnya Alana menceritakan kabar dirinya selama empat tahun terakhir usai lulus dari S2. Wanita cantik, berkulit kuning langsat itu mulai bisa terbuka dengan Giselle.
"Suamiku ada di Bandung kok, Selle," cerita Alana kemudian.
__ADS_1
"Lha, di Bandung ... kamu nikah enggak sama Andrew pacar kamu anak Singapura dulu?" tanya Giselle.
Alana menggelengkan kepalanya dan tertawa ketika Giselle menanyakan itu. "Enggak, aku gak nikah sama Andrew," balasnya.
"Serius? Kalian dulu nempel kayak perangko. Berakhir pekan bersama. Gak nikah akhirnya?" tanya Giselle.
"Iya, gak nikah. Hanya pacaran aja dulu. Terus aku nikah sama orang lain. Pria pilihan Papaku, ya dia cakep sih, kaya juga. Cuma kami, LDM. Sudah satu tahunan ini kami LDM. Aku mengurus butik di Singapura, dan dia bekerja di Bandung. Biasanya, sebulan sekali atau dua kali, dia akan pulang ke Singapura. Namun, beberapa bulan ini dia gak pulang. Makanya, aku tuh ke Bandung. Sapa tahu kan Laki gue nyangkut Mojang Priyangan," cerita Alana.
Wanita itu menceritakan semua dengan jujur. Sambil tertawa. Sebab, pikirnya sudah biasa juga dia bercanda seperti itu dengan Giselle. Sama seperti ketika Giselle tahu bahwa dulu pacarnya adalah Andrew, teman kuliahnya di Singapura.
"Ya, gak lah. Kalau laki kamu setia, ya gak akan berpaling ke lainnya. Gak akan tergoda deh sama Mojang Priyangan," balas Giselle.
"Ah, lelaki zaman sekarang mana bisa dipercaya," sahut Alana.
"Loh, bisa ... gak semua laki-laki kayak begono. Banyak pria yang setia dan perhatian ke istrinya. Ya gak, Mas?" tanya Giselle kemudian kepada suaminya yang sejak tadi diam.
Gibran pun menganggukkan kepalanya. "Benar, Sayang. Banyak juga pria-pria yang setia."
"Ah, kalian itu sweet banget sih. Gak berubah sejak dulu," balas Alana.
Giselle kemudian tertawa. "Ya, kehidupan rumah tangga banyak ceritanya. Setiap chapternya bisa berganti konflik, berbagi kebahagiaan, ada anti klimaksnya. Yang penting kita tokoh utamanya tetap berusaha menutup akhir kisah kita dengan kata. Happily After Ever," balas Giselle.
"Pengennya yah seperti itu, Selle. Aku juga gak tahu sih nanti gimana. Yang penting ketemu laki gue dulu. Kalau macam-macam, gue bikin Bebek Peking," balas Alana yang lagi-lagi tertawa.
Setelahnya, Giselle bertanya ke Alana. "Yang sabar. Kapan kita ke Mall yuk? Sekalian cari perlengkapan si baby yang mau lahiran," ajaknya.
"Boleh, kalau sekarang. Kalian duluan aja yah, aku nanti nyusul. Kayaknya kalau langsung gak bisa deh," balas Alana.
__ADS_1
Di satu sisi, Gibran juga baru saja menerima kabar dari Ibunya yang juga ingin mengikuti belanja untuk bayi. Katanya Bu Rosa juga ingin membelikan sesuatu untuk cucunya. Sehingga, Gibran harus putar balik ke rumah terlebih dahulu untuk menjemput Ibunya dan Tantenya. Sebab, tidak mungkin hanya meninggalkan salah satunya di rumah. Dengan begitu, Giselle dan Alana akan mengatur waktu untuk bertemu lagi nanti. Sebab, masing-masing dari mereka harus menyelesaikan agenda mereka terlebih dahulu.