Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Kontradiktif Seorang Menantu


__ADS_3

Selang dua hari berlalu ....


Rasanya berada di kediaman adik kandungnya bukan keputusan yang baik untuk Bu Rosa. Sebab, di sana memang adiknya memperlakukannya dengan baik. Akan tetapi, Bu Rosa tidak cocok dengan sikap Shandy dan istrinya. Terutama dengan Amel, yang dinilai Bu Rosa sangat tidak sopan.


Sama seperti malam hari itu, kamar Bu Rosa yang ada di samping kamar Shandy dan Amel, hari belum sepenuhnya malam, tapi Bu Rosa sudah mendengar erangan dan de-sahan dari di sebelahnya.


"Oh, enak Aa ...."


"Hm, lagi... hh!"


"Astaga, Beb... luar biasa."


"Oh, manis dan legit."


Di dalam hatinya Bu Rosa benar-benar mengumpat. Malam saja belum ada jam delapan malam, dan di kamar sebelah sepasang suami istri sudah bergulat di atas ranjang dengan mengeluarkan suara-suara yang erotis.


"Astaga. Anak zaman sekarang memang tak tahu diri. Bisa-bisanya bercinta ketika Mamanya saja masih bangun dan sedang mencuci piring dan peralatan makan. Astaghfirullah."


Menuju ke dalam kamar, Bu Rosa benar-benar mengelus dadanya sendiri. Tinggal bersama adiknya justru membuatnya juga makan hati. Kelakuan keponakannya dinilainya tidak beretika. Ketika Rani, adiknya sibuk bersih-bersih, anak dan menantunya justru mengejar kepuasan di atas ranjang.


"Seumur-umur Gibran dan istrinya tinggal denganku, tidak pernah aku mendengar keduanya berde-sah-de-sahan seperti itu. Bahkan Giselle tidak akan naik ke kamarnya, kalau belum mencuci piring," gumam Bu Rosa dengan kesal.


Sekarang, barulah Bu Rosa bisa menilai bahwa apa yang dinilai Giselle itu masih terbilang baik dan beretika. Ada kontradiktif di sini seorang menantu yang semaunya, dengan menantu yang baik seperti Giselle. Sayangnya, di mata mertuanya, kebaikan Giselle selalu dipandang sebelah mata. Ketika jauh seperti ini, barulah Bu Rosa bisa menilai bahwa Giselle masih jauh lebih baik daripada Amel.


Gerah dengan suara-suara yang dia dengar, Bu Rosa kembali keluar dari kamar. Dia menyusul adik kandungnya yang berada di dapur. Hendak menawarkan bantuan. Walau hanya dengan satu tangan, Bu Rosa masih bisa membantu.


"Ran, mana piring yang sudah dicuci? Biar aku bantu. Dengan satu tangan, aku bisa menatanya di rak piring," ucap Bu Rosa.

__ADS_1


"Udah, Teteh istirahat saja. Teteh belum sembuh. Sebaiknya Teteh segera istirahat dan minum obat. Cuma, cucian piring, gak berat, Teh," balas Tante Rani.


Akan tetapi, Bu Rosa menggelengkan kepalanya. Dia ingin membantu adiknya. Sebagai kakak, rasanya kasihan melihat adiknya yang mengurus rumah benar-benar sendiri.


"Sini, udah ... aku saja."


Bu Rosa pun mengambil piring dan menatanya di rak piring. Selain itu, dia juga mengelap kompor gas. Walau hanya dengan satu tangan, selama dia bisa melakukan, tentu Bu Rosa akan melakukannya.


"Aduh, Teh ... malahan repot-repot," balas Tante Rani.


"Gak repot, Ran. Udah biasa sama kerjaan dapur seperti ini," balasnya.


"Seharusnya, Teteh kan istirahat saja. Biar cepat sembuh," balas Tante Rani.


Bu Rosa memilih diam. Sebab, dia memiliki alasan khusus kenapa tidak mau beristirahat di kamar. Berada di dalam kamar, justru membuatnya gerah dan sangat kesal.


Ada senyuman di sudut bibir Tante Rani. Lantas dia berbicara, "Amel sudah capek bekerja, Teh. Biarkan saja," balasnya.


Jawaban yang diberikan Tante Rani cukup menjadi kepastian bahwa memang Amel tidak pernah membantunya. Memakai dalih bekerja dan kecapekan, hingga tidak mau membantu ibu mertuanya.


"Namanya menantu ikut mertua ya harus bantu-bantu mertua," balas Bu Rosa.


Itu adalah prinsip Bu Rosa. Yang namanya menantu dan ikut mertua ya tidak boleh menggenggam tangannya. Harus mau turut membantu kerjaan rumah tangga. Sama seperti Giselle, walau seharian bekerja, Giselle tidak absen membantu kerjaan rumah tangga.


Sekarang, baru Bu Rosa bisa membandingkan Giselle dan Amel. Walau sama-sama menantu, sikap dan tabiatnya benar-benar berbeda.


"Kalau ada yang peka ya bagus, Teh. Kalau tidak ya sudah. Mereka juga sudah capek bekerja. Ketika sudah di rumah pengennya manja-manjaan dengan suami," balasnya.

__ADS_1


Dari jawaban yang diberikan Tante Rani mengindikasikan bahwa kemungkinan besar Tante Rani juga mendengarkan suara-suara seperti itu. Suara percintaan Shandy dan Amel. Sebab, di kamar Bu Rosa saja, suaranya itu benar-benar terdengar. Bukan suara yang lirih.


"Ck, anak muda zaman sekarang," balas Bu Rosa dengan berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kita juga pernah muda, Teh. Ya, aku sih sekarang karena sudah tua, dan sudah berumur berusaha untuk memahami Shandy dan Amel. Lagipula, anakku cuma Shandy. Ketika aku semakin tua nanti, siapa yang akan mengurus aku? Shandy pastinya," jawab Tante Rani.


Bukan hanya kontradiktif seorang menantu. Namun, terlihat juga kontradiktif seorang mertua. Terlihat jika Bu Rosa adalah mertua konservatif dengan pikirannya yang kuno, tidak mau dilawan, dan merasa menang di mana anak dan menantu harus taat kepadanya. Sementara, Tante Rani lebih ke sosok mertuanya yang mau mengalah dan menerima. Tidak mau banyak ribut-ribut di rumah. Walau kakak-adik, sikap dan karakteristik keduanya pun berbeda.


"Anak harus dididik, Ran. Masak iya, membiarkan ibunya cuci-cuci, masak, dan membereskan rumah sendirian. Kita ini Ibu loh, bukan pembantu," balas Bu Rosa.


"Tidak apa-apa, Teh. Selama aku bisa dan sehat, kerjaan rumah biar aku saja yang kerjakan. Memberi kelonggaran untuk Shandy dan Amel yang masih muda," balasnya.


"Giselle walau bekerja, tetap tuh bantuin aku," celetuk Bu Rosa dengan tiba-tiba.


Tante Rani pun tersenyum. Terlihat jelas bahwa Giselle adalah sosok menantu yang baik. Tante Rani bisa melihat bahwa Giselle itu sangat baik, walau orangnya memang pendiam dan lebih banyak mengalah. Di dalam hatinya, justru Tante Rani merasa kakaknya itu beruntung memiliki anak laki-laki sebaik, dan sesantun Gibran. Lalu, juga memiliki menantu yang cantik dan baik seperti Giselle. Kebahagiaan itu akan kian lengkap ketika nanti Giselle akan melahirkan. Bayi yang lucu akan menyempurnakan kebahagiaan kakaknya.


Sementara untuk dirinya sendiri, Tante Rani memilih tidak menargetkan apa-apa. Doanya adalah dia bisa selalu sehat dan diberi umur panjang, supaya bisa mengurus Shandy, Amel, dan rumahnya. Bahkan ketika sudah memiliki cucu nanti, Tante Rani juga siap mengasuh cucunya.


"Sudah selesai, Teteh. Gak kerasa dibantuin sampai selesai," ucap Tante Rani dengan mengalihkan pembicaraan.


"Hmm, iya," balas Bu Rosa.


"Aku antar ke kamar ya, Teh. Nanti aku bisa dimarahin Gibran kalau ibunya kecapekan di sini," balas Tante Rani.


"Gibran mah gak pernah marah, Ran," balas Bu Rosa.


Sekadar memberikan jawaban bahwa memang Gibran, putranya tak pernah marah. Gibran mewarisi kesabaran mendiang suaminya. Selalu berbicara santun dan bersikap sopan.

__ADS_1


__ADS_2