Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Waktu Berdua Saja


__ADS_3

Giselle agaknya mendengar dengan baik-baik, walau kadang juga geli mendengarkan saran dari Kanaya. Namun, Giselle memahami bahwa Kanaya sudah berpengalaman terlebih dahulu. Walau sekarang, cobaan yang dihadapi Kanaya sangat berat, yaitu harus terpisah dari anak kandung yang diculik oleh Kakaknya Giselle sendiri, tapi Kanaya berhasil melewati semua itu.


"Jangan cepat menyerah, Selle. Usaha dan tenang saja. Serta, jangan lupa berdoa. Apa yang manusia tidak bisa memberikan, Allah bisa memberikannya untuk kita," ucap Kanaya.


Seakan Kanaya ingin mengingatkan kepada Giselle untuk tidak menyerah. Manusia bisa mendakwanya mandul dan sebagainya. Namun, ketika nanti Allah memberikannya, air yang semula berasa pahit, akan berubah menjadi manis. Untuk itu, Kanaya mengingatkan Giselle untuk tidak kehilangan harapan.


"Apa kalau ingin memiliki anak, berhubungannya harus intens sih Mbak?" tanya Giselle kepada Kanaya.


"Tidak, karena memang lebih baik menunggu kualitas sper-ma pria. Juga itu tadi, jangan buru-buru buang urine. Aku doakan, segera diberikan oleh Allah yah," ucap Kanaya lagi.


"Amin. Doakan juga ya, Mbak. Aku dan Mas Gibran sudah menginginkan buah hati. Sudah dua tahun, Mbak. Ada kalanya merindukan suara bayi di rumah kami," balas Giselle dengan jujur.


"Pasti ... aku akan selalu mendoakan kamu," balas Kanaya dengan tulus.


Hingga akhirnya, malam tiba. Mungkin karena terbawa suasana, Gibran sekarang menatap Giselle dengan sorot mata yang berbeda. Pria itu melihat Giselle yang lebih cantik malam itu. Entah karena setelah lama keduanya baru menginap lagi di hotel, atau memang Gibran yang sedang berhasrat kepada Giselle.


"Sayang," panggil Gibran dengan lirih kepada istrinya yang sekarang sedang sibuk dengan gadget di tangannya.


Merasa dipanggil oleh suaminya, Giselle pun segera merespons suaminya. "Ya, Mas ... ada apa?" tanya Giselle.


"Kamu dingin enggak?" tanya Gibran dengan ambigu.


Giselle tersenyum. Rasanya aneh. Dua tahun menjadi istri Gibran, mana pernah suaminya itu bertanya seperti itu. Bahkan Gibran pun beberapa kali menghela napas. Seolah pria itu ingin mendekati, tapi juga tengah berusaha untuk menahan diri.


"Enggak begitu dingin tuh, Mas... kenapa? Mas Gibran kedinginan?" tanya Giselle kepada suaminya.


Jika memang Gibran merasa kedinginan, maka Giselle akan menaikan AC supaya di dalam kamar itu menjadi tidak terlalu dingin. Namun, Gibran memilih diam. Sekarang, justru pria itu berjalan mendekat dan menghampiri Giselle duduk di sudut sofa. Dengan hati-hati, Gibran mendekati istrinya itu.


"Kalau memang kamu kedinginan, kita bisa saling menghangatkan, Sayang," ucap Gibran.


Berbicara kehidupan bercinta Giselle dan Gibran selama ini juga biasa saja. Menggebu-gebu pun juga tidak. Hanya saja, memang biasanya saja. Seolah tak ada yang spesial. Mungkin karena kecapekan bekerja, ritme kerja Giselle yang sangat intens, ditambah emosi yang lebih membuat keduanya memilih tidur dan esok bangun lagi untuk kembali beraktivitas. Sehingga, sekarang sekadar mendekati saja rasanya benar-benar begitu sungkan.


Mendengar suara suaminya, Giselle tersenyum perlahan. "Maksudnya Mas Gibran mau?" tanya Giselle.

__ADS_1


Gibran ragu untuk memberikan jawaban. Sebab, membicarakan hal seperti itu juga sangat jarang bagi Gibran dan Giselle. Sampai akhirnya, Gibran menyentuh tangan Giselle perlahan, memberi usapan di punggung tangannya.


"Sayang, selama ini di rumah, karang sekali bukan kita mendapatkan waktu berdua seperti ini. Sekarang, maukah kamu melewati malam ini bersamaku? Aku membayangkan malam pertama kita dua tahun lalu. Bukankah kita juga menginap di malam ini? Maukah kamu untuk merengkuh malam panjang bersamaku?" tanya Gibran perlahan.


Giselle yang sebenarnya hatinya mudah tersentuh pun akhirnya tersenyum. Dia menaruh handphone di sisi meja. Kemudian dia memberikan anggukan kepada suaminya. Lagipula, begitu jarang Gibran memintanya seperti ini.


Mendapatkan lampu hijau dari Giselle, Gibran pun segera membopong Giselle ke tempat tidur. Dulu, Gibran tidak akan kuat membopong Giselle ala bridal style. Akan tetapi, karena sekarang Giselle sudah langsing, membopong Giselle pun bukan menjadi hal yang sulit untuk Gibran. Setelahnya, Gibran berusaha untuk tidak menindih tubuh Giselle, dia menahan bobotnya sendiri dengan siku-siku tangannya.


"Biarkan lampu menyala yah ... selama ini di rumah, kita melakukannya dalam kegelapan," ucap Gibran lagi.


Mengapa ketika di rumahnya harus melakukan dalam kegelapan? Sebab, keluarga Gibran memiliki aturan sendiri bahwa ketika tidur lampu utama di kamar harus dimatikan. Lampu tidurpun sangat remang-remang, seolah tanpa cahaya. Oleh karena itu, sekarang Gibran ingin melakukannya dalam suasana yang terang. Sesekali merasakan suasana baru, dan melepas kebiasaan kala di rumah.


"Hmm, iya," balas Giselle.


Maka, tak ada lagi yang Gibran nunggu. Giselle sudah memberikan kendali penuh atasnya. Maka, Gibran memangkas jarak wajahnya perlahan. Kemudian dia, dengan hati-hati mengecup bibir Giselle. Manis, kenyal, dan hangat. Itu adalah tiga rasa yang seketika menyambut Gibran. Maka, perlahan-lahan, Gibran membuka bibirnya dan ******* bibir Giselle, tidak lembut, tapi nafasnya begitu memburu.


Walau tak terucap, tapi Gibran mengakui sekarang dia begitu berhasrat kepada Giselle. Gibran membawa lidahnya untuk menerobos masuk, memberikan usapan demi usapan, belitan demi belitan di rongga mulut Giselle. Saling memagut, saling mencecap, dalam kesan basah nan menjerat.


"Sayang," suara berat Gibran yang sekarang tak mampu lagi untuk berlama-lama.


Dalam napasnya yang terengah-engah pun Giselle berusaha memberikan balasan. Tangan Giselle bergerak dan meremas helai demi helai rambut suaminya. Giselle kian tak berdaya. Rasanya selama menjadi istrinya Gibran, baru sekarang suaminya itu memiliki hasrat sebesar ini.


Bibir Gibran pun turun dan menjatuhkan kecupan yang hangat dan basah di leher Giselle. Bahkan Gibran membuka sedikit mulutnya dan menggigit leher Giselle, menghisapnya dalam-dalam. Hingga, tercetak tanda merah di leher Giselle.


"Mas ... Gibran ...."


Lenguhan Giselle mana kala merasakan sakit dan perih di lehernya. Namun, rasanya suaminya itu kian bergerak nakal. Bahkan sekarang, Gibran berusaha untuk melepaskan kancing demi kancing di piyama yang dikenakan Giselle. Dalam kegelapan, tentu pandangan mata terbatas. Tidak bisa mengekspos dengan jelas. Namun, sekarang dalam keadaan terang, dia bisa melihat putihnya kulit istrinya. Meraba bagian epidermis kulit yang lembut dan harum itu.


Bak tak sabar, tangan Gibran pun menyusup ke balik punggung Giselle dan melepaskan pengait-pengait besi di sana. Sehingga bulatan indah milik Giselle terpampang nyata. Gibran pun dengan bersemangat mulai mengu-lum bulatan indah milik Giselle yang laksana buah persik. Menghisapnya dalam-dalam, dan memberikan gigitan di puncaknya.


"Oh, Sayang," suara Gibran yang serak dan dalam.


Sementara Giselle tergerak gelisah. Kepalanya terkadang bergerak ke kiri dan ke kanan, dengan mata yang terpejam rapat. Jujur, sejak menikah dengan Gibran, Giselle takut melakukan kontak mata dengan suaminya di saat sedang bercinta seperti ini. Akan tetapi, tiba-tiba Giselle memekik lantaran Gibran menarik puncak bulatan indah miliknya dengan gigi dan mulutnya.

__ADS_1


"Mas Gibran!"


Gibran benar-benar menggila. Tangannya yang lain sibuk meremas buah-buah yang ranum milik istrinya. Seolah memberikan pijitan, dan juga memilin puncaknya. Sungguh, Giselle tak berdaya sekarang. Godaan di area dada yang sudah membakar dirinya.


Hingga Gibran bergerak kian turun. Dia melepaskan busana milik Giselle dan mulai memberikan sapaan dengan lidahnya di lembah yang ada di bawah sana. Tak segan untuk memuaskan hasrat sang istri. Ketika Giselle menggeliat dengan mata yang terpejam, Gibran menyadari betapa cantiknya istrinya itu. Pemandangan yang indah di depan mata. Sampai Gibran tak perlu memperoleh service untuk dirinya. Pria itu melepas sendiri busananya, dan mulai menyatukan dirinya.


Ada hentakan, ada hujaman, ada benturan. Namun, semua itu adalah rasa yang benar-benar indah. Rasa yang hanya mampu mereka nikmati berdua. Berkali-kali menghujam, Gibran pun berpeluh. Hingga beberapa tetes peluhnya berjatuhan dan mengenai Giselle di bawahnya.


"Sayang, lihat aku," pinta Gibran sekarang.


Dengan napas yang terengah-engah, Giselle memberanikan diri untuk membuka mata. Dia melihat sendiri bagaimana Gibran yang sedang bergerak di atasnya. Sungguh, Giselle sangat malu sebelumnya.


"Maaf, untuk semua salah paham yang sering terjadi di antara kita. Namun, kamu harus tahu, Sayang ... aku berhasrat seperti ini hanya kepadamu."


Itu adalah kalimat yang menggetarkan hati Giselle. Wanita itu menganggukkan kepala perlahan, lantas mengangkat wajahnya untuk memberikan kecupan di bibir suaminya.


"Selalu lindungi dan beri rasa nyaman untukku ya Mas ... hanya itu yang kubutuhkan," balas Giselle.


Gibran lantas menganggukkan kepala. Sekarang dia memberikan hujaman begitu dalam. Membuat Giselle nyaris menjerit karena Giselle merasakan pelepasannya. Itu sangat indah, mungkin ini adalah suasana yang indah untuk keduanya. Sensasinya benar-benar berbeda.


Hingga akhirnya, Gibran menggeram dan menggertakkan rahangnya. Seketika, Giselle teringat pesan Kanaya. Dia meminta Gibran menaruh bantal di pan-tatnya.


"Mas ... taruh ini ... di sini."


Tahu dengan maksud istrinya, Gibran pun melakukan apa yang Giselle lain. Hujaman demi hujaman, benturan pun tak bisa dihindari lagi. Bahkan dengan bantal di sana Gibran bisa melakukan hujaman lebih dalam. Namun, sekarang Gibran tak bisa menahan. Dirinya benar-benar meledak. Memenuhi cawan surgawi milik Giselle dengan setiap bagian dirinya yang terperas dan tercurah keluar.


"Sayang ... aku sungguh cinta kamu!"


Gibran mengatakan itu dengan tubuh bergetar dan mata terpejam rapat. Rengkuhan Giselle berikan kepada suaminya itu.


"Aku juga cinta kamu, Mas Gibran!"


Hingga menetralkan deru napasnya, Gibran rubuh di tubuh Giselle dan membisikkan sesuatu kepada Giselle.

__ADS_1


"Semoga kali ini ada benihku yang berenang-renang dan terjadi fertilisasi (pembuahan) ya Sayang. Ini harapanku."


Tidak memberikan jawaban secara langsung, Giselle mengaminkan itu dalam hatinya. Dia juga berharap dari sekitar 300 juta sel sper-ma akan memasuki dirinya. Hingga akhirnya, hanya ratusan sel sper-ma yang akan mencapai tuba falopi, yaitu lokasi di mana sel telur berada. Dari ratusan sper-ma tersebut, hanya ada satu sper-ma yang berhasil bertemu dengan sel telur. Semoga itu akan terjadi. Doa dan harapannya akan dijabah oleh Allah. Amin. 🙏🏻


__ADS_2